Presiden Sukarno (Sumber foto: alinea.id)

Delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) pulang dari Belanda pada 1951 dengan tangan hampa.

Upaya tim lobi yang diketuai oleh Dr. Johannes Leimena itu belum berhasil memperjuangkan kedaulatan Irian Barat. Mereka memutuskan untuk menutup dialog secara sepihak lalu bergegas pulang ke Indonesia.

Setiba di Tanah Air, mereka memaparkan hasil tersebut kepada Perdana Menteri, Mohammad Natsir. Bersama nama terakhir, mereka lantas menghadap Presiden Sukarno di Istana Merdeka.

Seperti yang disebutkan oleh salah seorang anggota delegasi, Hamid Algadri, Sukarno menaruh minat besar terhadap isu Irian Barat. Wajar bila Sukarno kecewa setelah mendengarkan laporan perihal kegagalan tim delegasi tersebut.

Pada momen itu, Natsir yang digambarkan sebagai pribadi penyabar terlibat debat dengan Sukarno yang meledak-ledak. Menurut Algadri, perdebatan tersebut cukup panas namun berakhir dramatis.

Kepada Sukarno, Natsir mengajukan argumen dengan berpegang pada sistem tata negara berdasarkan Undang-Undang Sementara, di mana tanggung jawab politik terletak pada pundak Perdana Menteri.

Mendengar pernyataan tersebut, Sukarno tertegun. Setelah jeda sejenak, ia lantas tersenyum, mengaku khilaf, dan membenarkan argumen Natsir.

Sebelum bubar, Sukarno mengajak para tamunya untuk menikmati lukisan-lukisan di Istana Merdeka.

Pembaca biografi Sukarno kiranya tahu betul bahwa salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia ini memiliki kemampuan sangat baik dalam mengapresiasi karya seni.

Dalam buku Suka-Duka Masa Revolusi, Algadri mengisahkan dengan detail bagaimana Sukarno mengajaknya ke salah satu ruangan. Di sana terpampang satu lukisan yang cukup besar.

Kepadanya, Sukarno berpesan, “Bung Hamid, nikmatilah keindahan ini.”

Keindahan yang dimaksud oleh Sukarno adalah lukisan seorang perempuan cantik yang diberi judul “Gadis Arab”.

Tidak disebutkan bagaimana hingga karya salah seorang maestro seni lukis potret di Indonesia, Basoeki Abdullah, terpajang di salah satu dinding Istana.

Digital Archieve of Indonesian Contemporary Art menaruh keterangan bahwa Basoeki menciptakan “Gadis Arab” pada 1950. Satu tahun sebelum kepulangan delegasi KMB.

Tidak disebutkan pula dari mana inspirasi Basoeki merekonstruksi imajinasinya tentang perempuan Arab hingga menciptakan lukisan seperti yang tampak di sini.

Perempuan Arab yang tampil pada lukisan tersebut jelas jauh dari imajinasi kebanyakan masyarakat Indonesia hari ini. Perempuan Arab dalam lukisan itu duduk di atas permadani, bergaun dengan bagian dada terbuka, berkerudung, namun bukan hijab.

Sekilas, “Gadis Arab” karya Basoeki memang tampak mengada-ada. Tetapi tidak demikian bila kita menonton klip lagu dari Yara berjudul Ma Baaref di Youtube.

Dari klip lagu tadi kiranya pembaca yang budiman mafhum bahwa Basoeki benar: tidak semua perempuan Arab berhijab. Dan Sukarno menyebut itu keindahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here