Yang memperhatikan wacana dalam studi keilmuan Islam pasti mafhum bahwa studi hadis terpinggirkan dalam peta kajian keislaman kontemporer. Ada banyak faktor yang mengakibatkan bidang ini terpinggirkan, salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan sarjanawan muslim dalam mempupuri kembali wajah kajian hadis.
Studi hadis yang mandek di internal sarjanawan muslim justru tidak simetris dengan yang terjadi di Barat. Di dunia pengkajian Islam di Barat, studi hadis tetap menarik karena terintegrasi dengan pendekatan-pendekatan pengkajian modern di bidang studi sejarah an sich. Oleh karenanya, tak perlu heran jika ahli-ahli hadis muslim kontemporer justru lahir dari disiplin studi hadis di Barat. Sebut saja, misalnya, Fuad Jabali, Kamaruddin Amin, hingga M. M. Azami, yang belakangan diidentifikasi sebagai pembela sunnah (nashir al-sunnah [gelar yang dulu pernah disematkan pada Imam al-Syafi’i]), justru meraih gelar doktor di bidang studi hadis dari Universitas Cambridge, dibawah asuhan orientalis, Arthur John Arberry.




