Refleksi Kemerdekaan RI ke-69

Pakaiannya sangat putih. Rambutnya begitu hitam. Tidak ada sedikitpun tanda yang memperlihatkan bahwa lelaki itu baru saja menempuh perjalanan jauh melewati padang pasir.

Tidak ada cerita yang menyebutkan bahwa, sebelum masuk, Ia mengucap salam terlebih dahulu. Ia masuk begitu saja. Membelah kerumunan para sahabat, dan langsung duduk di hadapan Nabi saw.

Ia duduk bertumpu pada kedua betisnya di hadapan Sang Nabi. Saking dekatnya, kedua lututnya bersentuhan dengan kedua lutut Nabi saw. Kepada Sang Nabi saw., lelaki misterius yang belakangan diketahui adalah malaikat Jibril itu mengajukan lima pertanyaan. Salah satunya tentang Iman.

Kepadanya Nabi saw. menjawab bahwa, “Iman adalah kepercayaan kepada Allah swt., malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan ketentuan-Nya yang baik maupun yang tidak.”

Demikian Umar bin Khaththab berkisah, sebagaimana yang maktub dalam buku yang disusun oleh Imam al-Nawawi, al-Arba’in al-Nawawiyyah.

Bagi saya, dari keenam elemen iman tersebut, yang terakhir adalah bagian yang paling rumit, karena berkaitan langsung dengan kedaulatan Tuhan di dalam kehidupan kita. Baik dan buruk merupakan penilaian dari sisi manusia. Suatu hal yang kita anggap baik, bisa jadi tidak baik di mata orang lain. Demikian juga sebaliknya.

Boleh jadi karena penilaian baik dan buruk yang sangat manusiawi inilah sehingga para ahli hikmah berupaya untuk melampaui batas-batas kebaikan dan keburukan. Di mata mereka, seseorang dapat dianggap telah mencapai tingkat spiritulitas terbaik hanya bila Ia telah mampu melewati dua rintangan penilaian ini. Sosok Luqman, yang namanya diabadikan sebagai nama salah satu surat di dalam Alquran, bisa kita masukkan sebagai tamsil pribadi yang telah terbebas dari jebakan baik dan buruk. Tidak ada satu pun kejadian di dalam hidupnya yang, Ia pahami, bukan bagian dari kasih sayang Tuhan. Baginya, bahkan di dalam hari-harinya yang buruk, Tuhan senantiasa Maha Pengasih dan Penyayang.

Tetapi, dan tentu saja, saya bukan Luqman. Nama saya: Mohammad Nur Ahsan, dan saya seringkali terjebak dalam dilema penilaian baik dan buruk atas apa yang terjadi pada diri saya. Saya tidak pernah tahu: apakah terlahir di Kota Palu bernilai baik atau tidak. Yang saya tahu adalah bahwa kota ini adalah bagian dari Indonesia.

Sesekali saya berandai-andai. Sendainya saya terlahir di tengah keluarga Kerajaan Arab Saudi, saya akan membeli AC Milan dan membayar berapa pun banderol Lionel Messi agar pemain terbaik di dunia ini sudi meliuk-liuk dengan bola bersama sepuluh pemain lainnya di klub yang telah saya sukai sejak era Franco Baresi. Terkadang, ingin saya bertanya kepada Allah swt., mengapa saya terlahir di negeri ini. Tetapi, apa boleh buat, saya tidak punya nomor telepon-Nya.

Yang bisa saya lakukan hanyalah menerima ketentuan-Nya: bahwa saya lahir, makan, minum, pipis, dan berak sebelum saya menuliskan tulisan ini di Indonesia. Apa boleh buat, walau negeri ini masih sering tampak tidak membahagiakan, sebagai bagian dari sikapnerimo pada ketetapan Tuhan, saya hakulyakin untuk belajar mencintai Indonesia; bangga sebagai orang Indonesia tanpa harus bersikap seperti sebagian kecil penduduk di negeri ini yang, meski berbadan pendek, berhidung pesek, dan berkulit cokelat, suka berperilaku layaknya bule dan iyek.

Dengan belajar mencintai negeri ini, saya berharap agar Allah swt. menilainya sebagai bagian dari wujud keimanan pada ketentuan-Nya yang entah baik atau buruk tadi. Tidak ada yang salah dengan berharap, terlebih bila harapan itu ditujukan kepada Allah swt. Biarlah Allah swt. yang menilai keimanan saya, karena Dia-lah Sang Maha Mengetahui serta Maha Bijaksana. Bukan Anda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *