Tag: Sulawesi

  • Kabupaten Banggai sebagai “Ruang Ketiga”: Merayakan Hibriditas di Usia ke-66

    Kabupaten Banggai sebagai “Ruang Ketiga”: Merayakan Hibriditas di Usia ke-66

    Lanskap politik dan ekonomi di Provinsi Sulawesi Tengah belakangan ini kerap dibayang-bayangi oleh keriuhan di Morowali. Tidak dapat disangkal, mega proyek nikel yang membawa aliran modal asing kerap memicu tabrakan sosial. Kehadiran pekerja serta arus kapital global seringkali memantik friksi di tengah masyarakatnya, hingga menjadikan kabupaten ini seumpama laboratorium konflik industrial yang tak pernah sepi dari perhatian.

    Jika kita menggeser pandangan ke sisi Timur Morowali, niscaya kita menemukan kabupaten yang dapat dianalogikan semisal “raksasa yang sunyi”. Kabupaten itu adalah Banggai. Sejak kilang gas alam cair Donggi-Senoro beroperasi pada 2015, kabupaten yang merayakan ulang tahun ke-66 pada bulan Juli ini telah bermetamorfosis menjadi episentrum energi global. Berkat nilai investasi yang gigantik, postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Banggai konsisten di atas 2 triliun. Berbeda dengan tetangganya, guncangan kapitalisme global di Banggai terserap dengan elegan. Transformasi pesat akibat modernisasi yang didorong oleh arus modal tidak serta-merta memicu segregasi sosial dan konflik horizontal yang akut.

    Lantas apa yang menyebabkan Kabupaten Banggai mampu mengelola arus besar investasi multinasional tanpa kehilangan kohesi sosialnya? Jawabannya tidak terletak pada angka-angka ekonomi, melainkan pada akar sejarah identitas kebudayaan Banggai itu sendiri.

    “Ruang Ketiga”

    Dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah, Banggai sesungguhnya merupakan manifestasi dari apa yang disebut oleh pemikir poskolonial, Homi K. Bhabha, dengan ruang ketiga (third space). Lewat term teknikal ini, Bhabha menekankan bahwa tidak ada identitas yang murni. Sebaliknya, identitas merupakan pengertian tentang diri yang terus didefinisikan oleh masyarakat sebagai hasil dari proses benturan, negosiasi, dan persilangan antar peradaban yang terjadi di ruang ketiga hingga melahirkan suatu bentuk budaya hibrida.

    Sebelum adanya pemahaman tentang kultur yang lahir dari hibridisasi, budaya kerap dilihat dari kacamata esensialisme. Aliran ini terpaku pada klaim-klaim keaslian dan kemurnian. Celakanya, identitas yang dipahami secara kaku justru tidak produktif ketika komunitas lokal dipertemukan dengan “yang lain”, di mana kehadirannya di suatu wilayah seringkali didorong oleh mesin korporasi. Bagi komunitas yang percaya pada identitas versi esensialis, pihak “yang lain” merupakan ancaman. Konsekuensinya, interaksi dengan kelompok sosial lain dapat menimbulkan resistensi serta konflik terbuka.

    Alih-alih terjebak dalam esensialisme, sejarah memperlihatkan bahwa kelenturan kultural Banggai sejatinya bukan perkara baru. Paling kurang, sumber-sumber Cina bertarikh 1304 M. telah mencatat keberadaan Banggai di dalam jaringan perdagangan maritim internasional. Masih pada abad keempat belas, Kakawin Nagara-Ketagama karya Mpu Prapanca ikut menyinggung Banggai.

    Pencantuman Banggai di dalam dua sumber historis itu tidak lepas dari signifikansinya sebagai penghasil bijih besi. Di luar keris Majapahit yang terbuat dari bijih besi dan nikel Banggai, Anthony Reid turut menyinggung bahwa parang, kapak, dan pisau yang digunakan di daerah-daerah eksportir rempah di Kepulauan Maluku menggunakan bahan baku dari Banggai.

    Di luar Cina dan dua imperium besar di Nusantara (Majapahit dan Ternate), Banggai juga berinteraksi dengan kolonialisme Eropa sejak abad keenam belas hingga awal abad kedua puluh. Biarawan Spanyol, Andrés Urdaneta, tiba di Banggai pada 1532. Tiga dekade kemudian, salah seorang putra Raja Banggai diketahui pernah didekati agar memeluk agama Kristen.

    Memasuki abad berikutnya, Banggai bersinggungan dengan kebudayaan Bugis yang berkembang menjadi kekuatan baru di bagian Timur Indonesia pasca Perjanjian Bongaya. Praktis, sejak saat itu hingga paruh pertama abad kedua puluh, Banggai berkelindan di antara tiga kekuatan yang saling memperebutkan pengaruh di wilayahnya, yakni Ternate, Bugis, dan Hindia Belanda.

    Ketika industri sabun dan margarin di dunia tumbuh pada penghujung abad kesembilan belas, Banggai tampil sebagai salah satu daerah utama penyedia bahan bakunya. Pada periode yang disebut oleh Christiaan G. Heersink dengan era emas hijau ini pemerintah Hindia Belanda membangun infrastruktur jalan, jembatan, pergudangan, pelabuhan, dan gedung kepabeanan secara masif di pesisir lengan Pulau Sulawesi guna mendukung rantai distribusi kopra. Sisa-sisa perkebunan kelapa dari era kolonial itu masih dapat kita temukan hari ini. Agribisnis kelapa di Banggai menarik para pendatang dari beragam latar belakang etnis untuk ikut di dalam dinamika ekonomi kopra. Dan, sekali lagi, orang Banggai berinteraksi dengan kebudayaan di luar diri mereka.

    Tidak berhenti sampai di situ, agilitas kebudayaan Banggai kembali diuji ketika gelombang transmigran dari Jawa, Bali, dan Lombok tiba pada abad kedua puluh dan diperkenankan untuk membuka lahan pertanian di berbagai lokasi yang ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia (RI). Di hadapan keberagaman yang baru hadir tersebut, orang Banggai tidak kehilangan kreativitas dalam memahami diri mereka di tengah perjumpaan dengan budaya yang lain.

    Merawat Mentalitas

    Berkat kemampuan menyerap elemen-elemen baru sembari memelihara tradisi lokal, tidak berlebihan jika identitas kebudayaan Banggai dilihat sebagai perwujudan konsep kultur hibrida yang bertolak belakang dengan doktrin esensialisme. Ketika banyak daerah di Tanah Air lupa pada kapasitas adaptifnya dan terbata-bata di hadapan modernitas, warga Banggai mampu merawat mentalitasnya untuk terus hidup di tengah zaman yang bergerak.

    Kehadiran industri gas alam cair Donggi-Senoro seumpama pengulangan dalam bentuk yang berbeda dari lingkaran historis tentang kontribusi global Banggai pada satu abad yang lalu. Untuk kesekian kalinya, kelenturan identitas Banggai yang lahir dari hibriditas di ruang ketiga mengalami reproduksi. Boleh jadi akan terus seperti itu hingga di titik perjumpaan antar budaya pada lembaran sejarah berikutnya.

    Tulisan ini terbit pertama kali di Harian Mercusuar (13 Juli 2026).

  • Perkara Naratif Sejarah Imam Sya’ban

    Perkara Naratif Sejarah Imam Sya’ban

    Film arahan Eldiansyah Ancha Latief itu menampilkan empat narasumber. Dua di antaranya akademisi, sementara sisanya budayawan lokal. Meski berbeda latar belakang, secara garis besar, mereka bercerita tentang satu hal yang sama: temuan-temuan di Kabupaten Banggai Kepulauan yang mengarah pada sejarah Islam di Provinsi Sulawesi Tengah yang diklaim jauh lebih tua dari yang umum diketahui oleh masyarakat.

    Biasanya, masyarakat akan menyinggung nama Datokarama ketika berdiskusi tentang awal kedatangan Islam di provinsi ini. Walau waktu kedatangannya terbuka untuk kita perdebatkan, Datokarama disebut berasal dari Minangkabau dan tiba di Sulawesi Tengah pada awal abad ketujuh belas.

    Syahdan, belakangan ini, warga di Sulawesi Tengah disuguhi narasi sejarah yang terpaut jauh sebelum Datokarama. Jauh lebih tua. Itulah yang dapat kita temukan lewat film Imam Sya’ban. Nama yang juga dijadikan judul film tadi disebut sudah tiba, menyebarkan Islam, dan wafat di Banggai Kepulauan pada abad kedua Hijriah. Berjarak delapan ratus tahun lebih dari Datokarama.

    Pemerhati sejarah dan peradaban Islam sudah pasti tercengang oleh klaim tentang Imam Sya’ban tadi. Bayangkan saja, ketika buku-buku sejarah menyebut bahwa peradaban Islam masih berada pada fase formatif di Jazirah Arab, Imam Sya’ban telah wafat di Banggai Kepulauan pada 168 Hijriah atau 785 Masehi. Padahal, di kisaran tahun tersebut, Dinasti Abbasiyah baru berkuasa di Bagdad. Di saat yang sama, Imam al-Syafi’i, pencetus mazhab Syafi’iyyah, baru berusia 18 tahun. Imam al-Bukhari, penyusun kitab kompilasi hadis-hadis paling sahih, bahkan belum lahir. Lalu siapa sejatinya sosok Imam Sya’ban yang sudah berkelana hingga ke Banggai Kepulauan?

    Sayangnya, belum ada informasi lebih jauh yang menjelaskan profil Imam Sya’ban serta bagaimana perannya dalam proses islamisasi setempat. Para narasumber di dalam film Imam Sya’ban tidak mengutip satupun teks-teks tarikh dari abad-abad awal Islam. Kisah sejarah Imam Sya’ban yang disuguhkan kepada kita hanya bersumber dari angka pada nisan yang diberi bumbu tradisi lisan. Segera, kita akan mendiskusikan sumber tersebut.

    Angka Tahun Nisan

    Nisan Imam Sya’ban sejatinya tidak sekedar memuat angka-angka Arab. Ada keterangan berbahasa Melayu yang ditulis dalam aksara Arab dengan pola tak beraturan. Oleh para ahli filologi, jenis tulisan itu disebut Jawi Script. Sesuai konteksnya, sumber-sumber Arab dari Abad Pertengahan menyebut Kepulauan Nusantara dengan Jawi. Mereka, para ahli itu, juga sepakat bahwa jenis tulisan ini populer di Kepulauan Nusantara pada 702 Hijriah berdasarkan Prasasti Terengganu.

    Tarikh168 Hijriah yang diklaim sebagai waktu wafat Imam Sya’ban jelas bertolak belakang dengan sejarah jenis tulisan yang digunakan pada nisannya. Selain fakta itu, masih ada fakta lain yang turut memperlihatkan kontradiksi. Fakta yang dimaksud adalah himbauan agar peziarah membacakan doa tahlil.

    Dalam sejarah tradisi Islam, pembacaan doa tahlil tercipta pada abad kedua belas Hijriah berkat inisiatif dua ulama sufi, yakni Sayyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad (w. 1132 H./1720 M.) dan Sayyid Ja’far al-Barzanji (w. 1177 H./1776 M.). Bila Imam Sya’ban disebut wafat pada abad kedua Hijriah, bagaimana mungkin kata tahlil bisa tertulis pada nisannya?

    Pendukung narasi tentang Imam Sya’ban yang wafat di abad kedua Hijriah bisa saja berkelit dengan dalih bahwa yang bersangkutan lebih dulu meninggal sementara nisannya ditulis belakangan. Hanya saja, bila diperhatikan dengan seksama, angka-angka pada nisan tersebut sesungguhnya bukan 168 melainkan 1268. Konversi ke dalam sistem kalender Gregorian menunjukkan 1268 Hijriah setara 1852 Masehi. Dengan demikian, Imam Sya’ban sejatinya wafat pada abad ketiga belas Hijriah atau sembilan belas Masehi.

    Menjadi yang Utama

    Tidak dapat dipungkiri, temuan arkeologi menunjukkan bahwa daerah Barus di Provinsi Sumatera Utara telah terhubung dengan Jazirah Arab sebelum kehadiran Islam. Pada waktu itu, kamper atau kapur barus merupakan komoditas internasional berkat salah satu fungsinya sebagai bahan pengawet jenazah.

    Sejalan dengan itu, bisa dipahami jika Hamka menafsirkan maksud kata kafura (al-Qur’an surat al-Insan ayat kelima) dengan bahan kamper yang berasal dari Barus.

    Hanya saja, temuan Islam di Barus tidak otomatis berarti kita boleh menyatakan bahwa daerah lain di Kepulauan Nusantara, seperti Banggai Kepulauan, telah bersentuhan dengan Islam pada interval waktu yang sama atau berdekatan. Ada dimensi kepatuhan metodologi serta moralitas akademik yang perlu dipegang sebelum suatu naratif sejarah diumumkan ke publik.

    Sejak Charles Darwin menerbitkan The Origin of Species pada 1859, banyak pihak yang ikut-ikutan terobsesi pada penelitian tentang asal-usul. Belakangan, Edward Said mencemooh model penelitian tersebut karena sarat dengan agenda orientalisme yang berjalan seiring dengan kolonialisme. Salah satu agenda orientalisme adalah mencari pembenaran bagi klaim keunggulan terhadap pihak yang lain berdasarkan asal-usul.

    Sadar akan agenda di balik orientalisme, kini para pengkaji Islam meninggalkan diskusi asal-usul. Yang amat disayangkan, diskusi tentang Islam di Sulawesi Tengah justru belum beranjak dari model berpikir warisan kolonial tadi, di mana hal ini jelas terlihat lewat suara-suara tentang sejarah Imam Sya’ban.

    Tidak ada argumentasi ilmiah untuk terus terpaku pada isu asal-usul, terlebih jika itu dilatarbelakangi oleh obsesi demi meraih klaim keunggulan diri ketimbang yang lain. Toh, doktrin Islam jelas mengajarkan: menjadi yang utama lebih penting ketimbang yang pertama.

    *Esai ini merupakan apresiasi terhadap film Imam Sya’ban yang berdurasi 18 menit. Film tersebut diproduksi oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah dan Halaman Belakang Films tahun 2023 di bawah arahan sutradara Eldiansyah Ancha Latief

    (Tulisan ini terbit di Harian Mercusuar [5 Maret 2024])