Tahun lalu adalah penanda satu dekade bagi saya mengajar di IAIN Palu. Sejak saat itu, hingga hari ini, saya dibebastugaskan dari kewajiban mengajar untuk sementara waktu. Entah sampai beberapa tahun ke depan. Ketika Covid-19 tiba dan memaksa tatap muka di kelas berpindah dari luring ke daring, tiba-tiba, saya merindukan kewajiban tadi.

Saya membayangkan hari dan malam yang penuh dengan ujicoba beragam piranti lunak pembelajaran daring. Sayang sekali, saya tidak punya cukup alasan melakukan itu. Saya tidak sedang mengajar. Dan tidak ada mahasiswa yang perlu diajak untuk berjalan seiring.

Sebagai orang yang hobinya mengutak-atik teknologi, baik piranti keras maupun lunak, bagi saya, Covid-19 adalah momentum paling tepat untuk “memaksakan” peralihan. Naam, manusia tidak mudah berubah. Bahkan bagi mereka yang termasuk generasi Z. Jangankan melihat dunia tanpa kotak (no box), melihat realitas di luar zona nyaman saja sudah tak sanggup. Untuk itu, atas dasar kebaikan, pemaksaan seringkali diperlukan.

Teknologi 5G sudah berdiri di halaman rumah kita. Sebentar lagi, suka tidak suka, ia akan masuk ke dalam rumah kita. Ke dalam kehidupan kita. Hanya soal waktu. Kita akan dihadapkan dengan keterhubungan yang diklaim sepuluh kali lipat lebih cepat dari yang ada saat ini. Dunia pun berubah, pindah ke “awan”. Serba cloud. Kita tidak lagi butuh memasang aplikasi MS Office di hardisk laptop. Dengan kecepatan tinggi, kita bisa mengerjakan tugas-tugas komputasi di… awan. Di dalam ekosistem virtual.

Inilah saatnya untuk mulai membiasakan diri dengan perubahan yang ada di depan kita. Terlepas Anda suka atau tidak pada teorinya tentang asal-usul manusia dari kera, perkataan Charles Darwin ini mungkin perlu kita renungkan, “Ini bukan perkara spesies terkuat yang bertahan; bukan yang paling pintar yang bertahan. Ini tentang yang paling adaptif pada perubahan.”

Ketika para kolega di seberang lautan sana berdebat soal kapan dan bagaimana agar segera kembali mengajar di kelas dengan protokol kenormalan baru, sejujurnya, saya merasa anu. Astaga, saya lupa. Kenormalan baru bagi kita sekedar pakai masker dan rajin cuci tangan. Baiklah. Tabik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here