Ketika Meghan Trainor Hadir di Poso

Prapatan PosoSaya tidak bisa menyalahkan Anda bila percaya begitu saja pada apa kata media tentang situasi Poso belakangan ini. Begitulah media: tidak jarang ia bersalin rupa menjadi “senjata” perusak paling mematikan bagi akal sehat manusia. Maka, bila akhirnya Anda ikut-ikutan mensinonimkan kata Poso dengan gerombolan teroris Santoso, lantas mengira bahwa yang ada di kabupaten ini hanyalah aksi kejar-kejaran antara teroris dan aparat, sekali lagi, itu bukan salah Anda.

Saya mengetik tulisan ini sehari setelah kembali dari Poso. Tidak ada masalah dalam perjalanan 4 setengah jam dari Palu ke Poso dengan menumpang mobil milik travel New Armada. Begitu juga sebaliknya. Tidak ada sweeping pemeriksaan KTP terhadap siapa saja yang keluar masuk kabupaten ini, meski di Poso saat itu merupakan penghujung masa operasi perburuan gerombolan teroris Santoso di bawah sandi Camar Maleo.

Sesampainya saya di Poso, saya mendapati kabupaten ini masih sama dengan dulu, 4-5 tahun yang lalu, ketika saya masih aktif mengajar di STAI Poso. Tidak ada tanda-tanda bahwa kabupaten ini pernah menjadi tempat perseteruan sosial. Aktifitas masyarakatnya sudah sangat normal.

Memang, sebelum saya berangkat ke Poso, tersiar berita tentang beberapa insiden penembakan aparat serta penangkapan sejumlah anggota jaringan teroris Santoso. Yang aneh, ketika saya di Poso dan menanyakan itu kepada Erik, pemuda Poso yang menemani saya kali ini, ia mengaku tidak tahu-menahu soal itu. “Orang Poso sudah tidak perduli dengan Santoso,” katanya. Continue reading Ketika Meghan Trainor Hadir di Poso