Belajar Teknik Wawancara (Sejarah) dari Kevin W. Fogg

wawancara-kevin-foggTidak seperti biasanya, ibu dari dua anak itu harus bergegas meninggalkan pesta pernikahan anak salah seorang kerabatnya yang dihelat di Aula al-Muhsinin. Hanya lima belas menit, dan ia segera kembali ke rumahnya demi janji untuk diwawancarai oleh Kevin W. Fogg (Senin, 14/11). Ketika saya menanyakan perihal alasannya mengorbankan pesta pernikahan di atas demi meladeni kepentingan sejarawan Universitas Oxford tadi, jawabannya enteng. Ia menganggap Kevin sebagai tamu. Tidak ada curiga, apalagi sentimen anti Barat.

Pukul delapan malam lebih lima menit, ditemani Yahya, Kevin tiba di kediaman Hapsah S. Pattah. Oleh perempuan yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjan) Wanita Islam Alkhairaat (WIA) ini saya diminta turut menyambut di depan rumah. Mengingat pengetahuan saya perihal teknik wawancara penelitian selama ini hanya bersumber dari buku, inilah kesempatan saya menimba pengetahuan: mangamati secara langsung bagaimana peneliti luar negeri melakukan wawancara sebagai bagian dari metode pengumpulan data.

Sebelum duduk di ruang tamu, dosen di Universitas Oxford itu lebih dulu memberikan buah tangan Ahmad Tea yang ia bawa dari London. Katanya, buah tangan yang ia bawa tersebut merupakan salah satu tanda kedekatan budaya antara tempat asalnya dengan Indonesia. Selain sekotak teh London, masih ada dua hal lain yang ia sertakan, yakni kartu nama dan brosur Universitas Oxford dalam bahasa Inggris berornamen kaligrafi Arab pada bagian sampulnya.

Seperti yang lazim kita lakukan di setiap kesempatan tatap muka dengan orang yang baru kita kenal, Kevin terlebih dulu memperkenalkan latar belakangnya: sejarawan Oxford asli Amerika yang kini sedang menulis buku tentang tiga organisasi Islam di luar Pulau Jawa, yaitu al-Washliyyah di Sumatera Utara, Nahdlatul Wathan di Nusa Tenggara Barat, dan Alkhairaat di Sulawesi Tengah. Tidak lupa, ia menyebutkan nama orang yang memberikan rekomendasi hingga ia menemui narasumbernya kali ini. Setelah semua prolog itu, tiba saatnya Kevin masuk ke inti wawancara.

Pada bagian awal, ia menanyakan sisi personal dari narasumber, seperti nama, tempat lahir dan tahunnya, serta latar belakang dan hubungan antara narasumber dengan subyek penelitiannya di Sulawesi Tengah, terutama Alkhairaat dan WIA sebagai badan otonom. Tidak lupa, di sini ia memastikan bahwa nama narasumber telah ditulis dengan ejaan yang benar. Dengan huruf P untuk Pattah. Bukan dengan F.

Pernyataan-pernyataan Kevin berikutnya berkutat di seputar WIA. Perihal sejarahnya, karakteristik serta dinamika hubungannya dengan Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, lingkup kegiatan WIA, perkembangan jumlah cabang dari tahun ke tahun, modernitas dan pemanfaatan teknologi informasi, respon WIA terhadap realitas politik lokal dan nasional, serta tanggapan WIA terhadap isu-isu keterlibatan perempuan di ruang publik, kesetaraan jender, dan poligami.

Sembari mengamati teknik wawancara yang dipraktikkan oleh Kevin W. Fogg, tentu saja, saya menimba banyak wawasan baru tentang WIA dan organisasi Islam berbasis perempuan di Tanah Air. Salah satunya adalah di saat Kevin mengkomparasi sekaligus mengkonfirmasi hasil pengamatannya di beberapa ormas Islam perempuan di sejumlah wilayah, dimana perempuan-perempuan yang menjabat sebagai pengurus inti memiliki suami yang juga, di saat yang sama, menjabat sebagai pengurus di level induk organisasi. Pada titik ini, saya teringat pada Ketua ‘Aisyiah saat ini yang juga istri dari Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Dari wawancara Kevin terungkap bahwa, berbeda dengan ‘Aisyiah atau ormas-ormas perempuan lainnya, para pejabat di struktur kepengarusan WIA seringkali tidak paralel dengan jabatan suaminya di level induk organisasi. Dengan kata lain, ketua WIA, baik di pusat maupun di cabang-cabangnya, tidak harus berasal dari lingkaran istri ketua atau pengurus inti di level PB atau cabang Alkhairaat.

Dari sisi teknis, berdasarkan yang saya amati, Kevin tampak mengacu pada teknik wawancana tidak terstuktur. Saya tidak melihat kertas berisi panduan wawancara atau daftar pertanyaan di tangannya. Wawancara dilakukan dengan modal ponsel yang berfungsi sebagai alat perekam serta sebuah buku kecil tempat ia mencatat kata kunci dari jawaban yang ia terima. Pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan merupakan pengembangan dari kata kunci tersebut. Meski tidak menggunakan panduan, ini tidak berarti wawancara lantas kehilangan arah. Sebaliknya, Kevin tampak sudah sangat siap dan tahu persis perihal apa yang ingin ia gali dari seorang narasumber. Hal ini saya simpulkan setelah memperhatikan benang merah dari tema wawancaranya yang menaruh penekanan di seputar sejarah gerakan keagamaan dalam kaitannya dengan dinamika sosial (politik, jender, ruang publik, dan sejenisnya) yang telah menjadi ciri khas kajian-kajian di Barat tentang keislaman di Indonesia belakangan ini. Tampak jelas dari wawancaranya dimana Kevin berupaya menemukan patahan (rupture) di dalam klaim linearitas sejarah Alkhairaat dan WIA yang, pada kelanjutannya, membentuk sebuah diskursus; suatu cara kerja yang segera menggiring ingatan saya pada model-model analisis sejarah sinkronis dan diakronis dalam uraian Kuntowijoyo serta doktrin keniscayaan dialog antara sejarah dan teori-teori sosial sebagaimana yang digariskan oleh Peter Burke.

Satu setengah jam terlewati tanpa terasa. Saya menduga, beberapa bagian data hasil wawancaranya di atas akan sangat berguna bagi Kevin dalam menarasikan sejarah organisasi-organisasi Islam di luar Jawa. Tentu saja, saya tidak sabar membaca buku hasil penelitian itu. Dan, walakhir, semoga buku karya Kevin kelak menyenangkan ketika dibaca, seperti halnya buku sejarah karya Michael Laffan, Sejarah Islam di Nusantara, yang bisa saya khatamkan dalam waktu kurang dari seminggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *