From One Dollar to One Billion Dollars Company

Buku - From One Dollar to One Billion Dollars CompanySaya masih ingat, ketika berstatus mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, salah seorang dosen saya menyatakan bahwa tujuan menjadi sarjana tafsir hadis bukan menjadi ahli tafsir Alquran dan hadis, tetapi justru untuk menjadi komentator hasil penafsiran orang lain. Sayang sekali, belakangan ini, makna asosiatif dari kata komentator telah rusak akibat perilaku para cenayang sepakbola yang kerap tampil kemayu di layar kaca sembari berlindung di balik sebutan komentator. Ya, mereka memang lebih tepat disebut cenayang oleh kebiasannya menebak-nebak, seperti menerka formasi apa yang akan dimainkan oleh Carlo Ancelotti, atau apakah Mou Si Mulut Besar akan memainkan Drobga pada babak kedua kala Chelsea tertinggal 2-1 dari Persib Bandung, atau, dan ini yang paling parah, berapa skor akhir pertandingan antara Persipal melawan Barcelona.

Komentator itu seharusnya seperti Rhenald Kasali. Paling kurang, demikian yang saya pahami ketika melewati halaman demi halaman dari buku yang ia tulis bersama mantan CEO Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, yang diberi judul From One Dollar to One Billion Dollars Company. Di buku ini, Kasali tidak sedang bertindak layaknya komentator sepakbola. Ia tidak sedang menebak-nebak apa yang akan terjadi, tetapi memetakan yang sudah terjadi di perusahaan penerbangan milik negara dalam satu dekade masa kepemimpinan Satar.

Continue reading From One Dollar to One Billion Dollars Company

Rhenald Kasali: Rektor-rektor Administratif – Sengkarut Perguruan Tinggi

Opini Rhenald Kasali di bawah ini pernah dimuat di Harian Kompas. Akan tetapi, tulisan di bawah ini saya salin-tempel dari situs Rumah Perubahan

———————————————-

Rektor-rektor Administratif – Kompas, 27 Agustus 2013

Foto Rhenald KasaliPernah ada dalam pikiran kita bahwa universitas tertentu adalah “barometer pembaruan”, mahasiswanya agen perubahan, dan kampusnya dipimpin rektor inspiratif. Prof Mahar Mardjono (UI),  dokter ahli syaraf  berani mengusir tentara dari kampus dan menolong mahasiswa yang dihajar aparat saat menuntut perubahan. Rektor pertama UGM, Prof Dr M Sardjito dikenal sebagai peracik obat dan vitamin untuk tentara pejuang.

Di Bogor, rektor IPB, Prof Andi Hakim Nasution  memperkenalkan Sistem Panduan Bakat penerimaan mahasiswa baru, yang  berkembang menjadi Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Ia juga mewarnai  kaum muda memggeluti ilmu sains.

Continue reading Rhenald Kasali: Rektor-rektor Administratif – Sengkarut Perguruan Tinggi