Refleksi Kemerdekaan RI ke-69

Pakaiannya sangat putih. Rambutnya begitu hitam. Tidak ada sedikitpun tanda yang memperlihatkan bahwa lelaki itu baru saja menempuh perjalanan jauh melewati padang pasir.

Tidak ada cerita yang menyebutkan bahwa, sebelum masuk, Ia mengucap salam terlebih dahulu. Ia masuk begitu saja. Membelah kerumunan para sahabat, dan langsung duduk di hadapan Nabi saw.

Ia duduk bertumpu pada kedua betisnya di hadapan Sang Nabi. Saking dekatnya, kedua lututnya bersentuhan dengan kedua lutut Nabi saw. Kepada Sang Nabi saw., lelaki misterius yang belakangan diketahui adalah malaikat Jibril itu mengajukan lima pertanyaan. Salah satunya tentang Iman.

Continue reading Refleksi Kemerdekaan RI ke-69

RedOne: Muslim Saleh di balik Kesuksesan Lady Gaga

Foto RedOneKiranya tidak berlebihan bila kita mengumpamakan Ramadan laksana SPBU, tempat singgah sejenak untuk mengisi energi. Buktinya, tidak sedikit umat Islam yang kembali tampak religius setelahnya. Rajin salat, berbicara lebih teratur, dan menguping musik-musik religi.

Wabakdu. Ketika sedang kumpul lebaran bersama keluarga, acara ngobrol-ngobrol kami pun dihiasi musik religi dari penyanyi berdarah Libanon, Maher Zain. Terselip pula obloran singkat di antara saya dan keluarga lainnya bahwa, sebelum banting setir ke aliran musik religi, Maher Zain pernah berduet dengan penyanyi kontroversial, Lady Gaga. Lagu mereka berdua bisa kita temukan dengan mudah di Youtube.

Continue reading RedOne: Muslim Saleh di balik Kesuksesan Lady Gaga

Tulisan ini Baca-able

Foto Chelsea IslanSastrawan memang tidak sama dengan akademisi ketika menuliskan karyanya dalam bahasa Indonesia. Kalau kamu bergelut di bidang akademik, jangan coba-coba menulis karya ilmiah dengan kosakata, seperti ciyus, kecian deh lo, dan sejenisnya. Kata-kata seperti ini hanya mungkin digunakan bila Anda menulis karya fiksi. Di novelnya yang terbaru, Perempuan Bernama Arjuna: Filsafat dalam Fiksi, Remy Sylado menyantumkan kedua kosakata di atas bahkan tanpa cetak miring sebagai penanda bahwa kata-kata itu belum lagi maktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Tak seperti sastrawan, kelas akademisi memang kaku dalam berbahasa. Bagi kelompok kelas masyarakat yang sukanya mengaku diri sebagai kelas terdidik ini, bila kosakata itu belum tercantum dalam KBBI, maka kata tersebut belum boleh digunakan. Bagi kelompok ini, bahasa seperti berada di ekosistem yang nyaris mati. Kehidupannya ditentukan oleh segelintir orang yang ada di lembaga bahasa.

Continue reading Tulisan ini Baca-able

Fungsi dan Elemen Penting Abstrak dalam Karya Ilmiah

Foto Peer Review ArticleAbstrak merupakan elemen penting dalam sebuah tulisan ilmiah. Pada umumnya, jurnal-jurnal ilmiah menyantumkan abstrak di tiap artikel yang dimuat. Kalaupun ada jurnal yang tidak menyantumkan abstrak, percayalah, paling kurang berdasarkan keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, jumlahnya sangat sedikit.

Jika Anda bertanya: mengapa tulisan ilmiah harus menyantumkan abstrak, Margaret Cargil dan Patrick O’Connor mengajukan tiga alasan berikut sebagai jawabannya:

Continue reading Fungsi dan Elemen Penting Abstrak dalam Karya Ilmiah

Twitter University: Universitas yang Melampaui Ruang dan Waktu

Gambar Logo TwitterKeisengan tidak selalu buruk. Paling kurang, itu yang saya tahu dari hasil memencet menu-menu di situs Twitter. Dari sini saya dibawa masuk ke berbagai informasi tentang produk Twitter. Saya pun akhirnya menjadi tahu bahwa Twitter, ternyata, punya universitas. Ya, Universitas Twitter alias Twitter University.

Di tangan tim pengembang situs jejaring sosial bermodal 140 karakter ini, universitas kini melintasi sekat ruang dan waktu. Kini, kita bisa memiliki apa yang lazim disebut universitas tanpa harus membangun gedung-gedung kelas berlantai lebih dari dua atau menyusun jadwal tatap muka di kelas.

Continue reading Twitter University: Universitas yang Melampaui Ruang dan Waktu

Belajar Meneliti dan Menulis Karya Ilmiah dari Acara MasterChef

Logo MasterChef IndonesiaAcara MasterChef Indonesia sesi III sudah berakhir beberapa bulan yang lalu dengan William Gozali sebagai pemenangnya. Saat acara ini masih tayang, saya sadar: menonton acara ini di sore hari jelang berbuka puasa adalah pilihan yang menyiksa. Tetapi, toh, saya tetap melakukannya.

Nyatanya, hal-hal menyiksa tidak selalu buruk selama itu tidak merugikan orang lain. Paling tidak, dari MasterChef Indonesia sesi III itulah tulisan ini berpijak. Naam, ide tulisan ini memang tidak baru. Yang baru hanyalah saat menuliskannya. Ketika kembali ke kampus dan menemukan banyaknya keluhan mahasiswa-mahasiswa di STAIN Palu – sebentar lagi resmi beralih status menjadi IAIN Palu – terkait sulitnya melakukan penelitian dan menyusun karya ilmiah, saya pun berketetapan hati menuliskan ini.

Continue reading Belajar Meneliti dan Menulis Karya Ilmiah dari Acara MasterChef

Kongres Kebudayaan dan PSSI

Tulisan ini milik Harian Kompas, Minggu, 27 Oktober 2013. Saya mengetik ulang lantas menyematkannya di blog ini.

————————————————-

Kongres Kebudayaan dan PSSI

Logo PSSIOleh Jean Couteau

Butet Kartaredjasa dan “budayawan” lainnya dari Yogyakarta diberitakan kesel terhadap pengelenggara Kongres Kebudayaan. Sebabnya? Digelar di kota perjuangan, mereka tidak diundang pada acara yang konon akbar tersebut. Sebagai tuan rumah, sekaligus pelaku budaya mumpuni, tersinggung dong! Tapi lain Butet, lain pula lakon saya: saya bukan tuan rumah, malah asing, dan justru diundang!

Bisa dibayangkan pikiran-pikiran yang berduyung di benak saya saat menerima undangan untuk bermakalah-ria pada kongres. Mulai dari yang penuh kebanggaan: “Jean, tidak percuma kau malang-melintang puluhan tahun di bidang kebudayaan, akhirnya dapat pengakuan juga,” hingga yang bombastis-intelektual bernada narsis: “Wah! agaknya kini kau menjadi lambang dari keindonesiaan baru, yang terbuka, plural dan humanistis!!!” Dengungan “Indonesia Raya” terbesit sekilas di benak saya. Mengharu-biru, seakan nasib saya mesti selaras dengan nasib bangsa ini…. Mustahil diri ini tidak senang dan tidak bangga!

Continue reading Kongres Kebudayaan dan PSSI