Ahsanology.com

Islam di Korea dan Tantangannya

Ayana Jihye Moon (Sumber foto: instagram.com/xolovelyayana)

Di tengah pandemi yang belum usai, beberapa waktu yang lalu, dunia dihebohkan oleh BTS Meal yang dijajakan di gerai-gerai McDonald’s.

Para Army, sebutan untuk penggemar BTS, menyerbu setiap gerai McD dan rela mengantri berjam-jam untuk mendapatkan sepaket kudapan yang konon selalu dinikmati oleh Jeon Jeong-guk dan kawan-kawannya itu.

Para Army di Indonesia tidak terkecuali. Yang unik, karena merasa bersalah telah membuat para pengendara ojol mengantri berjam-jam demi memenuhi pesanan mereka, Army di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini melakukan penggalangan dana untuk disumbangkan kepada pengendara ojol yang telah mereka “siksa”.

Sembari menikmati semua yang berbau invasi budaya Korea, tidak ada salahnya bila kita juga tahu perihal realitas umat Islam di Korea hari ini lewat artikel Park Hyondo agar pemahaman kita tidak terpaku pada Ayana Jihye Moon seorang.

Islam di antara Agama-Agama di Korea

Berdasarkan hasil sensus yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Korea pada 2005, lebih dari separuh penduduk Korea yang berjumlah 47 juta jiwa mengaku beragama.

Budha adalah agama yang dianut oleh mayoritas warga Korea, disusul Kristen (Protestan) dan Katolik. Akan tetapi, bila Kristen dan Katolik digabungkan, maka jumlah pemeluknya merupakan mayoritas dengan jumlah pemeluk lebih dari 13 juta jiwa.

Agama-agama yang dianut oleh warga Korea sangat beragam. Beberapa mungkin tidak pernah kita dengar sebelumnya, seperti Chondogyo dan Deajonggyo. Saking banyaknya, Korea cekup sering diumpamakan Pusat Perbelanjaan Agama-Agama.

Dalam artikel bertajuk Islam and Its Challenges in Contemporary Korea, Hyondo menyebutkan bahwa identitas Islam nyaris tidak tampak di Korea. Akibat dari jumlah pemeluknya yang minim, pemerintah setempat menggabungkan Islam ke dalam kategori Agama-Agama Lain.

Tidak bisa dipastikan berapa jumlah umat Islam di Korea. Media-media mengajukan estimasi 35.000 hingga 140.000, tetapi angka tersebut tampaknya jauh dari valid.

Sejarah Singkat Islam di Korea

Dinasti-dinasti Korea disinyalir telah berinteraksi dengan umat Islam sejak beberapa abad yang lalu. Hubungan ini terjalin lewat perdagangan melalui rute darat via Cina dan laut.

Islam diperkirakan telah memainkan peran penting di Korea ketika Kerajaan Mongol mengusai daerah tersebut. Oleh sebab itu, Hyondo memperkirakan bahwa umat Islam telah tinggal di Korea sejak abad ke-13 dan abad ke-14.

Umat Islam di Korea menghadapi kenyataan pahit pada awal abad ke-15. Berdasarkan Sejarah Dinasti Joseon bertarikh 4 April 1427, Dewan Upacara mengajukan permintaan kepada Raja Sejong agar mengeluarkan larangan beribadah bagi Islam di lingkungan kerajaan.

Dewan Upacara beralasan bahwa Muslim adalah orang asing, karena mereka menggunakan pakaian yang berbeda dengan masyarakat Korea pada umumnya. “Bila mereka merupakan bagian dari Kerajaan,” kata Dewan Upacara, “mereka harus mengenakan pakaian yang sama dengan kita.”

Masyarakat Korea sulit menerima kenyataan bahwa Muslim layak berpenampilan beda. Mereka bahkan merasa malu bila menikah dengan seorang Muslim.

Catatan dalam Sejarah Dinasti Joseon melaporkan bahwa Raja menerima permintaan pelarangan aktifitas ibadah umat Islam tersebut. Tahun 1427 dianggap sebagai titik akhir dari kehadiran umat Islam di Semenanjung Korea.

Baca Juga: Ignaz Goldziher dan Inspirasi dari Ngopi Bareng Jamaluddin al-Afghani

Era kekosongan umat Islam terus berlanjut selama lima abad sampai ketika Perang Korea (1950-1953) berkecamuk. Pada momentum ini, tentara-tentara Turki memperkenalkan kembali ajaran Islam di Korea. Pada 1955, generasi pertama warga Korea yang telah memeluk Islam mendirikan Perhimpunan Masyarakat Islam Korea.

Jumlah Muslim di Korea berkembang pesat hingga 35.000 jiwa bersamaan dengan ekspansi perusahaan-perusahaan konstruksi mereka ke Timur Tengah. Yang menarik, alasan orang Korea menjadi mualaf adalah untuk mendapatkan visa kerja di Timur Tengah. Ketika kembali, mereka meninggalkan Islam.

Saat ini, terdapat 15 masjid yang berdiri di Korea. Federasi Muslim Korea adalah perwakilan resmi bagi umat Islam setempat. Meskipun pengurus federasi tersebut adalah warga asli Korea, perkembangan Islam yang begitu cepat di Korea juga tidak dapat dilepaskan dari peran para pekerja migran yang datang dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, termasuk yang berasal dari Indonesia.

Tantangan Umat Islam di Korea

Menjadi Muslim di negara yang mayoritas berpenduduk seagama, seperti di Indonesia, tentu tidak sama dengan menjadi Muslim di Korea.

Sebagai minoritas, Muslim di Korea menghadapi tiga tantangan. Pertama, sangat sedikit cendekiawan Muslim yang mampu pesan-pesan ajaran Islam sesuai dengan bahasa Korea sehari-hari.

Meski Federasi Muslim Korea telah menerbitkan buku-buku tentang Islam, istilah-istilah Arab tampak belum bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Korea dengan semestinya.

Keterbatasan komunikasi mempengaruhi persepsi masyarakat non Muslim, sehingga Islam masih dilihat bukan bagian dari kebudayaan mereka.

Ini berbeda dengan agama Katolik yang, sejak Konsili Vatikan II (1962-1965), berusaha mengakomodasi kebudayaan Korea. Kini, Katolik telah diterima sebagai bagian dari Korea modern.

Kedua, tantangan yang datang dari missionaris Kristen. Umumnya, para pendeta Kristen di Korea menggunakan pendekatan agresif.

Mereka tidak segan untuk menyerang ajaran Islam dengan isu kontra produktif, seperti mengumpamakan Islam dengan ular, yang licin ketika dipegang namun memiliki bisa yang mematikan.

Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga kerap menyebut bahwa Tuhan agama Islam tidak lain merupakan Tuhan para penyembah bulan.

Sikap bermusuhan yang ditampakkan missionaris Kristen di Korea adalah warisan dari doktrin Kristen yang berasal dari Amerika Utara yang diperkenalkan pada abad ke-19. Doktrin ini menganggap bahwa tidak ada keselamatan di luar Geraja (Extra ecclessiam nulla salus).

Tantangan terakhir bagi Muslim di Korea adalah kurangnya ketelibatan mereka dalam forum-forum dialog antar iman untuk memperlihatkan wajah Islam yang sebenarnya.

Dalam sejarah, orang Korea pernah bersimpati terhadap Muslim di Timur Tengah. Ini terjadi ketika Korea mengalami kolonialisme di bawah penjajahan Jepang.

Sayangnya, simpati tersebut berubah seiring dengan pemberitaan mengenai gerakan-gerakan radikalisme dan terorisme di Timur Tengah yang membawa-bawa nama Islam.

Orang Korea kini sulit membedakan antara ajaran Islam yang sebenarnya, yang mengedepankan kedamaian, dengan terorisme. Satu-satunya jalan untuk keluar dari tantangan terakhir ini adalah melibatkan diri secara aktif dalam dialog-dialog antar agama guna meluruskan kesalahpahaman tentang Islam sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi Korea.

Exit mobile version