Paus Sastra Indonesia dan Proyek Puitisasi Alquran

Pusat Dokumentasi Sastra HB JassinBerkat kontribusinya yang meraksasa dalam lanskap kesusastraan Nusantara, Gajus Siagian menjuluki H. B. Jassin (1917-2000) sebagai Paus Sastra Indonesia. Sempat tenggelam bersama kejumudan produksi sastra, tahun lalu (2011), nama Jassin mencuat kembali. Bukan karena karyanya atau sikapnya yang teguh dalam memperjuangkan nafas literasi di masyarakat, melainkan karena Pemerintah DKI Jakarta menyiutkan anggaran pemeliharaan aset Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H. B. Jassin. Kebijakan Pemerintah DKI tersebut sukses menyulut reaksi masyarakat penggiat sastra dan buku di Tanar Air. Masyarakat di berbagai kota lantas menggelar aksi kepedulian terhadap masa depan PSD H. B. Jassin lewat gerakan yang dinamakan Koin Sastra.

Yang peduli pada dunia kesustraan Indonesia pasti tahu atau, minimal, pernah mendengar nama Jassin. Namun, tak banyak yang tahu perihal kontribusi Jassin bagi kekayaan khazanah studi Alquran di Indonesia: bahwa jauh sebelum hingar-bingar implementasi pendekatan sastra terhadap Alquran yang diadopsi dari kelompok pemikir muslim semisal Amin al-Khuli, ‘Aisyah ‘Abd al-Rahman (Bint al-Syathi), Muhammad Ahmad  Khaf Allah, dan Nasr Hamir Abu Zayd, sebagaimana yang bisa kita lihat dengan mudah dewasa ini di sejumlah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Indonesia, Jassin sudah lebih dulu memulainya. Ia bahkan tidak lagi bermain di wilayah teoritis kaum intelektual, tetapi telah melangkah lebih jauh hingga ke level praksis melalui dua karyanya, yakniTerjemahan Bacaan Mulia dan Al-Qur’an Berwajah Puisi.

Mengacu pada asumsi bahwa Alquran adalah puisi yang ditulis dalam bentuk prosa, Jassin merasa terpanggil untuk menghadirkan kembali kekuatan puitis Alquran ke dalam bahasa Indonesia melalui terjemahan yang disusun dalam struktur kata dan kalimat puitis dalam buku yang pertama. Dan, tidak berhenti sampai di situ, Jassin lalu melanjutkan proyek puitisasi ini dengan menyusun ulang tata letak ayat-ayat Alquran ke dalam bentuk puisi di bukunya yang kedua. Sayang sekali, upaya Jassin ini justru menuai penolakan pihak pemegang otoritas sirkulasi Alquran di Tanah Air, yakni Lajnah Penstashih Mushaf Al-Qur’an yang berada di di bawah naungan Kementerian Agama RI dengan alasan nomatif, salah satunya, karena Jassin tidak mempunyai penguasaan bahasa Arab mumpuni.

Kini, kedua karya Jassin di atas sangat sulit ditemui. Yang terakhir, Al-Qur’an Berwajah Puisi, bahkan tak sempat terpublikasi. Padahal, di mata saya, kedua karya Jassin di atas perlu mendapat apresiasi dan dukungan. Jika sarjanawan Alquran yang konon otoritatif itu merasa ada yang kurang pada karya Jassin, maka semadyanya mereka terlibat untuk merevisi dengan tetap menjaga semangat puitisasi terjemahan dan Alquran yang menjadi pijakan Jassin. Lebih dari itu, apresiasi terhadap upaya Jassin, dalam skala tertentu, juga bisa diartikan sebagai wujud upaya bersama dalam mendorong persemaian iman di hati umat Islam di Tanah Air, sebab salah satu indikator keimanan seorang muslim, seperti yang disebut dalam surat al-Anfal ayat ke-2, adalah getaran sanubari yang ia rasakan ketika mengikra ayat-ayat Alquran.

Hanya dengan menghadirkan unsur estetis Alquran lewat terjemahan serta struktur puitis getaran sanubari bisa dirasakan oleh tiap umat Islam di Indonesia, terutama, umat Islam yang tidak memiliki kecakapan bahasa Arab. Jika langkah puitisasi terjemahan Alquran, seperti yang digagas oleh H. B. Jassin tidak ditindaklanjuti, saya khawatir, setiap Ramadan tiba dan umat Islam mendadak rajin melafal ayat-ayat kitab sucinya berikut terjemahan kaku seperti yang ada selama ini, akan selalu ada umat Islam yang khatam melafal tetapi ketika ditanyakan perihal makna yang ia ambil dari ayat-ayat yang terbaca untuk kehidupan pribadinya, jawabannya: ngak tahu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *