Justinianus dan Kita

Kaisar JustinianusTak ada yang salah dengan niat Kaisar Bizantium, Justinianus. Sebagai seorang penganut Kristen Ortodoks, wajar jika ia ingin memisahkan ajaran Kristus dari anasir-anasir paganisme. Oleh niat baik ini, ia menutup sekolah tinggi filsafat di Athena, karena dianggap bersimpati pada kaum pagan. Di abad ke-6 M, Justinianus pasti tak mengira bahwa penutupan sekolah tinggi itu akan berdampak buruk bagi peradaban Yunani. Sejak saat itu Yunani tak pernah kembali ke puncak kejayaannya sebagai pion filsafat dan ilmu pengetahuan. Bahkan, saat ini, Yunani nyaris menjadi negara gagal.

Tentu kita tidak menginginkan Indonesia bernasib sama seperti Yunani. Oleh karena itu, momentum perbaikan setelah era reformasi patut terus didukung, di mana salah satu bentuk dukungan itu adalah tanggung jawab serta kepeduliaan kita terhadap proses pendidikan di lembaga pendidikan tinggi untuk mendiskusikan beragam isu tanpa campurtangan negara atau ormas tertentu yang kerap dilindungi aparat pemerintah. Maka ketika seorang kawan mengirim kabar via pesan singkat yang menghebohkan perihal pembatalan diskusi buku Irshad Manji di UGM (9/5/2012) akibat tekanan ormas-ormas tertentu, hati saya langsung tak nyaman.

Continue reading Justinianus dan Kita