Selamat Maulid: Dahulukan Biografi sebelum Hadis

Muhammad Alghazali, Yusuf Alqaradawi, dan Khaled Abou El Fadl galau setengah mati. Pasalnya, bagi ketiga ahli hukum Islam kontemporer ini, umat Islam sekarang suka sekali berbicara atas nama Tuhan tanpa pernah tahu seperti apa aturan berbicara atas nama-Nya. Ilustrasinya sangat sederhana: kalau untuk menjadi juru bicara Presiden SBY saja tidak semua orang boleh dan bisa, karena terikat aturan-aturan ketat, apalagi berbicara atas nama Tuhan Yang Maha Segala-galanya. Sudah tentu ada aturannya.

Yang menjadi persoalan, memang, tidak semua orang tahu dan mau tahu dengan aturan berbicara atas nama-Nya. Tetapi, beberapa di antara kita yang baru membaca satu-dua hadis dan tidak pernah belajar ilmu hadis ternyata bisa berlaku seenaknya dalam mengutip hadis dan mengatasnamakan diri sebagai wakil Tuhan. Kita bisa menyebut contoh di sini bagaimana beberapa waktu kemarin salah satu ormas Islam di Jakarta dengan sekenanya menyatakan bahwa banjir di Ibu Kota diakibatkan oleh patung yang ada di Istana Negara. Pernyataan ini didasarkan pada sebuah hadis, di mana Nabi menyatakan bahwa sebuah rumah tidak akan dimasuki oleh malaikat bila di sana tersua patung.

Saya tidak berkepentingan dengan autentisitas hadis tersebut, apakah sahih, hasan, atau daif. Tetapi, sebatas yang saya ingat di dalam Tafsir Ayat al-Ahkam, Muhammad ‘Ali Alshabuni sudah mendiskusikan ini dan menyajikan beragam pendapat para ahli hukum, khususnya Hanafi, Malik, Alsyafii, dan Hanbali di sekitar persoalan patung ini. Intinya, tidak semua ahli tersebut melarang. Beberapa pendapat bahkan melihat pesoalan pelarangan patung dalam konteks umat Islam pada masa Nabi yang menekankan pentingnya penguatan akidah. Ketika patung tidak lagi menggiring pada penyembahan fenomena selain Tuhan Yang Maha Esa, tentu tak patut kita melarang, apalagi tanpa dasar kuat lantas menyeru penghuni Istana Negara untuk bertobat. Apakah bukan sebuah tindak yang aneh bin ajaib ketika saudara kita di Jakarta tertimpa bencana banjir, bukannya bergerak menggalang bantuan, beberapa di antara kita justru sibuk mencari-cari kesalahan orang lain dengan mengutip hadis dan menafsirkannya secara asal-asalan. Memang, bisa saja alasan bahwa patung-patung itu menggambarkan perempuan bertelanjang dada. Tetapi, apakah kita sudah begitu naif sehingga bernafsu pada patung?

Tentu saja, saya percaya, Islam bukan agama yang menyeru umatnya untuk menjadi seorang vandalis, seperti halnya bangsa Romawi kuno yang tidak mengerti nilai estetika lantas merusak apa saja yang indah tetapi dianggap mengganggu mata. Saya percaya ini, karena dari tiga biografi Nabi yang saya baca, mulai dari karya Haekal, Karen Armstrong, dan Martin Lings, tidak ada satupun yang memperlihatkan indikasi bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang penganut vandalisme. Sebaliknya, Nabi adalah lelaki tampan yang memuja keindahan; sesuatu yang hilang dari semangat umat Islam dewasa ini, karena semua persoalan dinilai semata dari kacamata halal-haram. Kita lupa (untuk tidak mengatakan tidak tahu), bahwa di samping halal-haram, masih ada lima kategori hukum lagi, di mana dua di antaranya adalah persoalan elok dan tidak elok (al-husn wal qubh).

Tanpa menafi peran sentral hadis dalam bangunan keislaman, kita perlu mempertegas beda mendasar antara hadis dan biografi Nabi. Hadis adalah cuplikan-cuplikan laporan para sahabat dan tabiin tentang semua hal yang berhubungan dengan Nabi. Sementara itu, biografi, meski juga mengacu pada sumber hadis, tetapi menyajikan informasi tentang Nabi Muhammad secara “paripurna”.

Kiranya sudah menjadi pengetahuan umum bahwa semua umat Islam berusaha menjadikan Nabi Muhammad sebagai cermin dalam beringkahlaku sehari-hari. Hanya saja, pengetahuan kita tentang Nabi Muhammad tampaknya masih sering mengacu kepada penggalan-penggalan hadis dibandingkan pada sumber biografinya. Sangat wajar kemudian jika beberapa di antara kita, umat Islam, ketika membaca satu hadis tentang jihad, tanpa dibekali pengetahuan baik di bidang ilmu hadis dan biografi Nabi, dengan gegabah menyimpulkan bahwa Islam menyerukan peperangan. Kewajaran ini tentu tidak boleh lantas membuat kita menjadi permisif terhadap kekerasan yang muncul dari kesalahpahaman terhadap pernyataan Nabi. Oleh karena itu, di sinilah pentingnya membaca biografi Nabi terlebih dahulu sebelum membaca hadis-hadisnya. Dengan pemahaman yang baik terhadap pribadi Nabi Muhammad saw, paling kurang, ini bisa mengarahkan pengertian kita tentang substansi hadis-hadisnya, terlebih jika kita tidak memiliki waktu lagi untuk belajar bahasa Arab serta seluk-beluk studi hadis yang memang rumit-njelimet.

Akhirnya, karena saya percaya bahwa Nabi Muhammad saw bukan semata milik umat Islam, maka kepada seluruh umat manusia yang diberi anugerah akal sehat saya mengucapkan: selamat memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw. Akan elok jika kita tidak sekedar memperingati dalam seremoni, tetapi menindaklanjutinya dengan menyisihkan sedikit rezeki guna membeli biografinya lalu meluangkan waktu untuk membaca. Bacalah dengan menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *