BADAI UANG

Origin dan Abu Hamid al-Ghazali

BADAI UANG

Origin karya Dan Brown

Saya harus membaca dua pertiga isi buku setebal 511 halaman ini untuk menebak pembunuh Edmond Kirsch. Dalam kasus saya, lewat Origin, sekali lagi, Dan Brown berhasil memerangkap pembacanya dalam thriller beralur cepat yang dijejali isu-isu sains, seni, dan agama.

Edmond Kirsch adalah ahli di bidang game theory dan computer modelling. Kepiawaiannya di kedua bidang ini tampak dari kemampuannya memprediksi ragam isu faktual, seperti krisis keuangan di Eropa. Beragam pencapaiannya di bidang teknologi komputer membuat sosoknya didewakan oleh para penggemarnya.

Ketika masih duduk di bangku kuliah, Kirsch pernah menjadi mahasiswa Robert Langdon di Universitas Harvard. Ibu Kirsch adalah seorang biarawati yang mati bunuh diri akibat beban psikologis. Tersiar kabar, sebelum bunuh diri, sang ibu menjadi korban persekusi di gerejanya. Dipicu oleh amarah terhadap apa yang dialami oleh ibunya, Kirsch memilih hidup sebagai ateis. Tidak berhenti sampai di situ, ia berniat menghancurkan agama lewat musuh abadinya: sains.

Bagi Kirsch, hanya ada satu cara untuk menghancurkan “candu” agama, yaitu memberikan jawaban terhadap pertanyaan paling mendasar sepanjang sejarah umat manusia: dari mana kita berasal dan kemana kita akan pergi? Selama ini, jawaban dari kedua pertanyaan tersebut hanya disediakan oleh agama. Ketika sains mampu menyajikan jawaban yang masuk akal, Kirsch percaya, di saat itu juga, agama akan hancur.

Untuk menjawab pernyataan di atas, Kirsch membuat sebuah super komputer yang ia namakan E-Wave. Ia mendesain Super komputer ini sebagai simulator mesin waktu yang bisa melihat ke masa terawal dan terakhir dari keberadaan umat manusia di bumi.

Sebelum mempresentasikan temuan yang diklaim akan menghancurkan pengaruh agama, di Barcelona, Kirsch terlebih dahulu mengkonsultasikan temuannya bersama tiga pemuka agama dunia, yakni Uskup Valdespino (Katolik), Rabi Yehuda Koves (Yahudi), dan Allamah Syed al-Fadl (Islam). Seminggu berselang dari pertemuan tersebut, Kirsch memutuskan untuk mengumumkan temuannya di Museum Guggenheim, Bilbao, Spanyol.

Ketika Kirsch sedang mempresentasikan temuannya, Robert Langdon, yang turut hadir, mendapat pemberitahuan mendadak dari aplikasi personal assistant canggih buatan Kirsch. Winston, nama aplikasi itu, memberitahu Langdon perihal ancaman mendadak dari nama asing yang tidak maktub dalam daftar tamu undangan Kirsch. Segera setelah medengarkan pemberitahuan itu, Langdon menghambur ke tengah kerumunan dengan maksud memberi pesan agar Kirsch, yang berdiri di panggung, merunduk. Sayang, Kirsch terlalu fokus pada presentasinya dan tidak melihat aba-aba dari Langdon. Sebutir peluru menembus keningnya. Krisch jatuh tersungkur. Tewas.

Perjalanan Langdon bersama Ambra Vidal guna mengungkap misteri di balik simbol seni, puisi, sains, dan agama dimulai dari sini, di Bilbao, dan berakhir di Barcelona, di pusat komputer yang terletak tidak jauh dari markas Leonel Messi dkk. Mengingat karakter karya-karya Dan Brown yang penuh dengan teka-teki, maka rasanya tidak elok bila saya memberikan bocoran siapa otak di balik kematian Edmond Kirsch. Silakan anda membaca Origin dan menikmati sensasinya.

Walakhir, kehadiran Brown di perhelatan Sharjah International Book Fair yang ke-6 tampak turut memberi warna hingga lanskap Kota Sharjah turut tampil di dalam Origin. Boleh jadi, persentuhan Dan Brown dengan dunia Islam di Timur Tengah belakangan ini berperan sebagai pemicu, sehingga Origin menjadi novel sekuel Robert Langdon yang paling banyak memuat informasi tentang pencapaian Islam di bidang sains.

Ketika menarasikan pencapaian sains Islam, lewat presentasi Kirsch, pembaca akan menemukan paparan yang menyebut nama Abu Hamid al-Ghazali sebagai sosok yang paling bertanggungjawab terhadap kematian tradisi keilmuan dalam Islam (halaman 111-112). Di bagian ini, Dan Brown terlihat merujuk pada karya-karya sarjana Barat pengikut Ernest Renan yang menampilkan al-Ghazali sebagai aktor antagonis dalam tradisi sains Islam. Andai riset Brown untuk Origin merujuk ke karya-karya yang lebih baru, seperti karya Frank Griffel (Islam and Rationality: the Impact of al-Ghazali), tampilan al-Ghazali dalam Origin mungkin lebih… Ah, sudahlah!

BADAI UANG

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *