Ahsanology.com

Ignaz Goldziher dan Inspirasi dari Ngopi Bareng Jamaluddin al-Afghani

Ignaz Goldziher (Sumber foto: wikimedia.org)

Ketertarikan Barat terhadap Islam dan kehidupan Muslim telah terjadi sejak ratusan abad yang lalu. Hanya saja, ketertarikan ini baru mengalami perubahan bentuk ke tingkat disiplin pengetahuan tersendiri (Islamic studies) di penghujung abad kesembilan belas.

Bagi Dietrich Jung, ilmuwan Barat yang meletakkan dasar sehingga kajian keislaman di Barat naik kelas menjadi bidang studi modern adalah Ignaz Goldziher (w. 1921).

Sayangnya, tokoh di atas kerap dipersepsikan secara negatif di dalam literatur-literatur intelektual Muslim akibat kesimpulannya yang menyampingkan hadis sebagai sumber utama umat Islam.

Alih-alih melihat hadis sebagai sumber yang autentik dan kredibel, Goldziher memandang bahwa hadis merupakan catatan profetik yang muncul belakangan akibat dinamika politik umat Islam setelah era Nabi Muhammad saw., khususnya pada periode kekuasaan Dinasti Umayyah dan awal Dinasti Abbasiyah.

Atas kesimpulan itulah Goldziher kerap digambarkan sebagai representasi orientalisme yang penuh dengan prasangka negatif terhadap agama Islam, tradisi, dan penganutnya.

Lewat analisis terhadap konteks sejarah dan intelektual Goldziher di Eropa pada akhir abad ke-19, Dietrich Jung memperlihatkan dinamika yang menjadi latar bagi konstruksi pemikiran Goldziher. Sejatinya, dinamika tersebut tidak sesederhana yang lazim dipersepsikan oleh banyak kalangan.

Profil singkat Ignaz Goldziher

Para penulis biografi Ignaz Goldziher menyepakati bahwa tokoh ini merupakan penganut Yahudi yang religius. Ayahnya adalah seorang pedagang Yahudi dengan penghargaan tinggi pada pengetahuan yang mendidik Goldziher secara keras dalam bahasa Ibrani.

Goldziher telah membaca Bibel di usia lima tahun. Kesehariannya dipenuhi dengan belajar. Ia baru beranjak untuk beristirahat pada tengah malam hingga pukul lima pagi.

Meski masih berusia dua belas tahun, pada 1862, ia sudah menerbitkan buku tentang asal-usul, sejarah ibadah dalam Yahudi, serta kritik terhadap sikap berlabih-lebihan dalam menjalankan ajaran agama.

Tiga tahun setelah itu keluarga mereka pindah ke Kota Pest, Hongaria, akibat masalah ekonomi.

Di Pest, Goldziher muda mendaftar di perguruan tinggi setempat dan mengikuti kuliah filsafat, linguistik, dan folologi klasik dan Timur.

Ia lantas meneruskan kuliah di Berlin, Leipzig, Leiden, dan Vienna hingga akhirnya berangkat ke Timur Tengah pada September 1873. Misi untuk mengenal Islam lebih dekat ini ia lewati selama satu tahun.

Perjalanan ke Dunia Muslim

Perjalanan Goldziher ke Timur Tengah dimulai dari Istanbul, kemudian ke Beirut, Damaskus, Yerusalem, dan berakhir di Kairo. Para peneliti mengetahui tujuan safarnya ke Timur beserta pengalaman pribadinya bergaul dengan umat Islam melalui diarinya yang berjudul Tagebuch.

Ketika di Istanbul, umpamanya, Goldziher dihadapkan pada pengalaman yang tidak menyenangkan karena harus masuk ke dalam karantina.

Mau tidak mau, pengalaman itu mempengaruhi penilaiannya pada orang-orang Turki. Ia, misalnya, menggambarkan Istanbul sebagai tempat yang terobsesi pada perdagangan, memantik depresi, korup, dan pemburu suap.

Yang menarik dari catatan personal Goldziher adalah deskripsinya tentang umat Islam di Jazirah Arab yang berbeda drastis dengan saat ia berada di Turki.

Di jazirah itu, ia bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dengan pikiran-pikiran rasional, karena terlibat dalam diskusi-diskusi intelektual tentang bahasa dan tradisi Islam.

Citra tentang umat Islam di Jazirah Arab dalam narasi Goldziher justru berlawanan dengan pengertian lazim di tengah masyarakat Eropa. Baginya, kebudayaan dan kecanggihan Eropa tidak lebih baik ketimbang yang ia temukan di jazirah Arab.

Ignaz Goldziher di Jazirah Arab

Jazirah Arab memberikan kepuasan intelektual bagi Goldziher. Ketika di Damaskus, umpamanya, ia menghabiskan siang hingga sore di toko buku yang berada di dekat Masjid Umayyah. Di sini, ia mendiskusikan kesusastraan Arab dengan siapa saja yang ia temui.

Di Kairo, ia bahkan terkesima dengan kesarjanaan di al-Azhar hingga ikut beribadah di masjid. Di kota inilah ia bertemu dengan penggagas sekaligus ideolog bagi gerakan reformisme Islam yang dikenal dengan sebutan Pan-Islamisme, yaitu Jamaluddin al-Afghani (w. 1897).

Secara berkala, Goldziher mengikuti lingkar studi bersama murid-murid al-Afghani di salah satu rumah kopi di Abedin. Di tempat ini mereka mendiskusikan topik serta isu beragam dan diulas secara bebas.

Bagi tokoh-tokoh reformis Muslim di Mesir, semisal al-Afghani, Muhammad ‘Abduh, dan Rasyid Ridha, mengintegrasikan ajaran Islam dengan konteks kehidupan modern merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kemerdekaan dari pemerintahan kolonial.

Dalam artikel bertajuk Islamic Studies and Religious Reform, Dietrich Jung mengungkapkan bahwa Goldziher menemukan inspirasi atas kegelisahannya terhadap permasalahan Yahudi di Eropa dari ide-ide gerakan reformisme Muslim yang bertujuan untuk mengkampanyekan titik temu antara keimanan dengan budaya modern.

Goldziher menilai bahwa persoalan Yahudi di Eropa tidak berbeda dengan tantangan umat Islam yang ia temukan di Jazirah Arab. Singkatnya, ortodoksi Yahudi di Hongaria mengalami stagnasi yang serupa dengan yang dialami oleh umat Islam pada akhir abad kesembilan belas hingga awal abad berikutnya.

Kekaguman pada Islam berdasarkan pergaulaannya di Mesir ini mengubah keseluruhan pandangan Goldziher tentang Islam. Dalam tulisan-tulisan berikutnya, ia menyebut Islam dengan penuh empati sebagai agama monotis.

Bagaimanapun, dengan pendekatan diskursif dalam memahami kompleksitas konteks sejarah, dalam pemahaman Jung, Islam telah menyediakan standar rasionalitas bagi Goldziher hingga membangkitkan kesadarannya terkait emansipasi politik penganut Yahudi yang mengalami “kolonialisme internal” di Eropa.

Di saat yang sama, persepsi sarjana Muslim yang terlanjur percaya bahwa Goldziher adalah orientalis yang kerap menunjukkan permusuhan kepada Islam boleh jadi berubah setelah membaca uraian dalam artikel Dietrich Jung.

Exit mobile version