Membaca Realitas dari “Bawah”

Buku - Selfie karya Neni MuhidinJudul Buku: Selfie: Sewindu Catatan dari Palu

Penulis: Neni Muhidin

Halaman: 330 + vi

Penerbit: Nemu Publishing

Tahun: Februari 2015

Majalah Tempo membuka tahun 2015 dengan wawancara bersama Cindy Adams. Di sana kita bisa menemukan bagaimana perempuan Amerika ini terkejut ketika disuguhi fakta bahwa buku autobiografi Sukarno yang ia tulis telah diselewengkan. Konon di edisi lawas buku berjudul Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat terbitan Gunung Agung itu maktub paragraf yang sejatinya tidak pernah ada di dalam edisi asli berbahasa Inggris. Walaupun pelaku penyelewengan ini belum terungkap, tidak bisa disalahkan bila lirik curiga tertuju kepada rezim Orde Baru. Kiranya kita semua mafhum: bahwa penambahan serta pengurangan substansi di dalam suatu karya agar sejalan dengan ideologi penguasa merupakan salah satu tanda rezim despotik.

Untuk keluar dari despotisme penguasa, yang di dalamnya juga termasuk pemilik modal, kreator-kreator kontemporer menggagas skema pendanaan bersama (crownfunding). Di Indonesia, crowdfunding dipopulerkan oleh sebuah perusahaan rintisan (start up) lewat situs internet wujudkan.com. Harian Kompas (8/2) menurunkan laporan terkait fenomena ini. Proposal dari Mira Lesmana dan Djenar Maesa Ayu adalah dua di antara lebih dari dua ribu proposal karya yang sampai di meja kerja wujudkan.com. Tiga puluh persen di antaranya telah dinyatakan lolos penilaian dan 12,5 persen mendapatkan dana yang melampaui target. Umumnya, karya-karya yang didanai berkisar di wilayah musik, arsitektur, dan film.

Terinspirasi dari skema ini, dari Kota Palu, Neni Muhidin mengirimkan pesan siaran (broadcast massage) kepada teman-temannya yang tersebar di berbagai provinsi hingga ke manca negara. Ia mengajak mereka untuk turut ambil bagian mendanai penerbitan bukunya. Hanya dalam waktu lima hari, dana yang dibutuhkan sudah terkumpul. Hasilnya adalah buku yang kini telah terbit dengan judul Selfie: Sewindu Catatan dari Palu. Sebagai wujud penghargaannya, di sampul belakang buku ini, ia memajang seratus foto orang-orang yang terlibat dalam pendanaan buku tersebut.

Boleh jadi, inilah buku pertama di dalam khazanah literasi Indonesia yang lahir dari skemacrowdfunding. Andai dugaan ini benar, memang sepatutnya buku ini dirayakan, seperti yang sudah digelar di Gedung RRI Palu lewat acara bertajuk Pembacaan Dramatik (17/3). Selebihnya, juga tak berlebihan bila kita bertanya lebih jauh: apakah ada bagian dari buku ini yang mungkin akan dirusak oleh penguasa dan pemilik modal sehingga, demi independensi, penulisnya harus meniti jalan crowdfunding?

Paling kurang, ada dua jalan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan di atas. Pertama, dengan bertanya langsung kepada penulisnya. Dan, ini adalah cara yang tidak elok. Yang elok adalah cara yang kedua, yaitu dengan mengajukan jawaban personal setelah membaca seluruh esai Neni Muhidin yang, tadinya terserak di berbagai media, kini terangkum di dalam Selfie.

Tidak wajar bila kita menuntut jawaban kepada Neni Muhidin. Sebagai penulis yang karyanya telah menjadi milik publik, Neni kini telah “mati”. Di saat yang sama, “nafas”Selfie berpindah tangan ke genggaman pembacanya. Kiranya kita bisa mengambil hikmah dari keberadaan kitab suci: bahwa teks yang memiliki nafas panjang hingga melintasi abad demi abad adalah teks yang maknanya justru tidak pernah terkonfirmasi kepada penulisnya. Tentu saja, di dunia nyata, Neni Muhidin masih sehat walafiat. Masih ada karya-karya yang akan hadir dari jemarinya yang menari di atas papan ketik dan tetikus.

Ini boleh jadi prematur. Walhasil, setelah melewati lebih dari lima puluh halaman Selfie, di luar dari tulisan-tulisan Neni yang sebelumnya pernah saya baca namun hadir lagi di buku ini, saya menemukan sensasi informasi tentang Kota Palu yang disajikan dengan keintiman ala pendekatan subaltern. Kisah beserta refleksi tentang sebuah kota memang tidak harus selalu lahir dari atas. Kita membutuhkan riwayat dari sisi yang berbeda agar pemahaman kita tentang suatu realitas tidak terreduksi. Lewat Selfie, Neni Muhidin mengajak kita untuk tidak menjadi pribadi reduksionis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *