Literasi dan Konflik Sosial

Lewat puisinya, sastrawan Taufiq Ismail mengaku malu menjadi orang Indonesia. Pasalnya, di negeri ini, memang banyak persoalan memalukan. Kekerasan dalam konflik sosial antara sesama anak bangsa adalah salah satunya. Dan, naam, ketika kita bicara perkara konflik sosial di Indonesia, Propinsi Sulawesi Tengah tak pernah luput disebut. Terhadap kenyataan ini, haruslah warga Sulawesi Tengah merasa malu, seperti Taufiq Ismail. Tak punya rasa malu, menurut Nabi Muhammad saw., sama dengan tak punya iman.

Di minggu ini, masyarakat Kota Palu dan Sulawesi Tengah kembali dirundung persoalan konflik sosial laten yang terjadi di Kelurahan Nunu dan Tavanjuka. Konflik ini diidentifikasi telah terjadi sejak tahun 1960-an. Banyak cara telah ditempuh pemerintah, namun konflik belum juga selesai. Oleh kenyataan ini, tak heran jika ada pihak merasa putus asa mencari formula solusi konflik di antara kedua kelurahan tadi. Tetapi, putus asa pun tak baik. Paling tidak, begitu anjuran di dalam al-Quran: tak boleh berputus asa dari kasih sayang Tuhan.

Akan halnya soal solusi konflik sosial, tidak hanya dalam konteks Kelurahan Nunu dan Tavanjuka, penanganan lewat pengerahan aparat saja tentu tak cukup. Pengerahan aparat hanya bisa diletakkan sebagai penanganan awal. Pengerahan aparat mesti ditindaklanjuti dengan penanganan lebih lanjut, yang lebih menyentuh hajat hidup masyarakat yang bertikai. Banyak langkah yang bisa diambil sebagai bentuk tindak lanjut, salah satunya adalah dengan memberikan jaminan pendidikan, bukan saja pendidikan formal, tetapi pendidikan yang lebih mengarah pada sentuhan terapi pola pikir dan kepekaan sosial. Perkara kepekaan sosial ini tidak akan selesai jika sekedar mengharapkan pendidikan di bangku sekolah dan kampus. Harus ada aksi konkret untuk itu melalui gerakan meliterasikan masyarakat pelaku ataupun korban konflik, di mana gerakan ini, dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu pribadi dan keluarga.

Pada umumnya, literasi seringkali disamakan dengan kesusastraan di sekitar kemampuan baca-tulis. Ini tidak salah, namun kurang tepat. Istilah literasi memiliki ragam definisi yang, intinya, bertujuan untuk mengasah kepekaan sosial lewat apa saja. Jalan menuju kepekaan sosial itu bisa banyak, di mana baca-tulis hanya satu di antaranya.

Kita bisa mulai mengkampanyekan pentingnya kepekaan sosial, khususnya bagi komunitas yang memiliki potensi konflik, dengan menanamkan kembali memori akan kebijaksanaan lokal (local wisdom) yang diusung oleh para pendahulu; para pendahulu yang oleh masyarakat Kaili karib disebut totua ngaulu. Kisah-kisah tentang kearifan masyakarakat Kaili zaman dulu perlu dihidupkan kembali, baik lewat lisan, tulisan, atau media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Untuk memastikan jalannya kampanye literasi kebijaksanaan lokal ini kita hanya butuh kepercayaan: bahwa totua ngaulu tidak pernah mengajarkan perilaku barbar pada anak cucunya. Agama pun melarang itu.

* Tulisan ini dimuat di Harian Media Alkhairaat, Sabtu (7/4/2012)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *