Antara Raisa dan JK: Ragam Interaksi Muslim di Indonesia dengan Alquran (Catatan Juni 2015)

Sumber gambar: nyunyu.com dan wowkeren.com
Sumber gambar: nyunyu.com dan wowkeren.com

Pernyataan saya berikut ini tentu membutuhkan riset lanjutan. Saya sekedar menduga bahwa sepuluh dari sepuluh anak muda negeri ini, yang tinggal di kota dan terbiasa dengan internet, pasti mengenal nama Raisa. Bersama beberapa temannya yang notabene merupakan artis di negeri ini, seperti Tasya Kamila, Gita Gutawa, Afgan, Zivanna Letisha Siregar, dan lain-lain, Raisa ambil bagian dalam proyek religius yang diluncurkan jelang Ramadan tahun ini lewat apa yang mereka sebut dengan Quran Indonesia Project.

Lewat proyek ini, mereka membaca beberapa ayat dan surat beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bacaan itu mereka rekam di sebuah studio musik, lalu diunggah di situs berbagai musik, Soundcloud, dengan tautan yang mereka tempelkan pada Situs Quran Indonesia Project. Dengan demikian, bila Anda bosan mendengarkan suara Raisa menyanyikan Could it be Love, sebagai ganti, Anda bisa mendengarkannya mengaji Ayat al-Kursi.

Bagaimana kualitas mengaji dari Raisa dan kawan-kawannya, silakan Anda nilai sendiri. Saya tidak terlalu peduli dengan kulitas pelafalan huruf-huruf Alquran (makharij al-huruf) dan implementasi ilmu tajwid mereka di kala mengikra Alquran. Bagi saya, atas inisiatif mereka untuk ambil bagian dalam proses dakwah dengan cara-cara kratif serta tidak intimidatif, ini saja sudah patut mendapatkan apresiasi.

Quran Indonesia Project

Fenomena pemuda Muslim kreatif dari kelas masyarakat urban di Jakarta sana yang mengejawantahkan interaksinya dengan Alquran lewat Quran Indonesia Project terasa semakin perlu diapresiasi, khususnya bila kita membandingkan itu dengan sikap Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), yang sudah berkali-kali melontarkan himbauan kepada pengurus masjid untuk tidak memutar kaset mengaji Alquran satu jam sebelum waktu salat subuh.

Ceritanya, ketika pulang kampung di Bone, tidur nyenyak Sang Wapres terganggu oleh suara orang mengaji yang terdengar dari pengeras suara masjid di dekat tempat tinggalnya. Karena kesal, di salah satu forum, JK secara terbuka meminta agar MUI mengeluarkan fatwa yang mengatur pemutaran kaset qiraat Alquran melalui pengeras suara masjid.

Sebatas yang saya ketahui, JK tidak pernah punya pengalaman tinggal di rumah kos yang bersebelahan dengan rel kereta api, sedangkan saya pernah. Setelah gempa bumi yang meluluhlantakkan Wisma Huahaha.. di Kelurahan Sapen, Yogyakarta, di tahun 2006, saya pindah ke rumah kos yang letaknya tepat di samping rel kereta api yang membelah Jalan Timoho (Ipda Tut Harsono).

Semua kereta api dari Yogyakarta menuju ke kota-kota di Timur Pulau Jawa, atau sebaliknya, melintasi rel ini. Hampir setiap jam ada kereta api yang melintas. Setiap kali melintas, bukan hanya suara bising yang diperdengarkan oleh kereta api tersebut, tetapi juga getaran yang sudah pasti sangat mengganggu ketentraman istirahat dari korban gempa bumi seperti saya saat itu.

Seminggu pertama kala tinggal di kos yang baru, saya tersiksa setiap kali ada kereta api yang melintas. Tidak jarang saya terbangun tiba-tiba. Tetapi, lambat laun, saya mulai terbiasa. Akhirnya, saya pun bisa tidur nyenyak tanpa terbangun tiba-tiba oleh suara bising dan getaran dari kereta api yang sedang melintas.

Saat itu, yang saya tahu: saya adalah bagian dari rakyat kecil di republik ini yang tak punya panggung dan kekuasaan. Saya tidak bisa, ketika sedang beristirahat dan terganggu oleh kereta api yang sedang lewat, segera berbicara di media sembari meminta Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, untuk mengatur jadwal kereta api agar tak melintas di saat saya terlelap. Karena sadar, saya menjadi tahu: bahwa sayalah yang seharusnya mengalah dan membiasakan diri. Toh, itu hanya suara bising kereta api. Bukan bacaan Alquran di waktu jelang azan subuh yang di dalamnya terselip pemberitahuan dari muazin bahwa salat lebih baik ketimbang tidur (al-shalat khayr min al-nawm).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *