Memori Balaroa

Wilayah Balaroa Pasca Bencana Gempa Bumi dan Likuefaksi (Sumber: Peta Google)

Atas nama kenangan, bagi saya, Yogyakarta bukan sekedar kota dengan batas-batas geografis. Ia adalah peristiwa yang menceburkan saya ke dalam kubangan pengalaman yang membentang dari romantis hingga tragis. Tahun 2006, ketika kota pelajar itu diguncang gempa bemagnitudo 6,9 SR, saya dipaksa meringkuk di bawah reruntuhan rumah kos selama satu jam, berteriak minta tolong, merapal doa-doa, dan merasakan sensasi berada dekat dengan ajal. Takut? Sudah pasti. Saya belum berada di level meditatif para master sufi yang sanggup merayakan kematian dengan senyuman. Dua belas tahun berselang, sekali lagi, saya dihadapkan dengan bencana gempa bumi.

Petang, pukul 18:02, saya belum beranjak dari kampus IAIN Palu ketika gempa bumi dengan kekuatan 7,4 SR itu mengguncang. Intuisi mengarahkan saya untuk menghambur keluar dari gedung berlantai tiga milik Fakultas Syariah. Alhamdulillah, berkat pengalaman ketika gempa bumi di Yogya, kali ini saya merasa lebih tenang. Ketika guncangan itu reda, saya masuk kembali ke dalam gedung untuk mengambil komputer jinjing yang tertinggal di dalam ruangan. Saya mematikannya, memasukkannya ke dalam tas, mengunci ruangan, bergegas menuju kendaraan, lalu pulang. Seminggu berselang, saya tahu, tidak ada gunanya mengunci ruangan petang itu. Ruangan tempat di mana saya biasa bekerja tak lagi berbentuk akibat terjangan gelombang tsunami.

Seperti pepatah lain ladang lain belalang, gempa bumi di Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala) menyuguhi saya pengalaman yang berbeda. Kerusakan fisik dari gempa bumi di Palu yang lebih menyeramkan ketimbang di Yogya membuat indera penciuman saya berkenalan dengan aroma bangkai mayat yang terbawa angin dari Kelurahan Balaroa yang berjarak 200 meter dari tempat saya tinggal. Saya pun tahu bahwa saya ternyata sanggup melihat jasad-jasad yang dipisahkan oleh ajal dari nafasnya lalu dimasukkan ke dalam kantong-kantong jenazah oleh petugas-petugas SAR dan TNI.

Akses dan pasokan sandang, pangan, dan papan yang lumpuh akibat bencana seketika mengubah wujud trauma dan kepanikan warga menjadi barbarisme. Saya tidak bisa membenarkan penjarahan, tetapi itulah yang terjadi. Memasuki hari kedua, di depan mata saya, warga membongkar Alfamidi di Jalan Kinduri, Kota Palu, lalu menguras seluruh isinya. Pom bensin, pusat perbelanjaan, mesin ATM, hingga lembaga pendidikan tak luput dari penjarahan.

Pasokan kebutuhan pokok di minggu pertama yang lumpuh pasca bencana memaksa saya wara-wiri untuk mengambil air guna memenuhi kebutuhan keluarga serta mandi dengan cara mengantri bersama warga laki-laki di salah satu titik mata air yang tersembunyi di balik gudang gas Elpiji milik Pertamina di Kelurahan Donggala Kodi. Di tempat inilah, sejak kembali ke Kota Palu pada tahun 2008, untuk pertama kalinya, saya menikmati diskursus ruang publik warga Donggala Kodi.

Berbekal pengetahuan bahasa Kaili yang terbatas serta dibumbui oleh perasaan senasib sebagai sesama korban bencana, kehangatan antara saya dengan warga setempat mudah terbina. Di situ saya menyimak banyak cerita, salah satunya perihal likuefaksi yang mengubah lanskap sebagian besar Kelurahan Balaroa hingga kini selaras dengan amsal di dalam Surat Hud (11): 82, “Kami jadikan bagian atasnya menjadi bawahnya.”

Sore itu, sembari menunggu giliran mandi, salah seorang warga Keluarahan Donggala Kodi yang mengaku telah berusia 79 tahun berkisah dalam bahasa Kaili tentang memori kolektif mereka. “Semua orang tua di sini tahu, di Balaroa itu ada pusat laut (Kaili: pusen-tasi). Kalau kepala kerbau dilemparkan ke dalamnya, besok, kepala kerbau itu akan muncul di pantai Talise. Balaroa itu daerah rawa. Saat air laut di Teluk Palu pasang, genangan air di Balaroa ikut naik.”

Ketika saya mengkonfirmasi kisah di atas, semua orang tua di Kelurahan Donggala Kodi yang saya temui mengamininya. Sayang sekali, pengetahuan lokal (indigenous knowledge) masyarakat sekitar tentang realitas topografi Balaroa tak pernah sampai ke telinga penduduk yang mulai mukim sejak perumahan nasional kedua di Kota Palu dibangun di daerah tersebut pada tahun 1982. Ketika gempa bumi yang disertai likuefaksi menghancurkan lebih dari 1400 rumah warga Balaroa, narasi topografis wilayah ini justru mencuat ke permukaan.

Dari Harian Kompas saya membaca, masyarakat Sulteng di masa lalu pada dasarnya memiliki kearifan terkait bencana dengan menamai daerah-daerah mereka berdasarkan fenomena alam yang pernah menimpa wilayah tersebut. Balaroa, misalnya, dahulu bernama Tagari Lonjo yang berarti terbenam dalam lumpur pekat. Tetapi, di mana pengetahuan ini sebelum gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi 28 September 2018?

Setelah membaca artikel di harian yang sama berjudul “Pengetahuan Lokal Penyelamat Hayat”, perasaan saya semakin tak karuan. Saya ingin marah pada penduduk Kota Palu, termasuk pada diri saya sendiri, karena selama ini abai akan pentingnya merawat memori dalam beragam bentuk. Ya, saya mengetik tulisan ini dalam keadaan marah. Dan sebelum segalanya semakin runyam, izinkan saya menyudahi tulisan ini. Tabik!

Baca artikel “Pengetahuan Lokal Penyelamat Hayat” di tautan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *