Ketika Adele “Hadir” di Poso

Penyanyi AdeleEntah berapa kali sudah saya ke Poso. Walhasil, hari Minggu kemarin (18/3/2012) menjadi kunjungan ke Poso yang tak biasa, karena penyanyi Inggris peraih enam penghargaan di ajang Grammy Award 2012, Adele, ternyata hadir di Poso. Di salah satu kios telepon seluler dengan jasa tambahan “suntik” MP3, yang letaknya tepat di depan Pasar Sentral Poso, laguSomeone Like You milik Adele diputar kencang. Saya bahkan bisa mendengar jelas suara merdu Adele meski berjarak 30 meter dari kios seluler itu. Saya pun heran atas dua perkara: (1) lagu Adele itu ternyata juga bisa dinikmati oleh masyarakat Poso; dan (2) sang empu kios tak hirau pun tak khawatir bahwa, di luar sana, boleh jadi masih ada kelompok tertentu yang menaruh anggapan: menguping suara perempuan bernyanyi sama dengan melakukan maksiat.

Sambil terus berjalan menuju penginapan, yang artinya juga semakin jauh dari suara Adele, saya tersadar bahwa Someone Like You yang diputar kencang itu adalah tanda masyarakat Poso tak se-ndeso yang saya kira. Meski di satu-dua sudut Kota Poso masih tampak bekas-bekas kerusuhan yang dulu pernah ada, proses pemulihan sekaligus perbaikan persepsi sosial-religius di Poso terus berjalan seiring dibukanya beberapa perguruan tinggi baru dan masuknya koneksi internet.

Continue reading Ketika Adele “Hadir” di Poso

Franz Magnis-Suseno – Dikti di Seberang Harapan?

Tulisan di bawah ini adalah milik Romo Franz Magnis-Suseno SJ. Saya mengetik ulang dan menampilkannya di sini.

—————————————————-

Oleh Franz Magnis-Suseno SJ

Romo Franz Magnis-SusenoPada tanggal 27 Januari lalu Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengirim surat edaran kepada semua perguruan tinggi di Indonesia. Isinya mengejutkan banyak orang, khususnya pihak-pihak terkait.

Sesudah mengeluhkan bahwa keluaran (output) karya ilmiah perguruan tinggi Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan Malaysia, diberikan ketentuan: mulai Agustus 2012, untuk bisa lulus sarjana harus dihasilkan makalah yang terbit pada sebuah jurnal ilmiah, untuk lulus magister makalah harus terbit dalam jurnal ilmiah nasional, dan untuk mau menjadi doktor harus di jurnal internasional.

Astagfirullah! Itukah obat bagi animea output ilmiah bangsa Indonesia? Muncul dua pertanyaan. Pertama, dapatkah rencana Pak Dirjen direalisasikan? Kedua, kalau dapat direalisasikan, siapa yang akan membaca ribuan makalah setiap bulan di jurnal-jurnal itu?

Continue reading Franz Magnis-Suseno – Dikti di Seberang Harapan?

140 Karakter Karakter dan Biografi Steve Jobs

Gambar Logo TwitterTwitter memang mirip dengan Facebook. Mereka terikat pada prinsip dasar jejaring sosial yang menghubungkan siapa saja di berbagai belahan bumi dengan sama rata. Tak peduli ia artis atau bukan, jika menjadi warga Facebook atau Twitter, maka ia sama saja dengan tukang becak yang juga berfacebook dan bertwitter ria. Meski sama-sama berstatus jejaring sosial, masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Twitter tak mendukung beragam aplikasi, seperti chatting, game, bahkan panggilan video layaknya Facebook.
Twitter seolah memiliki dunia sendiri. Twitter sederhana. Ia hanya memperkenankan penggunanya mengunggah status tak lebih dari 140 karakter.

Walau sangat terbatas, faktanya, tak sedikit orang yang memanfaatkan Twitter untuk menulis narasi yang pada umumnya bersambung dan dibubuhi hashtag (#) khusus. Bahkan, beberapa praktisi dan penulis, seperti Goenawan Mohamad, lazim memberi “kuliah” di Twitter, di mana hal ini dikenal dengan sebutan Kultwit. Hampir setiap hal yang diunggah oleh GM, sapaan singkat Goenawan, di pagi hari dikumpulkan oleh penerbit Gramedia dan dicetak dalam bentuk buku yang diberi judul Pagi dan Hal-hal yang dipungut Kembali: Sejumlah Epigram.

Continue reading 140 Karakter Karakter dan Biografi Steve Jobs

Membaca Sastra itu Penting

Buku - Pendidikan Karakter Berbasis SastraBukan sekali Hilda Rumambi mengungkapkan kegalauannya perihal kesusastraan di Negeri Pak Beye ini. Di matanya, pendidikan, wacana, dan ketokohan sastra Indonesia berkembang lambat, di mana hal ini bertolak belakang dengan kesusastraan di Barat. Sebagai alumni Jurusan Sastra Inggris di Universitas Sam Ratulangi, Hilda Rumambi yang akrab disapa Oma Hilda itu paham luar-dalam hal ihwal sastra Barat. Bahkan, hingga kini, ia mengaku masih suka menyambangi forum-forum sastra di dunia internet demi sekedar mengikuti semua tetek-bengek kesusastraan dunia.

Tesis Oma Hilda soal perkembangan sastra Indonesia di atas kiranya tak perlu dibantah. Jauh sebelum Sang Oma menumpahkan kegalauannya itu, di tahun 1997, Taufik Ismail lebih dulu melakukan riset sastra di tiga belas negara di dunia. Dari riset ini, Taufik sampai pada kesimpulan memilukan sekaligus memalukan: siswa di Indonesia tak pernah mengenal sastra hingga bangku SMA. Setelah era Algemeene Middelbare School (AMS), atau sekolah setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, pelajar di tingkat SMA hanya membaca 0-2 buku sastra. Fenomena ini tak sebanding dengan negara-negara lain di dunia. Di Malaysia, misalnya, para siswa diwajibkan membaca 6 judul karya, di Swiss dan Jepang 15 judul, dan Amerika adalah yang tertinggi, yakni 32 judul buku sastra. Hasil riset Taufik inilah yang menjadi sebab, yang mengantar Rohimin M. Noor menulis buku berjudul Pendidikan Karakter Berbasis Sastra: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif.

Continue reading Membaca Sastra itu Penting