Seniman “Mbeling” Remy Sylado

Artikel ini milik Harian Kompas. Saya mengetik ulang dan menyematkannya di sini.

—————————————

Penyair Remy SyladoRemy Sylado (67) seperti tak pernah berhenti. Ia menghasilkan tak kurang dari 300-an karya, yang ia harap memberi pengharapan dan penghiburan kepada pembaca. “Kalau sekedar senang sendiri, itu bukan hiburan. Dan hiburan itu bukan dosa. Justru bagaimana membuat karya sastra itu karya yang menghibur,” katanya.
Remy memiliki wawasan kepenulisan yang sangat lebar. Bukan hanya novel dan puisi, ia kini juga tengah menyiapkan buku 123 ayat tentang kesenian. Ia menulis tentang seni rupa, musik, film, dan teater. Ia bahkan pernah menulis tentang teologi, kamus, dan ensiklopedia.
Dalam setahun, Remy menghasilkan dua sampai tiga novel. Dalam satu ruang dan waktu, Remy bisa bekerja simultan menggarap tiga novel sekaligus. Untuk itu, dia bekerja menggunakan tiga mesin tik yang berbeda. “Selalu pakai mesin tik dan tip-eks, ha-ha…,” kata Remy di rumahnya di Cikarang, Dramaga, Bogor, Juni lalu.
Saat ini ia tengah menyelesaikan Malaikat Lembah Tidar, novel yang menggunakan lanskap kota Magelang tahun 1989. Novel ini ditulis sejak tahun 2011 dan belum selesai karena memerlukan riset data, termasuk ke Museum KNIL di Belanda. Riset juga dilakukan Remy untuk menulis novel Matahari, yang jadi cerita bersambung di harian Kompas. Ia mendatangi tempat-tempat yang menjadi lokasi peristiwa, termasuk Paris dan Berlin.

Memerintah Inspirasi
Menulis dua tiga karya dalam watu bersamaan apakah bisa fokus?
Persoalannya satu, kita menganggap kerja ini karunia Ilahi atau kutukan dewata. Jika kutukan, ya, tidak jadi-jadi. Ini kita anggap karunia Ilahi. Menulis secara wartawan harus disiplin. Ada batasan deadline.
Apa yang terjadi ketika pindah mesin tik?
Tergantung mood. Kalau macet, diselingi main musik. Harus ada disiplin waktu, bekerja tiap hari. Lebih banyak pagi, dari pukul empat sampai pukul sepuluh. Kalau ada tamu datang ke rumah, ya, berhenti.
Inspirasi datang dari mana?
Inspirasi itu diperintah, bukan ditunggu. Kalau menunggu inspirasi, keburu jatuh miskin, ha-ha… motivasinya harus bekerja. Inspirasi itu cerita tahun 1950-an. Bahan sudah kita lihat dan kita simpan dalam daya kreatif. Sewaktu-waktu perlu kita panggil. Jadi kita perintah, bukan ditunggu. Dari kehidupan sehari-hari, kita amati, lalu kita simpan dalam daya ingat. Kalau misal harus disertai angka, ya, ambil catatan dan ditulis. Cilaka jika nunggu ilham.
Kalau menulis ditunggu dan dipacu itu, apakah kreativitas bisa mandek?
Tanggung jawabnya malah makin bagus. Kita ditantang. Ditunggu redaktur dan pembaca. Tapi sekarang saya enggak berani kayak gitu. Kadang putus di tengah jalan pas bikin yang lain.
Mimpi besar Anda?
Saya kepingin novel yang saya tulis lebih baik dari sebelumnya. Menurut saya, novel yang sedang saya tulis ini (Malaikat Lembah Tidar) lebih baik karena setahun lebih belum rampung-rampung. Tiba-tiba sudah ditulis, eh ada yang kelupaan. Bongkar lagi. Sudah bab 42 menjadi 44.
Yang sekarang ini saya bikinnya memang lama. Selalu dengan riset. Seperti Paris van Jawa, itu riset saya tentang Bandung tahun 1926. Saya hafal kota itu, tapi saya harus riset bagaimana tahun 1926-1930 karena cerita dimulai dari Utrecht (Belanda).
Serba Bisa
Selain menulis, Remy juga bermain dan menyutradai teater. Ia juga bermain film dan sinetron, bermain musik. Ia membuat sejumlah karya musikal, termasuk Jesus Christ Super Star. Pada pertengahan 1970-an ia juga pernah merekamlagu-lagu yang ia nyanyikan sendri lewat kelompok Remy Sylado Company dalam album Folk Rock serta Orexas yang juga menjadi judul novelnya.
Remy menguasai sejumlah bahasa, yaitu Yunani, Ibrani, arab, dan China. Itu belum termasuk bahasa Jawa dan Sunda, Makassar, Totempoan, Bugis, dan Ambon. Ia memang pernah tinggal di Makassar, Semarang, Solo, dan Bandung.
Bagaimana kemampuan bahasa dan menulis itu tumbuh?
Waktu di SMP Domenico Savio (Semarang), saya dapat tugas mengarang. Tulisanku dijadikan contoh di kelas. Tapi waktu itu saya belum tahu arep dadi opo (mau jadi apa). Sama sekali ndak ngerti. Waktu masuk akademi teater di Solo, saya belajar sedikit tentang sastra. Belajar tentang teater Yunani, terus bikin naskah drama.
Kembali ke Semarang, aku ditawari masuk seminari. Aku bilang enggak mau jadi pendeta, tapi mau belajar bahasa Yunani dan Ibrani saja, dari situ aku mulai suka filologi. Jadi, aku belajar karya Plato dari bahasa Yunani. Nah, mulai dari situ.
Bagaimana Anda bisa multitalenta?
Itu dari kecil, waktu SMP di Semarang, SMA di Solo. Celakanya, tahun 1950-an setelah kita baru merdeka, ada pemikiran budaya waktu itu. Antara lain Amir Pasaribu, orang-orang yang sekolah di Belanda, yang mengatakan harus ada spesialisasi untuk menguasai satu bidang. Mereka lupa bahwa zaman Renainsans adalah zaman Eropa yang menemukan kembali keahlian Yunani klasik yang diperciki sastra, musik, dan teater. Itu satu. Pemikirannya beda-beda, tapi satu. Itu bagian dari kebudayaan.
Leonardo Da Vinci kita tahunya hanya pelukis Monalisa. Padahal, dia termasuk salah satu dari komponis yang menulis opera, tragedi, dan komedi. Dia juga ahli hidrologi dan kedokteran. Kalau kita lihat sejarah China, zaman Dinasti Tang, aktor, penyair, dan pelukis itu semuanya satu. Tapi sejak 1950-an, orang seperti Amir Pasaribu dan JA Dunga mulai bicara tentang spesialisasi. Padahal tidak benar juga.
Pemikiran dasar spesialisasi dari mana?
Tahun 1950-an mereka menganggap orang menjadi paripurna kalau memilih satu bidang saja, karena kebetulan pada saaat itu (novelis) Armijn Pane membuat kritik musik. Geram orang-orang musik ini karena bukan orang musik, kok, membuat kritik musik. Padahal tidak salah juga. Kalau dia bisa main musik, apa salahnya. Spesialisasi malah memperkerdil pengetahuan kita. Ada penyair yang merasa dirinya penyair betul, tapi bisanya cuma itu saja. Sutardji bisa nyanyi juga. Sapardi Djoko Damono itu juga main musik juga. Gitaris.

Pengharapan dan Penghiburan
Remy mengkritik karya yang, menurut dia, hanya dinikmati oleh penulisnya sendiri, atau setidaknya oleh pengasuh rubriknya. Menurut Remy, tanggung jawab kenabian itu perlu. Semua puisi memberikan pengharapan dan penghiburan pasti dibaca. “Paling enggak, orang sakit diberi kumpulan puisi yang isinya doa supaya cepat sembuh,” katanya.
Remy memberi contoh puisi Nabi Daud, “Tuhan adalah gembalaku”, yang dari abad ke abad selalu dibacakan di acara pemakaman film Amerika.
“Kita harus bicara tentang tanggung jawab kenabian dalam puisi. Jika kita ingin bicara kenapa kita bersastra. Dari awal sejarah, kalau kita bicara filologi, dari awal tanggung jawab seperti itu. Dari Yunani dan China. Semuanya berbicara tentang itu. Orang baca mendapat hiburan dan pengharapan. Puisi sekarang tidak.”
Kalau pada fiksi?
Saya rasa sekarang apa tanggung jawab kita? Memberikan pengharapan kepada orang. Kalau fiksi, lebih enak karena verbal. Kalimat fiksi itu kalimat panjang naratif semua. Justru harus menjadi pandai mengungkapkan falsafah kita. Kalau puisi, perlu perenungan tersendiri.
Ketika masih menulis puisi bahasa Melayu dengan Arab gundul. Semua itu kan, nasihat. Sekarang enggak, kita lihat puisi Jawa, misalnya, karya Sunan Kalijaga, Ilir-ilir. Luar biasa itu. Dia bicara tentang suruh sembahyang lima waktu. Sanepan gaya Jawa. Ada sesuatu yang diberikan. Puisi yang sekarang ngak ketemu saya.
Apa yang menyebabkan puisi kita berubah?
Akarnya dari diferensiasi dan spesialisasi 1950-an tadi. Kita mau menjadi diri sendiri. Paham individualisme berkembang. Padahal kita lupa Charil Anwar masih berbicara tentang itu. Takut sekali orang dibilang hiburan. Padahal saya mau tanya karya Sartre yang merupakan tesis dari eksistensialisme dia, apakah bukan hiburan bagi orang intelektual. Taruhlah karya Les Mots atau Huis Clos, begitu menjadi naskah drama, begitu ditontonkan, menjadi hiburan.
Kalau sekedar senang sendiri, itu bukan hiburan. Menurut saya, hiburan itu bukan dosa. Justru bagaimana membuat karya sastra itu karya yang menghibur. Itu kalau takut disebut hiburan. Walaupun semua sastra yang menjadi sastra teater pada hakikatnya adalah hiburan, karena begitu ada sepuluh orang yang datang duduk di gedung teater itu dalam rangka mencari penghiburan.
Orang Indonesia belum ada yang meraih Nobel Sastra sebagai ukuran pencapaian di bidang sastra?
Orang Indonesia baru bebas buta huruf, tapi belum bebas membaca. Ada uang, tapi belum bisa membaca semua hal yang berbeda pikiran. Orang tidak suka pada sesuatu, dia membuat peraturan, lalu menyalurkan frustasi ke banyak orang.
Tapi pertanyaannya apakah awam mendapat sesuatu dari fiksi Indonesia. Kenapa bisa orang intelektual Indonesia tahu karya sastra luar, tapi tidak Indonesia. Pasti ada sesuatu yang salah dengan sastra Indonesia. Dapatkah sastra Indonesia memberikan sesuatu kepada pembaca. Minimal dua, pengharapan dan penghiburan.

Sumber: Kolom Persona harian Kompas, Minggu, 22 Juli 2012, halaman 23.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *