140 Karakter Karakter dan Biografi Steve Jobs

Gambar Logo TwitterTwitter memang mirip dengan Facebook. Mereka terikat pada prinsip dasar jejaring sosial yang menghubungkan siapa saja di berbagai belahan bumi dengan sama rata. Tak peduli ia artis atau bukan, jika menjadi warga Facebook atau Twitter, maka ia sama saja dengan tukang becak yang juga berfacebook dan bertwitter ria. Meski sama-sama berstatus jejaring sosial, masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Twitter tak mendukung beragam aplikasi, seperti chatting, game, bahkan panggilan video layaknya Facebook.
Twitter seolah memiliki dunia sendiri. Twitter sederhana. Ia hanya memperkenankan penggunanya mengunggah status tak lebih dari 140 karakter.

Walau sangat terbatas, faktanya, tak sedikit orang yang memanfaatkan Twitter untuk menulis narasi yang pada umumnya bersambung dan dibubuhi hashtag (#) khusus. Bahkan, beberapa praktisi dan penulis, seperti Goenawan Mohamad, lazim memberi “kuliah” di Twitter, di mana hal ini dikenal dengan sebutan Kultwit. Hampir setiap hal yang diunggah oleh GM, sapaan singkat Goenawan, di pagi hari dikumpulkan oleh penerbit Gramedia dan dicetak dalam bentuk buku yang diberi judul Pagi dan Hal-hal yang dipungut Kembali: Sejumlah Epigram.

Seperti GM, salah seorang kawan saya di Kota Palu, Neni Muhidin, yang juga aktif di gerakan literasi Nombaca, beberapa waktu yang lalu juga merasakan efek kuat dari Twitter. Beberapa puisinya dianggap layak oleh pihak admin akun @sajak_cinta dan editor Gramedia kemudian diikutsertakan dalam buku berjudul Cinta, Kenangan, dan Hal-hal yang Tak Selesai. Yang lebih hebat lagi, semua hasil penjualan buku tersebut akan dihibahkan kepada gerakan KoinSastra yang, beberapa waktu yang lalu, sukses menggalang gerakan sosial untuk memberikan “nafas bantuan” kepada Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang diterlantarkan pemerintah.

Saya bukan GM. Bukan pula Neni Muhidin. Jika ada hal yang sama antara saya dan kedua orang itu hanyalah bahwa kami menikmati manfaat Twitter dan 140 karakternya itu, walaupun rasa nikmat itu berbeda bentuk dan takarannya: jika tweet GM dan Neni dibukukan, maka tweet saya, beberapa waktu yang lalu, dipilih oleh admin @mizandotcom, dan olehnya berhak atas satu buku biografi terbaru dari Steve Jobs karya Walter Isaacson. Oleh hadiah buku ini, tentu saja, saya senang bukan kepalang. Segera saya buka sampul buku tersebut lantas mulai mengeja setiap kata di dalamnya. Sayang sekali, ketika tulisan ini saya buat, saya belum selesai membaca buku biografi Steve Jobs tersebut, sehingga saya belum memiliki kapasitas untuk mendeskripsikan ringkasan isinya di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *