Aisyah r.a. adalah istri Nabi Muhammad saw. yang paling populer bagi umat Islam. Hampir semua pengetahuan Muslim tentang rumah tangga Nabi saw. berasal dari riwayat Aisyah r.a. Kecantikannya pun melegenda. Romantisme rumah tangganya bersama Nabi saw. selalu menarik untuk dibicarakan, terlebih setelah Sabyan mempopulerkan kembali lagu Mr. Bie belakangan ini.

Cerita indah tentang kisah-kasih rumah tangga Nabi saw. bersama Aisyah r.a. segera musnah ketika usia pernikahan Aisyah r.a. dihadapkan dengan pengetahuan kita tentang hukum yang mengatur usia pernikahan bagi perempuan. Di Indonesia, misalnya, Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur bahwa usia minimal bagi perempuan untuk menikah adalah 19 tahun. Sedangkan di dalam riwayat, Aisyah r.a. mengkisahkan bahwa Nabi saw. menikahinya saat ia berusia 6 tahun. Nabi saw. lantas menyempurnakan pernikahan ini, tinggal serumah, ketika Aisyah r.a. berusia 9 tahun.

Menurut Asadulillah Ali dan Jonathan Brown, usia Aisyah r.a. ketika menikah dengan Nabi saw. merupakan salah satu kritik yang paling populer diarahkan kepada umat Islam: bagaimana bisa seorang yang segala perilakunya dijadikan panutan oleh setiap umat Islam justru melakukan tindakan tidak bermoral dengan menikahi perempuan di bawah umur? Dalam artikel yang berjudul Understanding Aisha’s Age: An Interdiciplinary Approach, kedua penulis ini menilai bahwa kritik terhadap Islam melalui pernikahan Nabi saw. dan Aisyah r.a. merupakan suatu kekeliruan logika yang berasal dari paradigma presentisme, yaitu anakronisme tafsir tentang sejarah berdasarkan kondisi hari ini yang tidak sesuai dengan realitas di masa lalu. Sederhananya, kita tidak bisa menilai apa yang dilakukan oleh kakek kita berdasarkan apa yang kita lakukan hari ini.

Semua manusia terikat di dalam konteks ruang dan waktu. Tentu saja, seperti yang dinyatakan oleh Ali dan Brown, ruang dan waktu bisa tidak signifikan ketika dihadapkan pada penilaian moral. Pembunuh adalah pembunuh. Demikian juga, pemerkosa tetap pemerkosa. “Tetapi bagaimana kita menilai situasi-situasi dari pembunuh, perampok, atau pemerkosa sangat bergantung pada konteks di mana mereka terikat.. Dan menentukan konteks-konteks tersebut bukan perkara mudah, terutama ketika konteks itu berbeda dengan kita. Dengan kata lain, ketika mempelajari sejarah, segala sesuatu tidak selalu seperti yang terlihat.”

Dalam konteks ini, kita harus selalu mengingat bahwa orang-orang di masa lalu memiliki definisi dan konsep yang berbeda dengan apa yang kita pahami hari ini tentang masa kanak-kanak, dewasa, dan usia menikah. Merupakan suatu kecerobohan bila kita menganggap bahwa mereka yang hidup di masa lalu tidak memiliki pertimbangan-pertimbangan mengenai kedewasaan fisik dan psikososial. Anggapan bahwa masyarakat hari ini lebih beradab ketimbang mereka yang hidup di masa lalu adalah kesimpulan yang bertentangan dengan temuan ilmu pengetahuan dan sejarah.

Ali dan Brown memperlihatkan bagaimana pernikahan, usia biologis, dan pubertas perempuan memiliki standar yang berbeda serta mengalami perubahan di setiap zaman. Perempuan pada era Romawi, misalnya, lazim menikah di usia antara 14 dan 15 tahun. Tetapi, mereka dapat saja berhubungan seksual sejak usia 7 tahun. Demikian juga, seperti yang diperlihatkan oleh para pakar bioarkeologi, seperti Mary Lewis, Sian Halcrow, dan Nancy Tayles, usia biologis perempuan terikat dengan lingkungan sosial, budaya, dan pengalaman masing-masing. Terakhir, sejumlah studi turut menunjukkan bahwa pubertas mengalami perubahan di dalam tarikh. Perempuan pada masa Revolusi Industri di Eropa abad ke-18 dan ke-19, umpamanya, mengalami pubertas di usia 14 tahun. Akan tetapi, hari ini, perempuan dapat mengalami fase pubertas bahkan ketika baru memasuki usia 6 tahun. Mengacu pada temuan-temuan ini, seharusnya tidak sulit bagi kita untuk memahami pernikahan Nabi saw. dengan Aisyah r.a. sebagai suatu hal yang lumrah pada masanya.

Hal terakhir yang juga menarik dari uraian Ali dan Brown adalah diskusi data antara penjelasan ulama tentang hadis Aisyah r.a. sedang bermain boneka dengan temuan antropologi. Hadis tentang Aisyah r.a. dan bonekanya kerap dijadikan sebagai bukti oleh mereka yang ingin membangun opini bahwa istri Nabi saw. tersebut belum cukup dewasa ketika menikah. Akan tetapi, Ibnu Hajar al-‘Asqallani (w. 1449 M.) sejatinya telah membantah opini ini. Dalam pandangannya, momen tersebut terjadi ketika Aisyah r.a. berusia 14 tahun atau telah melewati masa pubertas. Sebagai tambahan, temuan antropolog, Laurie Wilkie, menunjukkan bahwa boneka tidak identik sebagai permainan anak-anak di dalam kebudayaan masyarakat lampau.

Demikianlah secuil perdebatan di sekitar usia Aisyah r.a. kala menikah dengan Nabi saw. dalam narasi kajian sejarah interdisipliner yang dilakukan oleh Asadullah Ali dan Jonathan Brown. Dari kedua sejarawan Islam ini kita belajar bahwa presentisme merupakan musuh utama ketika kita berupaya memahami apa yang terjadi di masa lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here