Mempupuri Wajah Ulumul Hadis

Yang memperhatikan wacana dalam studi keilmuan Islam pasti mafhum bahwa studi hadis terpinggirkan dalam peta kajian keislaman kontemporer. Ada banyak faktor yang mengakibatkan bidang ini terpinggirkan, salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan sarjanawan muslim dalam mempupuri kembali wajah kajian hadis.

Studi hadis yang mandek di internal sarjanawan muslim justru tidak simetris dengan yang terjadi di Barat. Di dunia pengkajian Islam di Barat, studi hadis tetap menarik karena terintegrasi dengan pendekatan-pendekatan pengkajian modern di bidang studi sejarah an sich. Oleh karenanya, tak perlu heran jika ahli-ahli hadis muslim kontemporer justru lahir dari disiplin studi hadis di Barat. Sebut saja, misalnya, Fuad Jabali, Kamaruddin Amin, hingga M. M. Azami, yang belakangan diidentifikasi sebagai pembela sunnah (nashir al-sunnah [gelar yang dulu pernah disematkan pada Imam al-Syafi’i]), justru meraih gelar doktor di bidang studi hadis dari Universitas Cambridge, dibawah asuhan orientalis, Arthur John Arberry.

Klik di sini untuk membaca versi lengkap…

Obrolan Dua Setan

Kepala Badan Intelejen Negara Setan (BINS) baru-baru ini bikin heboh karena mewajibkan anak buahnya mengakses internet. “Kita, para setan, tak boleh kalah canggih dari manusia,” tegas Kepala BINS.

Raja di negeri setan pun langsung menyatakan dukungannya pada kebijakan Kepala BINS. Bahkan, seolah tak mau kalah heboh, Sang Raja mencanangkan pembangunan infrastruktur jaringan internet di negerinya selesai dalam seminggu. “Yang pasti, dalam minggu ini juga, kecepatan koneksi internet di negeri setan akan mencapai ratusan juta terabyte,” kata Sang Raja.

Kini, para pegawai BINS saban waktu mengakses internet. Tidak ada satupun kategori situs yang luput mereka kunjungi. Dan, ketika tengah asyik keluar masuk halaman situs-situs, dua setan yang sedang mengakases internet kontan terpaku pada salah satu judul berita di situs Tempo.co, FPI: Aliran Musik Lady Gaga Penyembah Setan.

Klik di sini untuk membaca versi lengkap…

Justinianus dan Kita

Tak ada yang salah dengan niat Kaisar Bizantium, Justinianus. Sebagai seorang penganut Kristen Ortodoks, wajar jika ia ingin memisahkan ajaran Kristus dari anasir-anasir paganisme. Oleh niat baik ini, ia menutup sekolah tinggi filsafat di Athena, karena dianggap bersimpati pada kaum pagan. Di abad ke-6 M, Justinianus pasti tak mengira bahwa penutupan sekolah tinggi itu akan berdampak buruk bagi peradaban Yunani. Sejak saat itu Yunani tak pernah kembali ke puncak kejayaannya sebagai pion filsafat dan ilmu pengetahuan. Bahkan, saat ini, Yunani nyaris menjadi negara gagal.

Tentu kita tidak menginginkan Indonesia bernasib sama seperti Yunani. Oleh karena itu, momentum perbaikan setelah era reformasi patut terus didukung, di mana salah satu bentuk dukungan itu adalah tanggung jawab serta kepeduliaan kita terhadap proses pendidikan di lembaga pendidikan tinggi untuk mendiskusikan beragam isu tanpa campurtangan negara atau ormas tertentu yang kerap dilindungi aparat pemerintah. Maka ketika seorang kawan mengirim kabar via pesan singkat yang menghebohkan perihal pembatalan diskusi buku Irshad Manji di UGM (9/5/2012) akibat tekanan ormas-ormas tertentu, hati saya langsung tak nyaman.

Klik di sini untuk membaca versi lengkap…

Literasi dan Konflik Sosial

Lewat puisinya, sastrawan Taufiq Ismail mengaku malu menjadi orang Indonesia. Pasalnya, di negeri ini, memang banyak persoalan memalukan. Kekerasan dalam konflik sosial antara sesama anak bangsa adalah salah satunya. Dan, naam, ketika kita bicara perkara konflik sosial di Indonesia, Propinsi Sulawesi Tengah tak pernah luput disebut. Terhadap kenyataan ini, haruslah warga Sulawesi Tengah merasa malu, seperti Taufiq Ismail. Tak punya rasa malu, menurut Nabi Muhammad saw., sama dengan tak punya iman.

Di minggu ini, masyarakat Kota Palu dan Sulawesi Tengah kembali dirundung persoalan konflik sosial laten yang terjadi di Kelurahan Nunu dan Tavanjuka. Konflik ini diidentifikasi telah terjadi sejak tahun 1960-an. Banyak cara telah ditempuh pemerintah, namun konflik belum juga selesai. Oleh kenyataan ini, tak heran jika ada pihak merasa putus asa mencari formula solusi konflik di antara kedua kelurahan tadi. Tetapi, putus asa pun tak baik. Paling tidak, begitu anjuran di dalam al-Quran: tak boleh berputus asa dari kasih sayang Tuhan.

Klik di sini untuk membaca versi lengkap…

Kisah Awal Diponegoro

Judul: Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil

Penulis: Remy Sylado

Penerbit: Tiga Serangkai

Cetakan: I/2007

Tebal: 339 halaman

Ia abadi di antero Indonesia. Di Semarang, salah satu universitas negeri mengidentifikasi diri dengan namanya. Di alun-alun Kota Magelang patungnya berdiri. Dan, meski lahir di Yogyakarta, ia justru dimakamkan di Makassar. Tetapi, itu saja tidak cukup. Di negeri ini, tak banyak yang tahu bahwa Ontowiryo, yang kita kenal lewat gelar Pangeran Diponegoro, meninggalkan banyak keturunan di Tondano, Sulawesi Utara. Keturunan Diponegoro ini telah berbaur budaya dengan masyarakat lokal lantas karib disebut Jaton, yakni akronim Jawa-Tondano. Sebagai tanda pembauran budaya itu, masyarakat Jaton kini menembang macapat justru bukan dalam bahasa Jawa, namun dalam bahasa Toulour. Dari Jaton inilah Remy Sylado menghadirkan kembali kisah Diponegoro lewat fiksi-sejarah.

Dalam kisah Remy disebutlah nama Ratnaningsih, wartawan surat kabar Republik, yang rela datang ke Manado untuk merangkai kisah tentang keturunan di Diponegoro di Tondano. Di sana, di makam Kiai Mojo, Ratnaningsih bertemu dengan seorang kakek yang mengaku masih keturunan Diponegoro. Dari lisan kakek inilah kisah Diponegoro kecil dimulai.

Klik di sini untuk membaca versi lengkap…