Berbeda sejak di Tempat Wudhu

Izinkan saya menyebut lagi kata usang itu: kapitalisme. Ya, berkat kapitalisme, kita mengenal pembagian pasar, antara yang tradisional dan modern. Tradisional untuk yang kumuh, kotor, jorok, dan tidak elok, sedangkan modern adalah yang bersih, rapi, asri, dan elok. Siapa pula yang sanggup menolak berbelanja di pasar modern yang elok itu? Andaipun ada yang menolak, alasannya bukan karena tidak punya fulus, tetapi lebih disebabkan yang bersangkutan mukim di desa, jauh dari kota, tempat pasar modern yang sering kita sebut mal itu berdiri megah.

Kini, lagi-lagi berkat kapitalisme, mal telah berubah wujud menjadi salah satu syarat sebuah tempat disebut kota. Bila kotamu tak punya mal, bersiaplah menanggung beban mental. Telingamu pun harus tebal pada ragam ejekan dari orang yang mengunjungi atau sekedar tahu bahwa di kotamu belum bermal. Sesuai premis ini, maka katakanlah, saat ini Magelang sedang berusaha keras mengangkat derajatnya sekaligus membuat penduduknya tak perlu menanggung beban mental dan bertelinga tebal. Sudah ada sebuah mal megah di kota ini yang bisa dikunjungi oleh siapa saja sejak tahun lalu. Mal itu diberi nama Armada Town Square (Artos).

Continue reading Berbeda sejak di Tempat Wudhu