Ahsanology.com

Hijrah ke Telegram dan Literasi Digital

(Gambar oleh Thomas Breher dari Pixabay)

Tiba-tiba saja banyak notifikasi muncul di layar ponsel saya. Beberapa teman telah aktif sebagai pengguna di aplikasi pesan instan Telegram.

Terhadap notifikasi tadi, saya tidak kaget. Belakangan, isu soal keamanan data pengguna WhatsApp memang ramai diberitakan oleh media-media daring.

Entahlah. Saya belum melakukan wawancara mendalam kepada para kolega saya dengan pertanyaan: apakah pilihan Anda untuk hijrah ke Telegram didasarkan pada pengertian tentang arti keamaan data digital atau sekedar ikut-ikutan.

Terlepas dari apapun alasan mereka, isu keamanan data digital sudah menjadi perhatian saya sejak beberapa tahun lalu. Sejak nama Julian Assange dan Edward Snowden mencuat lewat tindakan heorik keduanya dengan membocorkan aksi-aksi kotor pemerintah dan korporasi yang menyalahgunakan data digital milik rakyat dan pengguna.

Dari pemberitaan tentang Assange dan Snowden, saya tahu bahwa hari ini data adalah harga. Sayangnya, literasi digital di negeri ini memang menjadi problem tersendiri.

Aplikasi Zoom, contohnya, tetap menjadi primadona di masa pandemi Covid-19 meskipun berita tentang sisi rentan keamanannya tidak sulit kita temukan. Meski banyak platform yang menawarkan kemampuan serupa dan setara dengan Zoom, yang namanya manusia, pindah ke lain hati memang bukan perkara mudah.

Salah seorang teman yang mengenal kesukaan saya pada isu-isu teknologi mengirimkan pesan singkat via di WhatsApp. Ia menanyakan tanggapan saya perihal isu keamanan data pengguna WhatsApp.

Begini, saya menulis untuknya, tidak ada data kita yang benar-benar aman hari ini. Ketika kita memilih terhubung dengan jaringan internet, di saat yang sama, kita harus sadar bahwa data tersebut sangat mudah diintip hingga dieksploitasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Menakutkan? Seharusnya tidak, khususnya bila kita tahu bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.

WhatsApp adalah aplikasi milik Facebook. Wajar bila WhatsApp membagikan data para penggunanya kepada induk perusahaan mereka. Apakah ada yang bisa menjamin bahwa WhatsApp selama ini tidak pernah membagikan data kepada pihak lain tanpa izin penggunanya? Tidak ada.

Mayoritas kita tidak tahu apa yang sedang terjadi di balik layar gadget kita. Di balik aplikasi yang sedang kita buka.

Sekedar ilustrasi. Lebih dari satu dekade yang lalu, saya pernah bekerja sebagai administrator jaringan internet pada salah satu lembaga pendidikan tinggi.

Saat itu, sebagai administrator, saya memasang pfSense pada server rute jaringan setempat. Setiap koneksi internet yang menggunakan jaringan di dalam lembaga itu harus melewati server tersebut.

Untuk memudahkan akses keluar masuk data, saya juga memasang aplikasi proxy. Alhasil, dengan metode ini, saya dapat melihat nama perangkat serta situs apa saja yang diakses oleh setiap pengguna internet setempat, pada hari dan jam berapa. Tanpa mereka tahu.

Itu pengalaman belasan tahun yang lalu. Saat ini, tentu saja, jauh lebih canggih.

Ada mesin yang dibekali kecerdasan artifisial untuk memantau aktifitas kita di dalam jaringan internet. Data tentang aktifitas itu distrategikan sebagai bahan untuk menganalisis kecenderungan kita dan mengeksploitasinya sesuai dengan kepentingan pemilik.

Sayang sekali, hari ini, masih banyak penyedia jasa di dalam negeri yang memubazirkan data pelanggan mereka. Sebut saja jasa pendidikan, sekolah dan universitas, belum banyak yang menganalisis dan mengeksploitasi data siswa dan mahasiswa mereka. Tentu saja, analisis dan eksploitasi di sini mesti dimaknai dalam pengertian positif.

Semoga para penyedia jasa di negeri ini segera mamaksimalkan data pelanggan mereka. Untuk sementara waktu, biarlah Mark Zuckerberg yang memanfaatkan itu semua. Mau gimana lagi? Tidur mulu, sih. Tabik!

Exit mobile version