Kesan dari SLIMS7 Cendana Stable

TBBM AKC JOGLO SEMARSaya tidak ingat lagi kapan persisnya. Yang pasti, beberapa tahun lalu, saya sempat memasang (install) aplikasi berbasis web, Senayan, untuk katalog online Perpustakaan Mini Nemu Buku (PMNB) di Kota Palu. Sayang sekali, katalog online itu kini tak lagi aktif.

Beberapa tahun berselang, saya kembali memasang Senayan untuk dua perpustakaan dalam satu minggu terakhir ini. Yang pertama, adalah Perpustakaan Universitas Alkhairaat Palu atas permintaan Alfagih Mugaddam dan, yang kedua, Taman Bacaan Bende Mataran milik Anand Krishna Center (AKC) cabang Jogja, Solo, dan Semarang (Joglo Semar) atas permintaan Ahmad Syukri.

Continue reading Kesan dari SLIMS7 Cendana Stable

Membaca Realitas dari “Bawah”

Buku - Selfie karya Neni MuhidinJudul Buku: Selfie: Sewindu Catatan dari Palu

Penulis: Neni Muhidin

Halaman: 330 + vi

Penerbit: Nemu Publishing

Tahun: Februari 2015

Majalah Tempo membuka tahun 2015 dengan wawancara bersama Cindy Adams. Di sana kita bisa menemukan bagaimana perempuan Amerika ini terkejut ketika disuguhi fakta bahwa buku autobiografi Sukarno yang ia tulis telah diselewengkan. Konon di edisi lawas buku berjudul Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat terbitan Gunung Agung itu maktub paragraf yang sejatinya tidak pernah ada di dalam edisi asli berbahasa Inggris. Walaupun pelaku penyelewengan ini belum terungkap, tidak bisa disalahkan bila lirik curiga tertuju kepada rezim Orde Baru. Kiranya kita semua mafhum: bahwa penambahan serta pengurangan substansi di dalam suatu karya agar sejalan dengan ideologi penguasa merupakan salah satu tanda rezim despotik.

Continue reading Membaca Realitas dari “Bawah”

Literasi dan Konflik Sosial

Lewat puisinya, sastrawan Taufiq Ismail mengaku malu menjadi orang Indonesia. Pasalnya, di negeri ini, memang banyak persoalan memalukan. Kekerasan dalam konflik sosial antara sesama anak bangsa adalah salah satunya. Dan, naam, ketika kita bicara perkara konflik sosial di Indonesia, Propinsi Sulawesi Tengah tak pernah luput disebut. Terhadap kenyataan ini, haruslah warga Sulawesi Tengah merasa malu, seperti Taufiq Ismail. Tak punya rasa malu, menurut Nabi Muhammad saw., sama dengan tak punya iman.

Di minggu ini, masyarakat Kota Palu dan Sulawesi Tengah kembali dirundung persoalan konflik sosial laten yang terjadi di Kelurahan Nunu dan Tavanjuka. Konflik ini diidentifikasi telah terjadi sejak tahun 1960-an. Banyak cara telah ditempuh pemerintah, namun konflik belum juga selesai. Oleh kenyataan ini, tak heran jika ada pihak merasa putus asa mencari formula solusi konflik di antara kedua kelurahan tadi. Tetapi, putus asa pun tak baik. Paling tidak, begitu anjuran di dalam al-Quran: tak boleh berputus asa dari kasih sayang Tuhan.

Continue reading Literasi dan Konflik Sosial

140 Karakter Karakter dan Biografi Steve Jobs

Gambar Logo TwitterTwitter memang mirip dengan Facebook. Mereka terikat pada prinsip dasar jejaring sosial yang menghubungkan siapa saja di berbagai belahan bumi dengan sama rata. Tak peduli ia artis atau bukan, jika menjadi warga Facebook atau Twitter, maka ia sama saja dengan tukang becak yang juga berfacebook dan bertwitter ria. Meski sama-sama berstatus jejaring sosial, masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Twitter tak mendukung beragam aplikasi, seperti chatting, game, bahkan panggilan video layaknya Facebook.
Twitter seolah memiliki dunia sendiri. Twitter sederhana. Ia hanya memperkenankan penggunanya mengunggah status tak lebih dari 140 karakter.

Walau sangat terbatas, faktanya, tak sedikit orang yang memanfaatkan Twitter untuk menulis narasi yang pada umumnya bersambung dan dibubuhi hashtag (#) khusus. Bahkan, beberapa praktisi dan penulis, seperti Goenawan Mohamad, lazim memberi “kuliah” di Twitter, di mana hal ini dikenal dengan sebutan Kultwit. Hampir setiap hal yang diunggah oleh GM, sapaan singkat Goenawan, di pagi hari dikumpulkan oleh penerbit Gramedia dan dicetak dalam bentuk buku yang diberi judul Pagi dan Hal-hal yang dipungut Kembali: Sejumlah Epigram.

Continue reading 140 Karakter Karakter dan Biografi Steve Jobs

Membaca Sastra itu Penting

Buku - Pendidikan Karakter Berbasis SastraBukan sekali Hilda Rumambi mengungkapkan kegalauannya perihal kesusastraan di Negeri Pak Beye ini. Di matanya, pendidikan, wacana, dan ketokohan sastra Indonesia berkembang lambat, di mana hal ini bertolak belakang dengan kesusastraan di Barat. Sebagai alumni Jurusan Sastra Inggris di Universitas Sam Ratulangi, Hilda Rumambi yang akrab disapa Oma Hilda itu paham luar-dalam hal ihwal sastra Barat. Bahkan, hingga kini, ia mengaku masih suka menyambangi forum-forum sastra di dunia internet demi sekedar mengikuti semua tetek-bengek kesusastraan dunia.

Tesis Oma Hilda soal perkembangan sastra Indonesia di atas kiranya tak perlu dibantah. Jauh sebelum Sang Oma menumpahkan kegalauannya itu, di tahun 1997, Taufik Ismail lebih dulu melakukan riset sastra di tiga belas negara di dunia. Dari riset ini, Taufik sampai pada kesimpulan memilukan sekaligus memalukan: siswa di Indonesia tak pernah mengenal sastra hingga bangku SMA. Setelah era Algemeene Middelbare School (AMS), atau sekolah setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, pelajar di tingkat SMA hanya membaca 0-2 buku sastra. Fenomena ini tak sebanding dengan negara-negara lain di dunia. Di Malaysia, misalnya, para siswa diwajibkan membaca 6 judul karya, di Swiss dan Jepang 15 judul, dan Amerika adalah yang tertinggi, yakni 32 judul buku sastra. Hasil riset Taufik inilah yang menjadi sebab, yang mengantar Rohimin M. Noor menulis buku berjudul Pendidikan Karakter Berbasis Sastra: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif.

Continue reading Membaca Sastra itu Penting