Ketika SBY harus Bangga pada The Raid

Poster Film The RaidLelaki sehebat apapun, jika diperintah meninggalkan istri sedang hamil untuk tugas yang mengancam nyawa, meski demi kepentingan negara, jelas bukan perkara gampang. Dilema ini dialami Rama (Iko Uwais), salah seorang anggota pasukan khusus kepolisian diperintahkan menggerebek sebuah apartemen berlantai 30 yang disinyalir sebagai pabrik narkotika. Ketika disebut pabrik narkotika, maka sudi kiranya tuan dan puan mafhum bahwa tidak sedikit preman mukim di sana.

Tak ada satupun di antara pasukan khusus itu yang sanggup menyembunyikan raut tegang di wajah ketika Sersan Jaka (Joe Taslim) memberitahu bahwa buruan mereka kali ini adalah Tama (Ray Sahetapy), gembong mafia yang terkenal kesadisannya.

Continue reading Ketika SBY harus Bangga pada The Raid

Karena Suara Twitter bukan Suara Rakyat

Poster Film Republik TwitterFilm ini tentang generasi merunduk, leher tertekuk, menghadap ke layar ponsel; memperhatikan garis waktu (timeline) di situs jejaring sosial terkemuka di dunia, Twitter. Terkadang, garis waktu di dunia jejaring sosial ternyata pengaruh kuat pada garis hidup seseorang, terutama perihal rezeki dan jodoh. Ini yang terjadi pada Sukmo (Abimana Aryasatya), mahasiswa tingkat akhir di Yogyakarta. Karena rajin ngetwit, ia berkenalan dengan jurnalis cantik bernama Hanum (Laura Basuki) yang berkerja di majalah Linimasa di Jakarta. Obrolan di garis waktu Twitter antara mereka berdua akrab walau terpisah jarak, hingga akhirnya Hanum memberi tantangan pada Sukmo. “Ngomong pake jari emang gampang. Kalo berani kesini, ketemu, ngomong pake mulut. Berani?” tulis Hanum di akun Twitter-nya.

Merasa tertantang, Sukmo nekat ke Jakarta demi apa yang ia sebut “mengejar komitmen”. Di Jakarta, ia menumpang di rumah Andre (Ben Kasyafani), kawan kosnya di Yogyakarta. Sayang sekali, obrolan akrab di Twitter tak seakrab di dunia nyata. Janji ketemu di salah satu kafe pun gagal. Pasalnya, Sukmo tak terlalu yakin pembawaannya yang slengeanbisa diterima oleh perempuan secantik Hanum. Sukmo pun mundur. Ia balik kanan, kembali ke rumah Andre. Patah sudah semangatnya. Nyaris saja ia langsung kembali ke Yogyakarta andai tak ada Belo, orang Batak pengusaha Warung Internet yang ia kenal juga via Twitter.

Continue reading Karena Suara Twitter bukan Suara Rakyat