“Membumikan” Idul Adha

Pernah Quraish Shihab menulis buku yang lantas diberi judul“Membumikan” Al-Qur’an. Meski tulisan yang benar sesuai kaidahKamus Bahasa Indonesia itu adalah Alquran (bukan al-Qur’an), tetap saja karya Quraish itu mesti diapresiasi setinggi mungkin, karena itulah buku yang ditulis oleh pakar tafsir Alquran di Indonesia yang berusaha mengkontekstualisasikan ayat-ayat Alquran agar bersentuhan langsung dengan persoalan sosial-kemasyarakatan. Tidak banyak buku tentang Alquran, yang ditulis oleh cendekiawan Indonesia, seperti karya Quraish itu.

Naam, seringkali, doktrin-doktrin Alquran diinterpretasikan melangit oleh umat Islam. Jauh dari kondisi ril masyarakat sekitar. Padahal, karena Alquran diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw sebagai buku panduan hidup, seyogianya ayat-ayat suci senantiasa bisa menjawab kegalauan masyarakat. Di sini, para pembacanyalah yang bertugas membuat Alquran terus sesuai dengan kondisi saat ini. Seperti aforisme Imam Ali ra, “Adapun Alquran ini hanyalah tulisan yang tersusun di antara dua sampul. Ia tidak berbicara. Manusia yang berbicara tentangnya.”

Demikianlah. Sudah menjadi tugas setiap umat Islam untuk memaknai setiap firman Tuhan dan sabda Nabi sesuai dengan konteks masyarakat di sekitarnya, dengan tetap mempertimbangkan cita-cita Islam sebagai rahmat bagi semesta raya. Maka, ketika Idul Adha di tahun 2012 ini tiba, selain ucap selamat sembari merenungkan kembali kesalehan Nabi Ibrahim as sebagai bapak agama-agama Ibrahim (Yahudi, Kristen, dan Islam), akan lebih kena jika kita tak lupa saling mengingatkan. Di saat banyak hewan kurban terbaring di mazbah, disembelih oleh mereka yang berperan sebagai jagal, lantas daging hewan itu dibagikan kepada setiap umat Islam, ada kolesterol di sana. Dan, para penderita asam urat pun niscaya berhati-hati.

Akhirnya, selamat hari raya Idul Adha. Awas, kolesterol dan asam urat mengintai di setiap daging yang terkunyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *