Berpikir Tertib dan Bang Haji Rhoma

Foto Rhoma IramaTidak seharusnya buku ini dijual murah di pameran buku berskala nasional yang saban tahun di gelar berkali-kali di Yogyakarta. Bukan karena nama besar penulisnya di jagat filsafat di Tanah Air, tetapi lebih karena isi buku ini yang baik dan menyehatkan. Tetapi, apa boleh buat, demikianlah faktanya. BukuBerfilsafat dari Konteks karya Franz Magnis-Suseno ini saya beli di pameran buku beberapa tahun lalu dengan harga murah.

Buku ini memang sudah lama terbit. Yang ada di tangan saya adalah terbitan tahun 1999. Dan, saya tidak tahu pasti apakah buku ini masih diterbitkan atau tidak oleh penerbitnya, PT. Gramedia Pustaka Utama. Walhasil, seperti yang saya sebut tadi, buku ini baik dan menyehatkan. Apakah filsafat bisa menyehatkan? Tentu saja. Karena filsafat, seperti yang disebut oleh Magniz, melatih setiap orang untuk berpikir tertib, sistematis, rasional, dan ilmiah. Di luar filsafat, data ilmiah menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh orang sakit seringkali disebabkan oleh pikirannya. Bila berpikir kita tertib dengan bekal pengetahuan filsafat yang baik, marilah berharap: semoga kita tak termasuk di antara orang-orang yang sakit karena pikiran.

Continue reading Berpikir Tertib dan Bang Haji Rhoma

Pelajaran dari Karl Marx untuk Para Lelaki

Foto Karl MarxPeter Singer boleh jadi benar ketika memposisikan Karl Marx berada di bawah Yesus dan Muhammad. Untuk mendukung penilaiannya ini, dalam Marx: A Very Short Introduction, Singer berargumen bahwa empat dari sepuluh penduduk bumi ini pernah mendengar nama Marx atau, paling kurang, hidup di bawah kekuasaan yang ideologinya beralas pada Marxisme. Tetapi, justru argumen inilah yang menjadi masalah, karena mengukur pengaruh seorang tokoh pada orang lain sejatinya bukan soal angka.

Tidak ada orang terpelajar di bidang filsafat dan ilmu sosial yang tega berbuat curang dengan menafi peran besar Marx bagi bentuk peradaban modern hingga saat kita bernafas saat ini. Hanya saja, yang penting digarisbawahi dalam persoalan besar pengaruh Marx adalah bahwa Marx juga dibesarkan oleh komunitas interpretasinya. Ketika ia wafat di London tahun 1883, pada saat yang sama, Marx telah menjadi teks dan sejak saat itu pemikirannya membentuk komunitas-komunitas interpretasi di banyak negara, tak terkecuali di Indonesia. Naam, demikianlah hukumnya: tokoh yang sangat besar, seperti Yesus, Muhammad, dan Karl Marx, haruslah mempunyai komunitas interpretasi yang terdiri dari golongan besar dan dengan nama-nama besar pula.

Continue reading Pelajaran dari Karl Marx untuk Para Lelaki

Franz Magnis-Suseno – Dikti di Seberang Harapan?

Tulisan di bawah ini adalah milik Romo Franz Magnis-Suseno SJ. Saya mengetik ulang dan menampilkannya di sini.

—————————————————-

Oleh Franz Magnis-Suseno SJ

Romo Franz Magnis-SusenoPada tanggal 27 Januari lalu Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengirim surat edaran kepada semua perguruan tinggi di Indonesia. Isinya mengejutkan banyak orang, khususnya pihak-pihak terkait.

Sesudah mengeluhkan bahwa keluaran (output) karya ilmiah perguruan tinggi Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan Malaysia, diberikan ketentuan: mulai Agustus 2012, untuk bisa lulus sarjana harus dihasilkan makalah yang terbit pada sebuah jurnal ilmiah, untuk lulus magister makalah harus terbit dalam jurnal ilmiah nasional, dan untuk mau menjadi doktor harus di jurnal internasional.

Astagfirullah! Itukah obat bagi animea output ilmiah bangsa Indonesia? Muncul dua pertanyaan. Pertama, dapatkah rencana Pak Dirjen direalisasikan? Kedua, kalau dapat direalisasikan, siapa yang akan membaca ribuan makalah setiap bulan di jurnal-jurnal itu?

Continue reading Franz Magnis-Suseno – Dikti di Seberang Harapan?