Ibn Khaldun dan Almaany.com

Sampul Muqaddimah karya Ibn Khaldun dalam bahasa Inggirs (Foto: businessinsider.com)

Persentuhan saya dengan Muqaddimah karya Ibn Khaldun (1332-1406 M.) untuk pertama kali terjadi ketika saya duduk di bangku kuliah S1 di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kala itu, yang saya baca adalah edisi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Tidak banyak yang saya ingat dari bacaan saat itu kecuali kritik yang dilontarkan Ibn Khaldun kepada al-Thabari ketika menafsirkan ayat Irama dzat al-‘imad (Q.S. al-Fajr [89]: 7). Kini, ketika saya diminta untuk mengampu mata kuliah Kajian Kitab Klasik di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), IAIN Palu, saya kembali mendatangi Muqaddimah, karena satu alasan yang bisa kita perdebatkan: Ibn Khaldun adalah tokoh pencetus sosiologi, bukan Auguste Comte. Tidak seperti belasan tahun yang lalu, kali ini saya memilih Muqaddimah dalam bahasa Arab.

Continue reading Ibn Khaldun dan Almaany.com

Pil Belajar dari Dosen IAIN Palu

Buku - The Spirit of LearningMereka yang akrab dengan tema-tema spiritual modern ala gerakan New Age pasti mafhum bahwa manusia yang hidup di dunia ini terikat di dalam suatu jalinan medan energi. Sayang sekali, tidak banyak orang di luar sana yang menyadari keberadaan medan energi ini dan mencari tahu bagaimana cara memberdayakannya, sehingga kita seringkali terjebak di belantara kehidupan, mengalami defisit energi, lalu merampas energi orang-orang di sekeliling kita dengan cara yang paling umum: sibuk mencari-cari kesalahan orang lain.

Syukur alhamdulillah. Tidak semua orang merusak medan energi kehidupan. Meski sedikit, masih ada saja orang baik yang mau berbagi motivasi kepada mereka yang mengidap defisit energi. Dalam skala tertentu, tak ada salahnya jika memasukkan orang-orang defisit energi dan miskin motivasi ini ke dalam maksud kata munkar, sebagaimana yang tersua dalam narasi hadis Nabi saw., “Man raa minkum munkaran..” Untuk menyikapi orang-orang munkar jenis ini, sesuai tuntunan Nabi saw., ada tiga cara yang bisa ditempuh. Pertama, dengan tulisan sebagai bagian dari kerja tangan; kedua, lewat ceramah sebagai bentuk ejawantah lisan; dan ketiga, melalui doa sebagai perwujudan dari kerja hati.

Continue reading Pil Belajar dari Dosen IAIN Palu