Ahsanology.com

Felix Siauw: Mantan Manajer Pemasaran yang Jadi Dai

(Sumber gambar: Instagram @felixsiauw)

Apa yang terlintas di benak Anda saat mendengar nama Felix Siauw? Penceramah, dai, Cina, kemeja batik atau t-shirt, dan HTI.

Apapun itu, Felix ikut menambahkan warna baru di dunia keislaman di Tanah Air dalam sepuluh tahun terakhir.

Ia popular di media sosial daring. Tidak cukup sampai di situ, ia juga aktif melakukan dakwah luring.

Felix memang bukan satu-satunya dai di Indonesia yang popular di medsos. Ada nama-nama lain yang sudah lebih dulu, seperti AA Gym, Yusuf Mansur, dan almarhum Arifin Ilham.

Hanya saja, berbeda dengan tiga nama terakhir yang popular berawal dari ceramah luring dan televisi lebih dulu, Felix mendapatkan popularitas justru dari media sosial.

Salah satu yang menonjol dari dakwah Felix Siauw, paling tidak di mata Hew Wai Weng, adalah kemampuannya mengkombinasikan medium daring dan luring.

Di tangan Felix, alih-alih saling berseberangan, media luring dan daring dapat saling melengkapi antara satu dengan yang lain.

Dalam artikel bertajuk The Art of Dakwah: Social Media, Visual Persuasion and the Islamist Propagation of Felix Siauw, Weng memperlihatkan siapa Felix, mengapa ia mampu memaksimalkan fungsi media sosial, dan bagaimana ia menggunakan platfrom media baru tersebut untuk menyampaikan gagasan-gagasannya dalam berdakwah.

Biografi Felix Siauw

Felix Yanwar Siauw lahir dengan nama Siauw Chen Kwok di Palembang, Sumatera Selatan, pada 1984.

Ia menganut Katolik sebelum menjadi seorang Muslim pada 2002. Perkenalannya pada ajaran Islam berasal dari salah seorang koleganya yang juga merupakan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ketika masih kuliah di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Sejak menjadi Muslim, ia memutuskan aktif dalam dunia dakwah. Felix pun tercatat pernah dipercaya sebagai ketua komunitas dakwah di Fakultas Pertanian.

Setelah lulus dari IPB, ia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan bahan kimia pertanian, Biotis Agrindo.

Ayahnya merupakan salah seorang direktur pada perusahaan tersebut. Felix sendiri dipercaya menjabat sebagai manajer pemasaran.

Ia menikah dengan perempuan Jawa, Lin, pada 2006 dan dianugerahi empat orang anak, Alila Shafiyya Asy-Syarifah, Shifr Muhammad al-Fatih, Ghazi Muhammad al-Fatih, dan Alia Shaffiya Asy-Syarifah.

Enam tahun berikutnya, pada 2012, Felix meninggalkan perusahaan dan memilih untuk berkarir penuh sebagai dai.

Mengkombinasikan Media Luring dan Daring

Pengalaman sebagai manajer pemasaran adalah bekal utama Felix dalam berdakwah.

Bagi Weng, dengan bekal tersebut, tidak mengherankan bila Felix memiliki kesadaran pada kecenderungan pasar, ketekunan bermedia, serta orientasi pada aspek visual.

Di dunia luring, Felix sadar bahwa identitasnya sebagai mualaf dan Cina merupakan nilai lebih di mata umat Islam pada umumnya, terutama jika dibandingkan dengan dai-dai yang lain.

Ia mengakumulasi kesadaran tersebut dengan penampilan apa adanya, seperti tidak mengganti nama dengan yang terkesan islami serta tampil kasual dengan batik atau kaos di depan jamaah.

Di akhir sesi ceramah, Felix memanfaatkan WhatsApp sebagai media bagi jamaahnya mengirimkan pertanyaan.

Cara Felix Memaksimalkan Media

Felix sadar bahwa pengetahuannya tentang Islam belum sebaik para dai lainnya.

Oleh sebab itu, ia cenderung menarasikan dirinya sebagai inspirator keislaman atau pengemban dakwah.

Identitasnya sebagai salah seorang pengikut gerakan dan ideologi HTI tampak dominan di dalam konten dakwah yang ia produksi.

Meski terkesan fleksibel dari sisi penampilan, Felix sejatinya memiliki pemahaman Islam yang kaku.

Meminjam terminologi Mohamad Iqbal Ahnaf, Weng menyebut bahwa Felix menerapkan ambiguitas strategis (strategic ambiguity) dalam berdakwah.

Kekakuan Felix tersebut, misalnya, tampak pada pilihannya untuk menjadi salah seorang yang aktif menolak Ahok pada kontestasi pemilihan Gubernur DKI Jakarta beberapa tahun yang lalu.

Dalam pemahaman Weng, Felix serupa dengan Firdaus Wong di Malaysia. Mereka sama-sama memegang nilai-nilai yang konservatif, berkesadaran media, berpengalaman di bidang pemasaran, serta memiliki semangat yang besar dalam menyebarkan apa yang mereka mengerti sebagai “Islam yang sebenarnya”.

Felix dengan kreatif memproduksi dan menyunting materi ceramahnya. Ia tahu apa yang ingin ia sampaikan, kepada siapa, dan bagaimana cara menyampaikan pesan-pesannya.

Ia dengan sengaja menyasar generasi muda yang berada di kisaran usia 35 tahun serta belum memiliki pengetahuan agama yang baik.

Sebagian besar dari mereka, tentu saja, merupakan pengguna sosial media yang aktif menyukai atau membagikan kiriman di Facebook, Twitter, dan Instagram.

Felix tidak memandang media daring berlawanan dengan luring. Dalam pemahamannya, bila pengikut akun media sosialnya ikut dalam pengajian luring, maka pesan yang ia sampaikan melalui media sosial dapat dikatakan efektif.

Ia tidak membatasi pesan-pesan daring pada satu akun. Selain memiliki akun pribadi di setiap media sosial, ia juga terhubung dengan akun lainnya yang membagikan pesan-pesan senada, seperti @hijabalila, @yukngajiid, dan @maujadibaik.

Kegiatan-kegiatan luring yang ia selenggarakan, seperti rihlah YukNgaji ke Lombok, turut dipromosikan via akun media sosial mereka secara masif.

Terlepas dari fakta bahwa HTI telah dibubarkan oleh pemerintah pada 2017, Felix tetap eksis mengisi ruang-ruang beragama umat Islam di Indonesia hingga hari ini. Terbukti, pengikutnya di Instagram kini berjumlah 4,8 juta.

Bagi Weng, dalam skala luas, kehadiran Felix ikut memperlihatkan saling-silang antara estetika di media sosial daring dan sikap beragama di dunia nyata.

Kemampuan Felix mengkombinasikan pendekatan tekstual dan visual serta narasi yang dianggap rasional dengan balutan kesederhanaan merupakan faktor-faktor yang ada di balik pencapaiannya dalam dunia dakwah Indonesia hari ini.

Kita boleh tidak sependapat dengan pilihan Felix pada ideologi HTI. Meski demikian, itu tidak membatasi siapapun yang memilih jalur dakwah untuk belajar dari strateginya mendapatkan popularitas di tengah umat yang menghabiskan banyak waktu di depan gawai.

Lebih dari itu, bila Anda memiliki ketertarikan pada studi keislaman, terutama pada fenomena dakwah kontemporer yang bertalian dengan media sosial, artikel Weng patut untuk disimak.

Exit mobile version