Biografi Steve Jobs

Buku - Steve Jobs by Walter IsaacsonJudul: Steve Jobs

Penulis: Walter Isaacson

Penerjemah: Word++ Translation Service & Tim Bentang

Penerbit: Penerbit Bentang

Tahun: 2011

Gila kendali. Dua kata inilah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Steve Jobs. Baginya, setiap produk Apple Computer tidak sekedar temuan teknologi, tapi sebuah karya seni bernilai tinggi. Jobs menganggap, menambahkan perangkat keras atau perangkat lunak pada produk teknologi Apple sama dengan laku anak jalanan yang menambahkan coretan di lukisan karya Pablo Picasso. Itu jelas haram hukumnya. Inilah yang menjadi alasan mengapa Jobs menutup rapat kode sumber (source code) program serta perangkat keras setiap produk Apple, meski jiwa pemberontak khas peretas (hacker) juga eksis di dalam dirinya.

Naam, Jobs adalah seorang teknolog piawai cum seniman sejati. Tentu saja, ia juga seorang perfeksionis. Ia menuntut kesempurnaan meski harus berdebat dengan anggota tim produksi Apple. Ketika komputer Macintosh dalam tahap produksi, kepada James Ferris, direktur layanan kreatif, Jobs berkeras, “Kita harus membuatnya terlihat klasik sehingga tidak ketinggalan zaman, seperti Volkswagen Beetle.. seni besar menciptakan selera, bukan mengikuti selera.. Itulah yang harus kita lakukan dengan Macintosh.” Jobs tidak hanya menuntut kesempurnaan di sisi tampilan luar produknya, dan ini yang paling ekstrim, ia pernah memaksa timnya untuk mengubah tampilan memori yang akan mereka gunakan di Macintosh, meski bagian tersebut tak akan terlihat oleh konsumen. “Bagian itu sangat indah. Namun lihatlah chip memorinya. Jelek sekali. Garisnya terlalu berdekatan.. Aku ingin agar memori chip itu dibuat seindah mungkin, meskipun tempatnya berada di dalam kotak. Seorang tukang kayu yang hebat tidak akan menggunakan kayu jelek untuk membuat bagian belakang sebuah lemari, meskipun tak seorang pun akan melihatnya,” tegas Jobs.

Continue reading Biografi Steve Jobs

140 Karakter Karakter dan Biografi Steve Jobs

Gambar Logo TwitterTwitter memang mirip dengan Facebook. Mereka terikat pada prinsip dasar jejaring sosial yang menghubungkan siapa saja di berbagai belahan bumi dengan sama rata. Tak peduli ia artis atau bukan, jika menjadi warga Facebook atau Twitter, maka ia sama saja dengan tukang becak yang juga berfacebook dan bertwitter ria. Meski sama-sama berstatus jejaring sosial, masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Twitter tak mendukung beragam aplikasi, seperti chatting, game, bahkan panggilan video layaknya Facebook.
Twitter seolah memiliki dunia sendiri. Twitter sederhana. Ia hanya memperkenankan penggunanya mengunggah status tak lebih dari 140 karakter.

Walau sangat terbatas, faktanya, tak sedikit orang yang memanfaatkan Twitter untuk menulis narasi yang pada umumnya bersambung dan dibubuhi hashtag (#) khusus. Bahkan, beberapa praktisi dan penulis, seperti Goenawan Mohamad, lazim memberi “kuliah” di Twitter, di mana hal ini dikenal dengan sebutan Kultwit. Hampir setiap hal yang diunggah oleh GM, sapaan singkat Goenawan, di pagi hari dikumpulkan oleh penerbit Gramedia dan dicetak dalam bentuk buku yang diberi judul Pagi dan Hal-hal yang dipungut Kembali: Sejumlah Epigram.

Continue reading 140 Karakter Karakter dan Biografi Steve Jobs