Pil Belajar dari Dosen IAIN Palu

Buku - The Spirit of LearningMereka yang akrab dengan tema-tema spiritual modern ala gerakan New Age pasti mafhum bahwa manusia yang hidup di dunia ini terikat di dalam suatu jalinan medan energi. Sayang sekali, tidak banyak orang di luar sana yang menyadari keberadaan medan energi ini dan mencari tahu bagaimana cara memberdayakannya, sehingga kita seringkali terjebak di belantara kehidupan, mengalami defisit energi, lalu merampas energi orang-orang di sekeliling kita dengan cara yang paling umum: sibuk mencari-cari kesalahan orang lain.

Syukur alhamdulillah. Tidak semua orang merusak medan energi kehidupan. Meski sedikit, masih ada saja orang baik yang mau berbagi motivasi kepada mereka yang mengidap defisit energi. Dalam skala tertentu, tak ada salahnya jika memasukkan orang-orang defisit energi dan miskin motivasi ini ke dalam maksud kata munkar, sebagaimana yang tersua dalam narasi hadis Nabi saw., “Man raa minkum munkaran..” Untuk menyikapi orang-orang munkar jenis ini, sesuai tuntunan Nabi saw., ada tiga cara yang bisa ditempuh. Pertama, dengan tulisan sebagai bagian dari kerja tangan; kedua, lewat ceramah sebagai bentuk ejawantah lisan; dan ketiga, melalui doa sebagai perwujudan dari kerja hati.

Kiranya kita semua tahu bahwa menulis, sebagai bagian dari kerja tangan, memang bukan perkara mudah. Itulah sebabnya mengapa Nabi saw. menempatkannya di urutan pertama. Ada disiplin-disiplin kompleks yang niscaya dilewati oleh mereka yang ingin menjadi penulis, di mana Stephen King telah menguraikan kompleksitas itu di bukunya, Stephen King on Writing. Arifuddin Arif, penulis buku The Spirit of Learning, telah memilih cara pertama: ia menulis buku. Atau, lebih tepatnya, menulis buku populer.

Naam, yang terbiasa membaca berbagai buku niscaya mafhum, di luar kitab suci, hanya ada dua jenis buku, yakni buku ilmiah dan buku populer. Tidak ada keharusan bagi penulis manapun membatasi diri dengan memilih satu saja di antara keduanya, karena ini semata soal selera. Seorang akademisi, misalnya, tidak perlu dibodohi dengan premis filsafat positivisme yang sudah usang, yang mengharuskan seorang sarjana menulis buku sesuai standar ilmiah lengkap dengan catatan rujukan. Siapa pula yang bisa menyebut bahwa buku populer tak mengandung kebenaran. Lagi-lagi, perkara menulis buku ilmiah atau populer itu hanya soal selera.

Sampai di sini, saya lantas teringat pada buku populer karya Rhenald KasaliRe-Code Your Change DNA. Yang tahu peta perguruan tinggi di Indonesia pasti takkan mempertanyakan kualifikasi akademik dan tingkat kepakaran Rhenald Kasali di bidang ilmu manajemen. Tetapi, toh, dia memilih menyampingkan kepentingan angka kredit kualifikasi akademisnya. Alih-alih memikirkan soal gelar Guru Besar, yang mengharuskannya menulis buku ilmiah, ia lebih memilih menulis buku populer yang judulnya telah saya sebutkan tadi. Tentu saja di buku Kasali itu tidak ada catatan kaki, catatan perut, atau catatan akhir. Hanya orang dengan bahan bacaan terbatas saja yang meminta buku populer diberi catatan rujukan.

Seperti Rhenald Kasali, Arifuddin Arif pun demikian. Ia akademisi yang menulis buku populer. Ia sudah berkarya, menulis, berbagi motivasi belajar lewat tulisannya, dan jujur tentang dirinya sebagai dosen di STAIN Datokarama Palu. Andaipun ada yang kurang kena pada buku karya Arifuddin Arif, maka itu adalah soal tata letak yang belum mewakili ciri buku-buku kategori how to yang umumnya memanjakan mata. Kiranya tata letak buku Rhenald Kasali, salah satunya, bisa dijadikan sumber inspirasi.

Walakhir, izinkan saya menutup tulisan sederhana ini dengan kutipan dari Pengantar Remy Sylado untuk buku Stephen King di atas tadi, “Begitulah gerangan pujian ini telah ditulis. Tahulah tuan dan puan bahwa memuji lebih sulit ketimbang mencela.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *