Tulisan ini Baca-able

Foto Chelsea IslanSastrawan memang tidak sama dengan akademisi ketika menuliskan karyanya dalam bahasa Indonesia. Kalau kamu bergelut di bidang akademik, jangan coba-coba menulis karya ilmiah dengan kosakata, seperti ciyus, kecian deh lo, dan sejenisnya. Kata-kata seperti ini hanya mungkin digunakan bila Anda menulis karya fiksi. Di novelnya yang terbaru, Perempuan Bernama Arjuna: Filsafat dalam Fiksi, Remy Sylado menyantumkan kedua kosakata di atas bahkan tanpa cetak miring sebagai penanda bahwa kata-kata itu belum lagi maktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Tak seperti sastrawan, kelas akademisi memang kaku dalam berbahasa. Bagi kelompok kelas masyarakat yang sukanya mengaku diri sebagai kelas terdidik ini, bila kosakata itu belum tercantum dalam KBBI, maka kata tersebut belum boleh digunakan. Bagi kelompok ini, bahasa seperti berada di ekosistem yang nyaris mati. Kehidupannya ditentukan oleh segelintir orang yang ada di lembaga bahasa.

Continue reading Tulisan ini Baca-able

Fungsi dan Elemen Penting Abstrak dalam Karya Ilmiah

Foto Peer Review ArticleAbstrak merupakan elemen penting dalam sebuah tulisan ilmiah. Pada umumnya, jurnal-jurnal ilmiah menyantumkan abstrak di tiap artikel yang dimuat. Kalaupun ada jurnal yang tidak menyantumkan abstrak, percayalah, paling kurang berdasarkan keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, jumlahnya sangat sedikit.

Jika Anda bertanya: mengapa tulisan ilmiah harus menyantumkan abstrak, Margaret Cargil dan Patrick O’Connor mengajukan tiga alasan berikut sebagai jawabannya:

Continue reading Fungsi dan Elemen Penting Abstrak dalam Karya Ilmiah

Twitter University: Universitas yang Melampaui Ruang dan Waktu

Gambar Logo TwitterKeisengan tidak selalu buruk. Paling kurang, itu yang saya tahu dari hasil memencet menu-menu di situs Twitter. Dari sini saya dibawa masuk ke berbagai informasi tentang produk Twitter. Saya pun akhirnya menjadi tahu bahwa Twitter, ternyata, punya universitas. Ya, Universitas Twitter alias Twitter University.

Di tangan tim pengembang situs jejaring sosial bermodal 140 karakter ini, universitas kini melintasi sekat ruang dan waktu. Kini, kita bisa memiliki apa yang lazim disebut universitas tanpa harus membangun gedung-gedung kelas berlantai lebih dari dua atau menyusun jadwal tatap muka di kelas.

Continue reading Twitter University: Universitas yang Melampaui Ruang dan Waktu

Belajar Meneliti dan Menulis Karya Ilmiah dari Acara MasterChef

Logo MasterChef IndonesiaAcara MasterChef Indonesia sesi III sudah berakhir beberapa bulan yang lalu dengan William Gozali sebagai pemenangnya. Saat acara ini masih tayang, saya sadar: menonton acara ini di sore hari jelang berbuka puasa adalah pilihan yang menyiksa. Tetapi, toh, saya tetap melakukannya.

Nyatanya, hal-hal menyiksa tidak selalu buruk selama itu tidak merugikan orang lain. Paling tidak, dari MasterChef Indonesia sesi III itulah tulisan ini berpijak. Naam, ide tulisan ini memang tidak baru. Yang baru hanyalah saat menuliskannya. Ketika kembali ke kampus dan menemukan banyaknya keluhan mahasiswa-mahasiswa di STAIN Palu – sebentar lagi resmi beralih status menjadi IAIN Palu – terkait sulitnya melakukan penelitian dan menyusun karya ilmiah, saya pun berketetapan hati menuliskan ini.

Continue reading Belajar Meneliti dan Menulis Karya Ilmiah dari Acara MasterChef

Kongres Kebudayaan dan PSSI

Tulisan ini milik Harian Kompas, Minggu, 27 Oktober 2013. Saya mengetik ulang lantas menyematkannya di blog ini.

————————————————-

Kongres Kebudayaan dan PSSI

Logo PSSIOleh Jean Couteau

Butet Kartaredjasa dan “budayawan” lainnya dari Yogyakarta diberitakan kesel terhadap pengelenggara Kongres Kebudayaan. Sebabnya? Digelar di kota perjuangan, mereka tidak diundang pada acara yang konon akbar tersebut. Sebagai tuan rumah, sekaligus pelaku budaya mumpuni, tersinggung dong! Tapi lain Butet, lain pula lakon saya: saya bukan tuan rumah, malah asing, dan justru diundang!

Bisa dibayangkan pikiran-pikiran yang berduyung di benak saya saat menerima undangan untuk bermakalah-ria pada kongres. Mulai dari yang penuh kebanggaan: “Jean, tidak percuma kau malang-melintang puluhan tahun di bidang kebudayaan, akhirnya dapat pengakuan juga,” hingga yang bombastis-intelektual bernada narsis: “Wah! agaknya kini kau menjadi lambang dari keindonesiaan baru, yang terbuka, plural dan humanistis!!!” Dengungan “Indonesia Raya” terbesit sekilas di benak saya. Mengharu-biru, seakan nasib saya mesti selaras dengan nasib bangsa ini…. Mustahil diri ini tidak senang dan tidak bangga!

Continue reading Kongres Kebudayaan dan PSSI

Bahasa dan Nobel Kesusastraan

Tulisan ini milik Majalah Tempo Edisi 7-13 Oktober 2013. Saya menyalin ulang dan menyematkannya di blog ini.

——————————————————

Bahasa dan Nobel Kesusastraan

Oleh: Joss Wibisono

Sebagai pembuka, berikut ini dua dalil.

Pertama, hadiah Nobel Kesusastraan sesungguhnya berkaitan erat dengan bahasa. Mustahil bahasa bisa kita tanggalkan dari karya sastra. Keindahannya tak akan pernah bisa terungkap lewat medium selain bahasa. Pada akhirnya, apa boleh buat, sebuah karya sastra harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar bisa dibaca, dipahami, dan dinilai untuk bisa memperoleh penghargaan tersebut.

Kedua, sungguh mustahil menyebut satu bahasa lebih indah daripada bahasa lain. Karena itu, hadiah Nobel Kesusastraan – yang biasa diumumkan pada Oktober tiap tahun – dianggap harus menyeluruh ke setiap benua, bukan hanya untuk karya berbahasa kolonial (antara lain Inggris, Prancis, dan Spanyol). Jika lima benua sudah mendapat giliran, kita bisa meninjau anak benua. Di sini langsung terlihat karya sastra kawasan Asia Tenggara selalu saja luput. Dimulai pada 1901, dalam 112 tahun sejarah penghargaan ini, tak seorang pun penulis Asia Tenggara pernah memperoleh kehormatan Nobel Kesusastraan.

Continue reading Bahasa dan Nobel Kesusastraan

Berhadapan dengan Kalkulator JSTOR

Foto Aaron SchwartzSaya belum pernah merasa begitu ingin tahu perihal kecanggihan situs penyedia database jurnal internasional, sampai saat ketika saya membaca tulisan Goenawan Mohamad, Promotheus, yang berpijak pada kisah seorang anak muda bernama Aaron Swartz. Ia meretas masuk ke pangkalan data JSTOR, mengunduh 4.8 juta artikel, lalu menyebarkannya untuk mereka yang membutuhkan.

Bagi penggiat di ranah siber, Swartz adalah pahlawan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kematiannya disesalkan oleh banyak orang. Ia dianggap sebagai tokoh, meski masih muda, yang memperjuangkan hak akses informasi, khususnya ilmu pengetahuan, kepada siapa saja. Sikap Swartz tergambar jelas dalam kutipan kata-katanya ini, “Memaksa para akademisi membayar untuk membaca hasil kerja kolega mereka? Memindai seluruh isi perpustakaan tetapi hanya memperkenankan yang sebangsa dengan Google yang membacanya? Menyediakan artikel-artikel ilmiah untuk mereka yang berada di universitas-universitas terdepan di Dunia Pertama, tetapi tidak bagi anak-anak di Dunia Selatan? Ini memalukan dan tidak dapat diterima (Teks aslinya: Forcing academics to pay money to read the work of their colleagues? Scanning entire libraries but only allowing the folks at Google to read them? Providing scientific articles to those at elite univesities in the First World, but not to children in the Global South? It’s outrageous and unacceptable.”

Continue reading Berhadapan dengan Kalkulator JSTOR