Pandemi Covid-19 telah membalikkan pandangan 1.6 miliar penduduk Muslim di dunia untuk menengok kembali catatan sejarah tentang tradisinya. Sebagai agama yang memproduksi peradaban sejak abad ke-6 M., wajar bila Muslim percaya bahwa mereka memiliki catatan masa lalu tentang penyakit menular. Kelompok terpelajar dari umat Islam lantas mengais kembali sumber-sumber klasik yang tersedia pada mereka hari ini. Sayang sekali, mereka kalah cepat. Terpaut nyaris 50 tahun dari kita, tepatnya pada 1974, sejarawan bidang kesehatan dari Amerika Serikat, Michael W. Dols, mempublikasikan artikelnya pada Journal of the American Oriental Society (Vol. 9, No. 3) dengan judul Plague in Early Islamic History.

Mengingat Dols bukan seorang ustad, ia sama sekali tidak berkepentingan untuk menyusun legitimasi teologis. Sebagai sejarawan, Dols menelaah pandemi di masa awal Islam guna melihat hubungan antara Wabah Justinian serta dampaknya bagi penurunan populasi penduduk Muslim hingga pelemahan Dinasti Umayyah. Bagi Dols, ada tiga pandemi yang paling sering disinggung dalam sejarah kemanusiaan, yaitu Wabah Justinian, Black Death, dan Wabah Bombay. Dua yang terakhir telah banyak dibicarakan oleh sejarawan, namun yang pertama masih luput dari perhatian.

Guna merekonstruksi sejarah tentang pengetahuan dan dampak Wabah Justinian (527-565 M.), Dols memanfaatkan sumber-sumber dari catatan para ahli kesehatan dan sejarawan Muslim. Baginya, sumber-sumber itu bermanfaat mengingat interval waktu yang relatif dekat antara Wabah Justinian sebagai siklus epidemi yang terus berulang, setiap 9 atau 12 tahun, hingga masa akhir Dinasti Umayyah. Penerjemahan literatur-literatur kedokteran Yunani, khususnya karya Hipocrates dan Galen, ke dalam bahasa Arab disertai riset-riset kedokteran yang dilakukan secara mandiri oleh para sarjana Muslim tidak lepas dari upaya mereka untuk memahami wabah epidemi yang telah meninggalkan pelajaran berharga di dalam memori sejarah.

Dalam pandangan Dols, diskusi umat Islam masa awal tentang epidemi banyak ditemukan dalam literatur hadis. Sejumlah sarjana Muslim, seperti al-Mada’ini (w. 225 H./840 M.), Ibn Qutaybah (w. 276 H./889 M.), dan Ibn Abi al-Dunya (w. 281 H./894 M.) menyusun buku-buku kompilasi hadis bertopik wabah (al-tha’un). Ketika wabah Black Death di abad ke-14 menyebar hingga ke Timur Tengah, para sarjana Muslim yang hidup pada kurun waktu tersebut kembali memproduksi sumber-sumber beropik wabah, di antaranya Qashidah fi al-Tha’un karya Baha` al-Din al-Subki (w. 756 H./1355 M.), Risalat al-Naba’ ‘an al-Waba` karya Ibn al-Wardi (w. 1349 M.), Badzl al-Ma’un fi Fadhl al-Ta’un karya Ibn Hajar al-‘Asqallani (w. 852 H./1449 M.), dan Ma Rawahu al-Wa’un fi Akhbar al-Tha’un karya al-Suyuthi (w. 910 H./1505 M.). Karya terakhir inilah yang menjadi dasar bagi Alfred von Kremer (w. 1889 M.) menyusun Culturgeschichte des Orients unter den Chalifen. Sejarawan belakangan yang turut menaruh perhatian pada epidemi, seperti Sticker, Russel, Biraben, dan Le Goff, mengambil manfaat kronologis dari von Kremer.

Dols menggunakan karya-karya para sarjana Islam di atas untuk menyusun kronologi epidemi pada masa awal Islam. Ia, misalnya, mengutip al-Mada’ini yang mencatat paling kurang lima wabah yang terjadi pada masa awal tersebut. Dua yang pertama adalah wabah Syirawayh yang menyebar di 626-628 dan ‘Amwas pada 638-639. Nama yang terakhi, ‘Amwas, diambil dari nama tempat di mana pasukan Muslim pada masa Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab terhenti dalam perjalanan menuju Syiria. Wabah ini muncul dua kali, pada bulan Muharram dan Shafar, menyebar di seluruh Syiria hingga ke Iraq dan Mesir, serta menewaskan sekitar 25.000 pasukan Muslim. Menurut Dols, pengetahuan tentang wabah ‘Amwas memiliki arti signifikan bagi pengetahuan umat Islam tentang ajaran agama dan hukum ketika menghadapi wabah. Ini sekaligus mengkonfirmasi apa yang terjadi di sekitar kita hari ini. Ketika Covid-19 merajalela dan para dai kerap mengutip wabah ‘Amwas, Dols telah menghitungnya hampir 50 tahun yang lalu.

Di luar ‘Amwas yang menewaskan sejumlah sahabat, seperti Abu ‘Ubadah, Yazid bin Abi Sufyan, serta Muadz dan anaknya, wabah yang tidak kalah kejam adalah wabah yang dikenal dengan al-Jarif pada 688-689 M. Dalam catatan al-Suyuthi, wabah ini mencapai puncaknya pasca Idul Fitri tahun 689 M. Selama tiga hari berturut-turut di bulan Syawal, al-Jarif menewaskan 70.000, 71.000, dan 73.000 penduduk Kota Basrah. Penjarahan dan kehadiran binatang predator di rumah-rumah korban wabah ini sangat sulit untuk dihindari.

Dua wabah lainnya adalah wabah al-Fatayat (706 M.), yang mayoritas korbannya adalah perempuan, dan wabah al-Asyraf (716-717 M.) yang menewaskan putra mahkota Dinasti Umayyah, Ayyub bin Sulayman bin ‘Abd al-Malik. Rentetan kelima wabah itulah yang turut berpengaruh bagi pelemahaman kekuatan Dinasti Umayyah hingga berakhir di tangan pasukan Dinasti ‘Abbasiyah pada 750 M. Setelah berhasil menduduki ibukota Dinasti Umayyah, salah seorang pejabat Dinasti ‘Abbasiyah menyampaikan pidato kemenangan. Ia mengajak penduduk Kota Damaskus untuk memuji kebesaran Allah yang telah menghilangkan wabah bersamaan dengan kekuasaan Dinasti ‘Abbasiyah. Seketika, seorang penduduk kota itu berdiri dan berkata lantang, “Allah telah memberimu kekuasaan atas kami dan wabah di saat yang sama.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here