Selamat Datang di Ahsanology.com

Saya sempat lupa: kapan pertama kali saya mendaftarkan domain dan menyewa jasa hosting di Masterweb untuk blog ini. Hingga semalam, ketika saya membuka lagi halaman-halaman yang ada, saya sadar: blog ini telah bertahan lebih dari empat tahun dengan tulisan tentang Farish A. Noor sebagai pembukanya. Dengan alasan tertentu, saya tidak lagi menayangkan tulisan tentang Farish di sini. Namun, dan tentu saja, ini tidak mengurangi rasa syukur atas kemampuan yang Ia berikan kepada saya, sehingga blog ini terus bertahan. Alhamdulillah.

Bersamaan dengan rasa syukur itu, saya putuskan untuk memperbarui isi dan tampilan blog ini agar lebih sederhana dari sebelumnya. Meski begitu, dalam pembaruan ini, saya tidak ingin meniru perusahaan-perusahaan besar yang kerap menyematkan nama baru pada tiap pembaruan. Tidak ada versi #1 ke #2 atau KitKat ke Lolipop.

Selamat datang di Ahsanology versi baru, dan terima kasih atas kunjungan Anda.

Ekspedisi Warung Kopi – Kedai Kopi Brun’s di Kota Magelang

Kedai Kopi Brun's
Kedai Kopi Brun’s

Gara-gara membaca profil Franky Angkawijaya dan lembaga kursus baristanya, Esperto Barista Course, yang muat di Harian Kompas (15/2/2015), saya lantas berniat “naik kelas”: dari peminum kopi biasa menjadi orang yang juga mengerti kopi dan cara penyajiannya. Saya pun mulai rutin membaca dan melahap semua jenis informasi tentang kopi. Tentu saja, semua ini saya lakukan sembari terus minum kopi di rumah atau di warung-warung kopi yang saya temui.

Bila sedang berada di Magelang, saya kerap berkunjung ke Kedai Kopi Brun’s. Sebatas yang saya ketahui, inilah warung kopi paling serius di Kota Magelang. Terselip di antara toko-toko di kawasan Pecinan yang menjadi denyut nadi dari kota ini, Brun’s berdiri sejak tahun 2008.

Continue reading Ekspedisi Warung Kopi – Kedai Kopi Brun’s di Kota Magelang

Antara Raisa dan JK: Ragam Interaksi Muslim di Indonesia dengan Alquran (Catatan Juni 2015)

Sumber gambar: nyunyu.com dan wowkeren.com
Sumber gambar: nyunyu.com dan wowkeren.com

Pernyataan saya berikut ini tentu membutuhkan riset lanjutan. Saya sekedar menduga bahwa sepuluh dari sepuluh anak muda negeri ini, yang tinggal di kota dan terbiasa dengan internet, pasti mengenal nama Raisa. Bersama beberapa temannya yang notabene merupakan artis di negeri ini, seperti Tasya Kamila, Gita Gutawa, Afgan, Zivanna Letisha Siregar, dan lain-lain, Raisa ambil bagian dalam proyek religius yang diluncurkan jelang Ramadan tahun ini lewat apa yang mereka sebut dengan Quran Indonesia Project.

Lewat proyek ini, mereka membaca beberapa ayat dan surat beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bacaan itu mereka rekam di sebuah studio musik, lalu diunggah di situs berbagai musik, Soundcloud, dengan tautan yang mereka tempelkan pada Situs Quran Indonesia Project. Dengan demikian, bila Anda bosan mendengarkan suara Raisa menyanyikan Could it be Love, sebagai ganti, Anda bisa mendengarkannya mengaji Ayat al-Kursi.

Continue reading Antara Raisa dan JK: Ragam Interaksi Muslim di Indonesia dengan Alquran (Catatan Juni 2015)

Ragam Artikulasi Alquran di Indonesia (Catatan Kejadian di Bulan Mei 2015)

Sumber gambar: usatoday.com
Sumber gambar: usatoday.com

Shady Hekmat Nasser membuka disertasinya, The Transmission of the Variant Readings of the Qur’an, dari rumor yang berkembang di salah satu perkampungan Muslim-Sunni di Beirut pada tahun 1990-an.

Warga di perkampungan tersebut, tulis Nasser, telah menuduh Syaikh mereka menderita pikun. Dipicu oleh rasa gerah terhadap bacaan Alquran yang ia lantunkan menjelang salat subuh, mereka, para penduduk kampung, menyuruh Sang Syeikh berhenti membaca Alquran lalu mengusirnya keluar dari masjid. Dalam pandangan mereka, Syeikh itu telah menistakan kitab suci Tuhan, karena membaca salah satu kata di dalam surat al-Fatihah dengan huruf zay; bukan dengan shad sebagaimana lazimnya. “Bisakah kau membayangkan bahwa ia membaca ihdina al-zirat al-mustaqim dengan zay! Putri saya yang berusia tiga tahun bahkan bisa membaca al-Fatihah dengan benar,” kata salah seorang di antara penduduk kampung.

Continue reading Ragam Artikulasi Alquran di Indonesia (Catatan Kejadian di Bulan Mei 2015)

Kesan dari SLIMS7 Cendana Stable

TBBM AKC JOGLO SEMARSaya tidak ingat lagi kapan persisnya. Yang pasti, beberapa tahun lalu, saya sempat memasang (install) aplikasi berbasis web, Senayan, untuk katalog online Perpustakaan Mini Nemu Buku (PMNB) di Kota Palu. Sayang sekali, katalog online itu kini tak lagi aktif.

Beberapa tahun berselang, saya kembali memasang Senayan untuk dua perpustakaan dalam satu minggu terakhir ini. Yang pertama, adalah Perpustakaan Universitas Alkhairaat Palu atas permintaan Alfagih Mugaddam dan, yang kedua, Taman Bacaan Bende Mataran milik Anand Krishna Center (AKC) cabang Jogja, Solo, dan Semarang (Joglo Semar) atas permintaan Ahmad Syukri.

Continue reading Kesan dari SLIMS7 Cendana Stable

Tutorial Instalasi Open Journal Systems (OJS) di Hosting Berbayar dengan Fitur cPanel

Logo Open Journal SystemPerlahan namun pasti, internet mengubah wajah dunia akademik. Karena internet, para pengelola jurnal ilmiah kini dituntut mendaringkan terbitannya. Aroma persaingan di bidang publikasi ilmiah pun semakin menggila. Kini, hampir setiap akademisi membuka akses ke tulisannya secara gratis. Seolah-oleh hukum yang berlaku bagi mereka adalah: dikutip atau mati.

Sejak akhir tahun yang lalu, sampai saat tulisan ini saya susun, saya ikut membantu pendaringan dua jurnal dengan Open Journal Systems (OJS) di domain dan jasa hosting berbayar. Lewat tulisan ini, saya bermaksud membagikan kedua pengalaman tersebut, terutama yang berkaitan dengan penyiapan serta instalasi OJS di ruang hosting dengan fasilitas kontrol cPanel.

Continue reading Tutorial Instalasi Open Journal Systems (OJS) di Hosting Berbayar dengan Fitur cPanel

Membaca Realitas dari “Bawah”

Buku - Selfie karya Neni MuhidinJudul Buku: Selfie: Sewindu Catatan dari Palu

Penulis: Neni Muhidin

Halaman: 330 + vi

Penerbit: Nemu Publishing

Tahun: Februari 2015

Majalah Tempo membuka tahun 2015 dengan wawancara bersama Cindy Adams. Di sana kita bisa menemukan bagaimana perempuan Amerika ini terkejut ketika disuguhi fakta bahwa buku autobiografi Sukarno yang ia tulis telah diselewengkan. Konon di edisi lawas buku berjudul Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat terbitan Gunung Agung itu maktub paragraf yang sejatinya tidak pernah ada di dalam edisi asli berbahasa Inggris. Walaupun pelaku penyelewengan ini belum terungkap, tidak bisa disalahkan bila lirik curiga tertuju kepada rezim Orde Baru. Kiranya kita semua mafhum: bahwa penambahan serta pengurangan substansi di dalam suatu karya agar sejalan dengan ideologi penguasa merupakan salah satu tanda rezim despotik.

Continue reading Membaca Realitas dari “Bawah”