Sampul Buku Filsafat Pandemi karya Lukman S. Thahir

Judul Buku: Filsafat Pandemi Merespon Masalah Sosial-Keagamaan di Masa Covid-19
Penulis: Dr. H. Lukman S. Thahir, M.Ag.
Cetakan: I, Mei 2020
Penerbit: Pesantren Anwarul Qur’an, Palu
Halaman: 110 halaman

Izinkan saya membahasakan ulang pernyataan Azyumardi Azra. Katanya, setelah sandang, pangan, dan papan, manusia butuh cerita. Itulah mengapa sejarah menempati salah satu posisi utama di dalam kehidupan manusia. Walakin, tidak sedikit orang yang mengaku diri sebagai sejarawan hanya karena suka atau ikut menulis tentang masa lalu tanpa dibekali pengetahuan ihwal kaidah sejarah. Ada perbedaan mendasar antara sejarawan terlatih (historian by training) dengan “sejarawan” yang sebenarnya lebih tepat disebut penyuka barang antik (antiquarian).

Seperti sejarah, tidak sedikit pula orang yang doyan mengaku filsuf hanya karena merasa telah mengutarakan gagasan reflektif. Tentu saja, tidak semua pemikiran reflektif menghasilkan gagasan yang lurus. Itulah mengapa ada bidang ilmu filsafat yang tugasnya mengurusi cara kita berpikir. Dan, lagi-lagi, tentu saja, ada beda antara “filsuf” dan filsuf terlatih. Buku ini, Filsafat Pandemi: Merespon Masalah Sosial-Keagamaan di Masa Covid-19, ditulis oleh filsuf terlatih.

Meski ditulis oleh akademisi dalam bidangnya, jangan mengira isi buku ini bisa membuat jalinan saraf-saraf di kepala kita, yang sudah rumit, menjadi makin rumit. Tidak. Buku ini ditulis dengan gaya naratif. Ini bukan buku dengan model tulisan ala Louis Kattsoff, Pengantar Filsafat, yang belum tentu bisa dicerna dengan mudah oleh mahasiswa jurusan filsafat. Membahasakan persoalan rumit secara sederhana bukan perkara gampang. Inilah poin pertama yang menjadi kelebihan dari Lukman S. Thahir dan bukunya tadi.

Bahwa buku ini dirilis kepada publik di masa pandemi Covid-19 merusak tatanan normal kehidupan mayoritas penduduk Indonesia, ini adalah poin kedua yang menjadi kelebihan dari Filsafat Pandemi. Sebagai akademisi, penulisnya merespon beragam isu sosial dan agama yang muncul di sekitar kita hari ini secara reflektif dan selaras dengan kaidah keilmuan yang menjadi basisnya: filsafat. Isu-isu itu lantas dikompilasi ke dalam sepuluh tema utama, di antaranya kontroversi di seputar fatwa MUI, kesemrawutan analogi di dalam perdebatan antara masjid dan pasar, serta langkah-langkah terapeutik yang dapat kita terapkan guna menjaga kewarasan di tengah kekalutan pada wabah.

Atas upayanya menghadirkan respon terhadap isu-isu aktual dari kacamata filsafat, dalam peluncuran buku ini yang dilakukan secara daring, Sangkot Sirait memberikan apresiasi tinggi terhadap Filsafat Pandemi. Baginya, jalan yang dititi oleh Lukman S. Thahir merupakan jembatan antara nalar deduktif yang menjadi ciri agama dan nalar induktif khas sains. Kita tahu bahwa kedua kutub ini, agama dan sains, kerap berseberangan. Filsafat dapat menjadi penghubung di antara keduanya, dan Filsafat Pandemi memainkan peran itu.

Sayang sekali, nilai gizi di dalam buku ini tidak disertai dengan proses penyuntingan yang ketat. Momentum jelas bukan alasan untuk mengabaikan kenyamanan pembaca yang menuntut ketelitian penyuntingan. Tabik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here