Alquran Bone (Sumber gambar: researchgate.net)

Alquran adalah bacaan bagi umat Islam. Di sisi yang lain, Alquran juga merupakan media bagi masyarakat Muslim dalam berkesenian.

Sebagai bagian dari kreatifitas manusia, kesenian tulis-menulis Alquran memiliki ciri khas pada masing-masing wilayah, termasuk di Nusantara.

Dalam artikel berjudul The Boné Qur’an from South Sulawesi, Annabel Teh Gallop, Kepala Kurator bidang Asia Tenggara di British Library, membagikan pemahamannya dari sudut pandang seni dan sejarah tentang ciri khas dari manuskrip Alquran milik Kerajaan Bone.

Artikel Gallop tersebut dimulai dari paparan singkat tentang sejarah Islam di Sulawesi Selatan, asal-usul manuskrip Alquran Bone, serta sejumlah ciri khasnya.

Pada bagian yang terakhir, Gallop tidak lupa melakukan sedikit perbandingan gaya seni antara tulisan Alquran Bone dengan Alquran Kedah dan Ternate.

Sejarah Islam di Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang didominasi oleh etnis Bugis dan Makassar.

Kerajaan-kerajaan di provinsi ini diketahui memeluk Islam pada tahun 1605 berkat dakwah yang dilakukan oleh para ulama yang berasal dari Minangkabau.

Sepanjang abad ketujuh belas, Sulawesi Selatan berperan sebagai kota pelabuhan yang dilalui oleh kapal-kapal dagang dengan rute internasional.

Selain menjadi tuan rumah bagi pedagang-pedagang Muslim, Makasssar merupakan kota pelabuhan yang terbuka bagi pedagang Portugis, Inggris, dan pedagang Eropa lainnya.

Kerajaan Makassar kemudian ditaklukkan oleh Perusahaan Dagang Hindia Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie [VOC]) pada 1669 setelah bekerjasama dengan Kerajaan Bugis Bone.

Pasca penaklukan tersebut, orang-orang Bugis dan Makassar bermigrasi ke berbagai kepulauan di Nusantara. Sejumlah pangeran dari Kerajaan Makassar diketahui bermigrasi ke Sumatera bagian Selatan, Banten, dan pesisir Barat Pulau Jawa.

Beberapa di antara mereka berhasil mendapatkan tempat terhormat di dalam lingkungan kerajaan-kejaraan Melayu, seperti di Kerajaan Johor, Riau, dan Pontianak.

Bagi Gallop, migrasi orang-orang Bugis dan Makassar ke berbagai wilayah di Kepulauan Nusantara tadi ikut memberikan pengaruh pada ciri khas seni geometri yang tertuang dalam manuskrip Alquran yang mereka ciptakan.

Penulisan Alquran Bone

Manuskrip yang diteliti oleh Gallop adalah Alquran Bone yang terdapat di Museum Aga Khan.

Tidak disebutkan bagaimana Alquran Bone bisa sampai dan tersimpan kini di musem tersebut.

Bagi Gallop, Alquran Bone memiliki nilai penting karena dalam kondisi yang baik disertai keterangan penulis, tempat, dan waktu penyalinan naskah yang jelas.

Penulisnya adalah Isma’il bin ‘Abd Allah di Kota Laiyka. Menurut Gallop, Laiyka yang dimaksud pada naskah tersebut kemungkinan adalah Laikang di Kabupaten Jeneponto.

Bagian kolofon juga menyebutkan bawah naskah selesai ditulis pada 25 Ramadan 1219 yang setara dengan 28 Desember 1804 di masa kekuasaan Sultan Ahmad al-Shalih Syams al-Millah wa al-Din di Kerajaan Bone. Sultan Ahmad berkuasa sejak 1775 hingga 1812.

Ciri Khas Alquran Bone

Alquran Bone yang berada di Museum Aga Khan terdiri dari satu set dengan tebal 529 folio. Setiap lembarnya berukuran 34.5 x 21 cm dan berjilid kulit.

Dalam pengamatan Gallop, jilid kulit tersebut berciri produksi Eropa. Demikian juga dengan kertasnya yang berasal dari Belanda.

Teks tulisan Arab pada Alquran Bone ditulis dengan tinta hitam lengkap dengan tanda baca atau harakat bertinta merah dan biru. Bagian samping tiap halamannya dibubuhi ornamen dan anotasi tekstual warna-warni.

Salah satu yang menarik sekaligus membedakan naskah Alquran Bone dengan naskah-naskah sejenis lainnya di dunia Muslim dan di Nusantara pada khususnya adalah pengelompokan yang disertai penanda pada tiap bagiannya.

Sejak abad kesepuluh, Alquran di dunia Islam pada umumnya dikelompokkan ke dalam beberapa bagian berdasarkan kriteria.

Tidak jarang, beberapa di antaranya terbagi ke dalam tiga puluh bagian sesuai dengan jumlah juz di dalamnya sekaligus untuk memudahkan pembaca pada bulan Ramadan.

Di Asia Tenggara, Alquran diproduksi dalam satu set mushaf utuh. Demikian juga dengan Alquran Bone.

Yang menarik dari Alquran Bone adalah bagian-bagian Alquran, seperti juz, hizb, dan ruku’, yang ditandai dengan ornamen-ornamen seni yang membedakannya dengan naskah-naskah mushaf yang muncul di Nusantara pada abad kedelapan belas dan sesudahnya.

Ciri-ciri khas Alquran Bone yang dikedepankan oleh Gallop, di antaranya, ornamen bingkai dekoratif berwarna pada bagian depan Alquran yang tampak membungkus Surat al-Fatihah, pembuka Surat al-Baqarah, dan awal Surat al-Kahfi.

Selain ornamen bingkai tadi, ciri artistik yang lain dari Alquran Bone adalah ornamen-ornamen yang digunakan untuk membagi bagian-bagian Alquran itu sendiri.

Meskipun terdiri dari tiga puluh juz, penulis Alquran Bone menempatkan ornamen pada tengah yang berfungsi sebagai penada separuh bagian dari Alquran. Demikian juga, terdapat dekorasi berbentuk kubah pada bagian atas bingkai yang diletakkan pada awal juz kesebelas dan kedua puluh satu. Dengan demikian, dekorasi tersebut berfungsi sebagai pemisah antara tiga bagian Alquran.

Walakhir, Annabel Teh Gallop sanggup menangkap dengan baik guna mempelihatkan kepada pembacanya unsur-unsur artistik di dalam Alquran Bone. Kita bisa membaca uraian detilnya pada artikel Gallop yang sudah saya singgung di muka.

Dari Gallop, kita menjadi tahu bahwa khazanah penulisan mushaf Alquran di Nusantara sangat kaya. Dan, yang tidak kalah penting, kita bisa belajar darinya perihal bagaimana membangun diskusi akademik mengenai warisan keislaman yang kita miliki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here