Ilustrasi (Sumber foto: cannacon.org)

Beberapa kolega yang mengetahui latar belakang pendidikan saya tampak heran ketika tahu bahwa anak-anak saya bersekolah di lembaga pendidikan yang dinaungi oleh yayasan para diaspora Cina.

Dalam takaran mereka, orang seperti saya niscaya mendaftarkan anak ke sekolah berlabel SDIT. Ternyata mereka salah.

Sebelum melanjutkan, perkenankan saya membuat semacam disklaimer: di sini saya dengan sengaja menggunakan kata Cina dan bukan Tionghoa, karena mengikuti argumen Remy Sylado di buku novelnya, Perempuan Bernama Arjuna 2: Sinologi dalam Fiksi.

Di situ ia menulis:

“Maka, maaf, kalau saya mendengar kata Tiongkok dan Tionghoa, bingkai pikiran saya itu adalah komunis.”

Bagaimana penjelasan lengkap Remy Sylado soal beda antara lema Cina dan Tionghoa, meniru ungkapan khas Presiden Jokowi: itu bukan urusan saya. Silakan baca sendiri di buku yang saya sebutkan tadi.

Baiklah. Kita kembali ke perkara sekolah anak-anak saya. Di awal tadi.

Bagi saya, sekolah adalah tempat anak-anak bermain dan bersosialisasi. Hanya itu. Menuntut ilmu pengetahuan? Ayolah, bukan saatnya lagi mencari ilmu di sekolah.

Hari ini, sekolah dengan ruang kelas yang menjanjikan ilmu pengetahuan sedang berada di senja kala.

Tidak sedikit lembaga pendidikan terkemuka yang menyediakan kursus singkat dalam format daring dalam beragam kompetensi. Saya pernah mengikuti kursus metode penelitian kualitatif yang diselenggarakan oleh Universitas Amsterdam melalui platform Coursera.

Dari sekian buku penelitian kualitatif yang pernah saya baca dan kelas-kelas perkuliahan formal tentang metode penelitian yang saya ikuti, saya justru memahami penjelasan tentang pola kerja pendekatan kualitatif dari kursus daring.

Naam, saya adalah korban pendidikan yang terlanjur salah format di negeri ini. Sejak kecil saya tumbuh di sekolah yang seragam. Hanya satu jenis manusia yang saya temui: pribumi dan Muslim.

Sampai ketika saya pernah terlibat dalam pembentukan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) di Poso dan beberapa semester mengajar di sana. Dari sinilah saya perlahan memahami rasanya menjadi minoritas.

Secara statistik, Muslim di Poso adalah minoritas. Saya hadir di kabupaten ini pasca konflik horizontal yang didorong oleh kepentingan politik lokal.

Poso lantas memberikan pengalaman berharga bagi saya tentang pentingnya hidup rukun di negeri ini. Bagaimana tidak, saya mendengar langsung cerita para korban konflik di atas.

Sambil menangis, misalnya, salah seorang di antara mereka bercerita perihal bagaimana ia yang Kristen dipisahkan dengan keluarganya yang Muslim akibat konflik tersebut.

Sebelumnya, silaturahim di antara mereka baik-baik saja. Mereka bisa saling menghargai perbedaan agama di antara mereka atas nama persaudaraan. Kini, mereka, dan banyak warga Poso lainnya, harus tertatih-tatih memupuk kembali apa yang sudah dirampas oleh konflik horizontal.

Dari pengalaman itulah saya lantas berjanji untuk tidak membiarkan generasi berikutnya terperangkap dalam keterbatasan wawasan sosial di negeri yang ditakdirkan Bhineka Tunggal Ika ini akibat ngopinya kurang pahit dan mainnya kurang jauh. Dan saya mulainya dari lingkungan terdekat: anak-anak saya.

Di sekolah tempatnya bersosialisasi hari ini, anak saya berteman dengan anak-anak dari latar belakang suku dan agama yang berbeda.

Ia tahu bahwa di antara kawan-kawannya ada yang Kristen, Katolik, Budha, dan lain-lain. Tidak semua memiliki warna kulit yang sama dengannya. Kali ini, anak-anak saya belajar menjadi minoritas dari pengalaman hidup. Alhamdulillah, mereka baik-baik saja.

Tidak perlu pula menanyakan, apakah mereka sudah menghafal surat-surat pendek dan belajar mengikra Alquran.

Saya dan teman seranjang saya adalah alumni pesantren. Kami juga guru. Tidak perlu repot menceramahi kami, karena itu akan sama konyolnya dengan orang yang mengajari ikan bagaimana cara berenang.

Apakah menjadi minoritas di lingkungan sosial dapat membuat keimanan anak-anak saya terkikis? Sepertinya kita berlebihan bila menganggap bahwa lingkungan sosial paralel dengan keimanan. Apakah Nabi Muhammad saw. lahir dan tumbuh di tengah lingkungan mayoritas Muslim dan bersuku yang sama dengannya?

Tuan-Tuan dan Puan-Puan boleh tidak sepakat. Hemat saya, kesempatan menjadi minoritas itulah yang menjelaskan mengapa Sang Nabi terkenal dengan kebijaksanaannya dalam memahami dan menyikapi perbedaan.

Jangan kira hanya umat Islam dan Arab yang ada di Makkah dan Madinah pada masa kehidupan beliau.

Bila Tuan-Tuan dan Puan-Puan terlanjur percaya bahwa Nabi Muhammad saw. hanya bergaul dengan sesama Muslim dan sesukunya saja, boleh jadi Tuan-Tuan dan Puan-Puan kurang membaca tentang Nabi Muhammad saw. Biografi yang ditulis oleh Martin Lings salah satu yang terbaik dalam hal ini. Setidaknya, menurut saya.

Jangan sampai kurang membaca. Karena kalau sudah kurang membaca, ditambah mainnya kurang jauh serta ngopinya kurang pahit, maka lengkaplah sudah, bebalnya. Tabik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here