Ini kisah tentang sahabat saya. Alumni Jurusan Tafsir Hadis, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ia berasal dari Makassar. Anak Anre Gurutta di sana. Almarhum ayahnya adalah alumni Universitas Al-Azhar. Otomatis, sejak belajar berdiri dan berjalan, sahabat saya itu biasa bermain dengan kitab kuning. Ia sendiri alumni Pesatren Mangkoso, salah satu pesantren tradisional yang mayshur di Sulawesi Selatan.

Latar belakang pendidikan agama sejak lingkungan keluarga ternyata tidak membuat ia memilih jalan hidup sebagai dai. Hari ini, tidak ada “pemain” kaos distro dan konveksi di Yogyakarta yang tidak mengetahui rumah produksi Ugis T-shirt. Pemiliknya, ya, sahabat saya itu.

Darinya, saya pernah belajar ilmu sablon kaos ketika menjadi “pegawai” di Ugis T-shirt. Di luar urusan sablon, tentu saja banyak hal lain yang saya pelajari. Ketika sedang berada di Yogyakarta, mampir di Ugis T-shit selalu menyuguhkan sensasi tersendiri lewat segelas kopi, gitar akustik Yamaha CPX600, dan obrolan tentang hidup yang sederhana.

Alhamdulillah, walau banyak bisnis bernasib suram di masa pademi Covid-19, usaha sahabat saya itu masih berjalan. Tidak dapat dipungkiri, resesi ekonomi kali ini turut berdampak pada arus kas usahanya. Tetapi ia belum sampai merumahkan karyawan, sebagaimana yang kini lazim terjadi dan dapat kita baca di banyak media.

Baca juga: Rindu di Awan

Bagaimana ia bisa bertahan dari gempuran resesi akibat pandemi? Jawabannya, Facebook. Ketika orang kebanyakan mengunggah status tidak penting di medsos milik Mark Zuckerberg, sahabat saya itu tidak terbawa arus. Alih-alih menulis status “sakit perut, kebelet iik, lalu menceret”, sejak awal berbisnis, isi kolom statusnya adalah iklan usahanya.

Di luar itu, ia juga rutin beriklan lewat layanan Facebook Ads. Memang, anggaran iklannya belum sebesar Sultan Bantul, Yoyok Rubiantono, yang sanggup menghabiskan 1 miliar per hari demi berdagang panci hingga ke mancanegara. Toh, anggaran iklan ratusan ribu milik sahabat saya sudah cukup menjaga dapurnya dan juga dapur karyawannya tetap berasap di musim pagebluk.

Begitulah secuil kisah tentang upaya sahabat saya yang berdarah Bugis itu bertahan di masa pandemi yang membuat dunia gonjang-ganjing.

Dalam perjalanan pulang dari rumah salah seorang guru besar UIN Alauddin Makassar, kepada kolega yang menemani, saya mengungkapkan keheranan: bagaimana bisa seorang profesor pemikiran Islam, di saat yang sama, memiliki usaha angkutan alat berat.

Dengan nada bercanda, ia menimpali, “Tak usah heran. Seperti Arab, orang Bugis berdagang sejak di perut ibunya.”

Ngomong-ngomong tentang Bugis dan Arab, sebenarnya hubungan mereka lebih dari soal dagang. Kolaborasi dua etnis ini bahkan sanggup mendirikan kesultanan di Kalimantan Barat. Tabik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here