Jiang Xueqin merupakan bintang siniar di kancah internasional belakangan ini. Ia rajin menyambangi berbagai kanal Youtube untuk berbicara tentang berbagai isu geopolitik. Uraiannya mendapatkan sambutan meriah dari warganet, khususnya sejak perang Amerika Serikat-Israel versus Iran pecah pada 28 Februari 2026 yang lalu. Salah satu contohnya adalah perbincangan di kanal The Diary of a CEO. Saat saya mengetik tulisan ini, video perbincangan tersebut telah ditonton lebih dari 7 juta kali meski berdurasi lebih dari 2 jam.
Tenar lewat prediksi
Daya tarik Jiang terletak pada kemampuannya dalam membuat prediksi di pentas politik global. Ia ibarat cenayang. Pada 2024, misalnya, ia memprediksi bahwa Donald Trump akan memenangkan pemilu AS. Selain itu, ia menyatakan dengan berani bahwa Trump akan menginvasi Iran. Dua tahun berikutnya, hari ini, kita melihat prediksi-prediksi tadi menjadi kenyataan.
Tidak cukup sampai di situ, dalam obrolannya dengan Mehdi Hasan, Jiang melontarkan prediksi tentang perang Amerika-Israel versus Iran yang akan berlangsung lama, di mana AS akan menggunakan pasukan darat. Walau demikian, bom nuklir tidak akan digunakan. Pada kesempatan yang sama, ia menambahkan bahwa Israel akan menghancurkan Masjid al-Aqsha demi memuluskan rencana pembangunan Kuil Ketiga (Third Temple) bagi umat Yahudi.
Tiga model
Berkat ketajaman analisis prediksinya, meski hanya bergelar sarjana di bidang Sastra Inggris dari Universitas Yale, para penggemar memberikan gelar profesor kepada Jiang. Lantas, apa yang menyebabkannya mampu membuat prediksi-prediksi yang, sejauh ini, akurat?
Kepada Jack Neel, Jiang secara terbuka membeberkan bahwa, dalam merumuskan prediksi, ia mengkombinasikan tiga sumber, antara lain:
1. Teori permainan (game theory). Istilah ini merupakan analogi dari permainan poker. Bagi Jiang, tidak ada pemain poker yang bodoh. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang rasional yang menyusun strategi dan bertindak berdasarkan pandangan dunianya masing-masing. Setiap negara dan bangsa memiliki latar belakang budaya, sejarah, dan sistem politik yang membentuk pandangan mereka tentang dunia. Hal ini turut berlaku dalam geopolitik, di mana setiap kepala negara memiliki world view yang memandu kebijakannya. Di tengah dunia yang terbuka, fleksibel, dan dinamis, kebijakan suatu negara bisa jadi ancaman bagi yang lain.
Meski memungkinkan kita untuk melihat kecenderungan-kecenderung pribadi maupun kelompok dalam dinamika global, bagi Jiang, teori permainan memerlukan bantuan yang berasal dari wawasan masa lalu.
2. Sejarah. Tidak seperti kebanyakan orang yang memahami sejarah sebagai narasi yang terbatas pada masa lampau, Jiang melihat sejarah sebagai sumber yang dapat dimanfaatkan dalam memprediksikan masa depan. Bagaimanapun, sejarah menyediakan catatan tentang pola-pola yang memiliki kemiripan secara langsung atau melalui analogi dengan kejadian hari ini dan akan datang.
3. Eskatologi atau pandangan dan keyakinan tentang bagaimana akhir kehidupan. Menurut Jiang, eskatologi adalah kerangka kerja yang tersembunyi di balik kejadian-kejadian besar di dunia. Setiap agama dan tradisi memiliki konsep eskatologi masing-masing. Dari eskatologi, seseorang dapat menjadi sangat termotivasi untuk bertindak ekstrim sebagai wujud keterlibatan dan pengorbanannya terhadap kehadiran juru selamat di akhir zaman. Perluasan wilayah Israel di Jazirah Arab hingga genosida di Palestina tidak dapat dilepaskan dari konsep eskatologi dalam keyakinan Yahudi.
Itulah tiga sumber acuan Jiang Xueqin dalam membuat prediksi tentang apa yang akan terjadi dalam lingkup global. Dalam skala tertentu, kita bisa menggunakan pendekatan tiga sumber tadi untuk merumuskan prediksi masa depan bangsa ini. World view Presiden Prabowo sebagai “pemain poker”, misalnya, jika dipadukan dengan sejarah bangsa dan konsep Ratu Adil dalam eskatologi Jawa dapat menjadi pintu masuk guna menerawang hari esok Indonesia.

