Problem Penaggalan (Dating) Hadis

Buku - Metode Kritik HadisJudul buku: Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis

Penulis: Dr.Phil. Kamaruddin Amin, M.A.

Penerbit: Hikmah (PT Mizan Publika)

Tahun terbit: April 2009

Hanya ada satu kata kunci untuk memahami diskursus hadis di Barat:dating. Persoalan di sekitar dating ini terangkum dalam pertanyaan perihal kapan hadis pertama kali ada. Skeptitisme Barat terhadap validitas hadis sebagai bahan yang bersumber dari Nabi saw. ini kiranya wajar. Pasalnya, tidak ada satupun bukti empiris tekstual yang ditulis oleh para Sahabat yang sampai pada kita saat ini. Yang sampai pada kita, umat Islam, adalah teks-teks hadis yang ditulis pada masa sekitar abad kedua dan ketiga Hijriah.

Dalam menyikapi serta menjawab problem dating yang diajukan akademisi Barat, sarjanawan muslim pada umumnya mengajukan argumentasi tanpa ujung (circular argument). Akhirnya, kita pun gagal meyakinkan Barat, karena, lagi-lagi, kita tak punya cukup bukti.

Continue reading Problem Penaggalan (Dating) Hadis

Awal Kisah Pangeran Diponegoro

Buku - Novel Pangeran Diponegoro Menggagas Ratu AdilJudul: Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil

Penulis: Remy Sylado

Penerbit: Tiga Serangkai

Cetakan: I/2007

Tebal: 339 halaman

Ia abadi di antero Indonesia. Di Semarang, salah satu universitas negeri mengidentifikasi diri dengan namanya. Di alun-alun Kota Magelang patungnya berdiri. Dan, meski lahir di Yogyakarta, ia justru dimakamkan di Makassar. Tetapi, itu saja tidak cukup. Di negeri ini, tak banyak yang tahu bahwa Ontowiryo, yang kita kenal lewat gelar Pangeran Diponegoro, meninggalkan banyak keturunan di Tondano, Sulawesi Utara. Keturunan Diponegoro ini telah berbaur budaya dengan masyarakat lokal lantas karib disebut Jaton, yakni akronim Jawa-Tondano. Sebagai tanda pembauran budaya itu, masyarakat Jaton kini menembang macapat justru bukan dalam bahasa Jawa, namun dalam bahasa Toulour. Dari Jaton inilah Remy Sylado menghadirkan kembali kisah Diponegoro lewat fiksi-sejarah.

Dalam kisah Remy, disebutlah nama Ratnaningsih, wartawan surat kabar Republik, yang rela datang ke Manado untuk merangkai kisah tentang keturunan di Diponegoro di Tondano. Di sana, di makam Kiai Mojo, Ratnaningsih bertemu dengan seorang kakek yang mengaku masih keturunan Diponegoro. Dari lisan kakek inilah kisah Diponegoro kecil dimulai.

Continue reading Awal Kisah Pangeran Diponegoro

9 Summers 10 Autumns: Inspiratif sekaligus Memuakkan

Buku - 9 Summers and 10 AutumnsDahulu, yang dikenal dengan sebutan Kota Apel di Indonesia adalah Malang. Kini, berkat kebijakan otonomi daerah, dan Batu menjadi daerah otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang, maka yang disebut kota apel itu tak lain dan tak bukan adalah Kabupaten Batu. Kabupaten yang berada di dataran tinggi dan bercuaca sejuk ini patut bangga, karena salah seorang putra daerahnya sukses bekerja dan menjadi salah seorang direktur di Nielsen New York. Yang lebih membanggakan lagi, putra Batu yang bernama Iwan Setyawan ini tidak berasal dari keluarga menengah ke atas. Ia hanya seorang anak sopir angkot. Bagi negara yang penduduknya berasal dari kelas menengah ke bawah, kisah seorang anak sopir angkot yang sukses di negeri Paman Sam tentu layak disimak. Lewat9 Summers 10 Autumns: dari Kota Apel ke The Big Apple, Iwan Setyawan mengkisahkan lika-liku hidupnya.

Tidak seperti buku autobiografi kebanyakan yang ditulis sesuai urutan tahun, layaknya buku sejarah, 9 Summers 10 Autumns justru ditulis dalam gaya novel romantis. Iwan berkisah, mengalir, dan ia mengawali kisahnya dari bawah jembatan New York, ketika ia ditodong oleh dua orang berperawakan Afro-Amerika, meminta kartu kredit miliknya. Beruntung, dalam kondisi terpojok, bahkan sempat kena gebuk, ia diselamatkan oleh seorang anak kecil. Dikisahkan, dari atas jembatan, anak kecil itu melihat kondisi Iwan yang sudah terpojok. Anak kecil itu lantas melapor pada ibunya. Melihat Iwan, sang ibu pun berteriak, kedua penodong itu panik, lari tunggang-langgang, dan Iwan pun terselamatkan.

Continue reading 9 Summers 10 Autumns: Inspiratif sekaligus Memuakkan

Biografi Steve Jobs

Buku - Steve Jobs by Walter IsaacsonJudul: Steve Jobs

Penulis: Walter Isaacson

Penerjemah: Word++ Translation Service & Tim Bentang

Penerbit: Penerbit Bentang

Tahun: 2011

Gila kendali. Dua kata inilah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Steve Jobs. Baginya, setiap produk Apple Computer tidak sekedar temuan teknologi, tapi sebuah karya seni bernilai tinggi. Jobs menganggap, menambahkan perangkat keras atau perangkat lunak pada produk teknologi Apple sama dengan laku anak jalanan yang menambahkan coretan di lukisan karya Pablo Picasso. Itu jelas haram hukumnya. Inilah yang menjadi alasan mengapa Jobs menutup rapat kode sumber (source code) program serta perangkat keras setiap produk Apple, meski jiwa pemberontak khas peretas (hacker) juga eksis di dalam dirinya.

Naam, Jobs adalah seorang teknolog piawai cum seniman sejati. Tentu saja, ia juga seorang perfeksionis. Ia menuntut kesempurnaan meski harus berdebat dengan anggota tim produksi Apple. Ketika komputer Macintosh dalam tahap produksi, kepada James Ferris, direktur layanan kreatif, Jobs berkeras, “Kita harus membuatnya terlihat klasik sehingga tidak ketinggalan zaman, seperti Volkswagen Beetle.. seni besar menciptakan selera, bukan mengikuti selera.. Itulah yang harus kita lakukan dengan Macintosh.” Jobs tidak hanya menuntut kesempurnaan di sisi tampilan luar produknya, dan ini yang paling ekstrim, ia pernah memaksa timnya untuk mengubah tampilan memori yang akan mereka gunakan di Macintosh, meski bagian tersebut tak akan terlihat oleh konsumen. “Bagian itu sangat indah. Namun lihatlah chip memorinya. Jelek sekali. Garisnya terlalu berdekatan.. Aku ingin agar memori chip itu dibuat seindah mungkin, meskipun tempatnya berada di dalam kotak. Seorang tukang kayu yang hebat tidak akan menggunakan kayu jelek untuk membuat bagian belakang sebuah lemari, meskipun tak seorang pun akan melihatnya,” tegas Jobs.

Continue reading Biografi Steve Jobs

Membaca Sastra itu Penting

Buku - Pendidikan Karakter Berbasis SastraBukan sekali Hilda Rumambi mengungkapkan kegalauannya perihal kesusastraan di Negeri Pak Beye ini. Di matanya, pendidikan, wacana, dan ketokohan sastra Indonesia berkembang lambat, di mana hal ini bertolak belakang dengan kesusastraan di Barat. Sebagai alumni Jurusan Sastra Inggris di Universitas Sam Ratulangi, Hilda Rumambi yang akrab disapa Oma Hilda itu paham luar-dalam hal ihwal sastra Barat. Bahkan, hingga kini, ia mengaku masih suka menyambangi forum-forum sastra di dunia internet demi sekedar mengikuti semua tetek-bengek kesusastraan dunia.

Tesis Oma Hilda soal perkembangan sastra Indonesia di atas kiranya tak perlu dibantah. Jauh sebelum Sang Oma menumpahkan kegalauannya itu, di tahun 1997, Taufik Ismail lebih dulu melakukan riset sastra di tiga belas negara di dunia. Dari riset ini, Taufik sampai pada kesimpulan memilukan sekaligus memalukan: siswa di Indonesia tak pernah mengenal sastra hingga bangku SMA. Setelah era Algemeene Middelbare School (AMS), atau sekolah setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, pelajar di tingkat SMA hanya membaca 0-2 buku sastra. Fenomena ini tak sebanding dengan negara-negara lain di dunia. Di Malaysia, misalnya, para siswa diwajibkan membaca 6 judul karya, di Swiss dan Jepang 15 judul, dan Amerika adalah yang tertinggi, yakni 32 judul buku sastra. Hasil riset Taufik inilah yang menjadi sebab, yang mengantar Rohimin M. Noor menulis buku berjudul Pendidikan Karakter Berbasis Sastra: Solusi Pendidikan Moral yang Efektif.

Continue reading Membaca Sastra itu Penting