Rita Ora dan Nominal Muslims

Tulisan ini berawal dari Ed Sheeran. Ya, saya menyukai aksi penyanyi Inggris ini karena satu hal: sederhana. Ia kerap tampil, bernyanyi dan menghibur, hanya dengan gitar akustik tipe junior. Ketika sedang menonton aksi Ed di YouTube, situs ini menampilkan sejumlah tautan ke video terkait, salah satunya adalah video dimana Rita Ora melagukan Your Song diiringi Ed yang memainkan gitar (Kau bisa melihat video itu di bawah tulisan ini).

Dari video tersebut, saya tertarik melakukan pencarian lanjutan, dimulai dari profil Rita Ora di Wikipedia. Tidak ada yang menarik dari profil penyanyi Inggris yang juga fasih berbahasa Albania ini kecuali catatan yang menyebut bahwa ia lahir dari pasangan beda agama. Ibunya penganut Katolik, sedangkan ayahnya, tulis Wikipedia, adalah seorang nominal Muslim. Khusus untuk istilah terakhir ini, Wikipedia menautkannya ke laman lain dengan rujukan ke buku karya Malise Ruthven, Islam: a Very Short Introduction. Dari Rita Ora, penelusuran saya berlanjut ke buku Ruthven. Alhamdulillah, tidak sulit menemukan istilah nominal Muslim di buku tersebut, karena ia menampilkannya di halaman 4, tepatnya ketika mendiskusikan Islam sebagai identitas.

Bagi Ruthven, nominal Muslim adalah ungkapan khusus yang lazim digunakan secara bergantian, karena mewakili fenomena yang sama, dengan cultural Muslim dan secular Muslim. Ketiga istilah ini merujuk kepada umat Islam dalam pengertian sekunder, yaitu mereka yang lahir dari orang tua Muslim lantas menyerap keyakinan mereka tanpa merasa perlu mengimani serta menjalankan praktik keagamaannya. Muslim yang demikian, tulis Ruthven, tidak ubahnya pemeluk Yahudi, yang mengaku keturunan Yahudi, namun tak pernah menelaah Halacha.

Ruthven menunjuk fenomena Muslim di Bosnia yang memeluk Islam ketika wilayahnya berada di bawah kendali Dinasti Turki Usmani sebagai contoh nominal Muslim. Muslim di Bosnia tidak selalu menjalankan salat lima waktu dan menghindari minuman beralkohol, sebagaimana umat Islam seharusnya. Pada masa kekuasaan rezim komunis di Yugoslavia, Muslim di Bosnia dibentuk secara resmi sebagai identitas yang membedakan mereka dengan ortodoks Serbia serta Katolik Croats. Penggunaan label “Muslim” di sini tidak dimaksudkan untuk kepercayaan agama, melainkan sebutan bagi aliansi kelompok dan etnis tertentu.

Akhir-akhir ini, tabiat fundamentalis Kristen Amerika maujud di tengah umat Islam. Tidak jarang aktifis Muslim hari ini berupaya menggunakan kata Islam dalam pengertian eksklusif dan sempit, yaitu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki kesamaan pemahaman dengan kelompoknya. Mereka bahkan tidak segan memberikan label kafir terhadap kelompok masyarakat yang, meski seagama, berbeda pemahaman. Kelompok yang disebut sebagai nominal Muslim tadi adalah komunitas yang acap kali menjadi sasaran label kafir dari aktifis Muslim fundamentalis.

Keberadaan nominal Muslim bukan monopoli masyarakat di negara-negara Eropa. Seperti yang disebutkan oleh Ruthven, nominal Muslim dengan mudah dapat kita temukan di negara-negara Asia. Dan, naam, Indonesia tentu termasuk di dalamnya. Kiranya kita tidak sulit menemukan nominal Muslim di negeri ini. Dahulu, label yang kerap disematkan kepada mereka adalah Islam KTP. Hari ini, Islam KTP telah bersalin rupa menjadi label kafir, liberal, Syiah, dan sejenisnya.

Saya, Anda, dan kita semua, siapa saja bisa mendapatkan label-label di atas. Tetapi, apakah Allah peduli terhadap label yang dilekatkan oleh kita sendiri? Wallahualam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *