Berbeda sejak di Tempat Wudhu

Izinkan saya menyebut lagi kata usang itu: kapitalisme. Ya, berkat kapitalisme, kita mengenal pembagian pasar, antara yang tradisional dan modern. Tradisional untuk yang kumuh, kotor, jorok, dan tidak elok, sedangkan modern adalah yang bersih, rapi, asri, dan elok. Siapa pula yang sanggup menolak berbelanja di pasar modern yang elok itu? Andaipun ada yang menolak, alasannya bukan karena tidak punya fulus, tetapi lebih disebabkan yang bersangkutan mukim di desa, jauh dari kota, tempat pasar modern yang sering kita sebut mal itu berdiri megah.

Kini, lagi-lagi berkat kapitalisme, mal telah berubah wujud menjadi salah satu syarat sebuah tempat disebut kota. Bila kotamu tak punya mal, bersiaplah menanggung beban mental. Telingamu pun harus tebal pada ragam ejekan dari orang yang mengunjungi atau sekedar tahu bahwa di kotamu belum bermal. Sesuai premis ini, maka katakanlah, saat ini Magelang sedang berusaha keras mengangkat derajatnya sekaligus membuat penduduknya tak perlu menanggung beban mental dan bertelinga tebal. Sudah ada sebuah mal megah di kota ini yang bisa dikunjungi oleh siapa saja sejak tahun lalu. Mal itu diberi nama Armada Town Square (Artos).

Meski baru berdiri, jangan sekali-kali membandingkan Artos dengan mal Tatura yang ada di Kota Palu. Jelas saja, mal Tatura yang dibanggakan masyarakat Palu tak ada apa-apanya dibanding Artos. Mal terakhir ini, selain lebih besar dan megah, juga terintegrasi dengan hotel mewah yang, saat tulisan ini diketik, pembangunannya hampir selesai. Letak Artos pun sangat strategis, karena berada di jalan sentral yang menghubungkan dua kota besar di Utara dan Selatan Jawa, yaitu Semarang dan Yogyakarta. Saat melewati Magelang, mereka yang menumpang bus dari Semarang menuju Yogyakarta, atau sebaliknya, akan tahu bahwa Magelang bukan lagi sekedar pusat pendidikan bagi para calon tentara berpangkat di Akademi Militer (Akmil).

Sejak resmi dibuka, entah berapa kali sudah saya bertandang ke Artos. Tetapi, baru semalam saya tersadar: bahwa dibalik kemegahan mal ini, tersembunyi satu masalah menggelikan sekaligus bikin risau.

Saya tak lupa berwudhu di tempat yang disediakan tepat di pintu masuk musala Artos yang terletak di lantai ke-3 ketika hendak menunaikan salat magrib. Tempat wudhu itu bersih. Ada empat keran berjejer rapi tersedia di sana dengan salah satunya diberi sekat separuh tembok berkeramik setinggi 160 cm. Keran yang diberi sekat ini dikhususkan sebagai tempat berwudhu bagi perempuan, sementara tiga keran sisanya untuk laki-laki. Bisa dimengerti, maksud pemberian sekat ini baik, agar perempuan berjilbab tak perlu risih karena auratnya ditonton laki-laki yang sedang berwudhu di sebelahnya. Untuk niat ini, pihak pengembang Artos patut diberi apresiasi, dan bukan dirisaukan.

Yang saya risaukan di balik kemegahan Artos adalah ketidaktahuan: bahwa saya tak tahu pasti ada berapa mal mukim di Tanah Air ini. Begitu juga, saya pun tak tahu ada berapa keran berwudhu yang tersedia di tiap-tiap mal. Yang saya tahu pasti, di luar Artos, masih ada tempat wudhu yang disediakan secara tak berimbang: tiga keran untuk laki-laki dan cukup satu untuk perempuan. Jika demikian, lantas apa yang bisa kita harapkan dari upaya penyetaraan pola relasi antara laki-laki dan perempuan, karena bahkan ketika hendak menghadap Tuhan Yang Maha Tak Pilih Kasih pun kita membeda-bedakan kelamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *