Menengok Imam al-Nawawi di Syiria

Haruslah setiap umat Islam merasa pilu melihat konflik di Syiria yang tak kunjung reda antara Bashar al-Assad dengan kelompok oposisi. Apa sejatinya sebab yang membuat pertikaian ini tak kunjung reda, hanya Allah yang tahu. Yang pasti, ketika konflik horizontal pecah, terutama di Syiria, banyak khazanah kesarjanaan klasik peninggalan Dinasti Umayyah yang terkubur bersamanya. Terlupakan. Satu di antara yang terkubur di bawah puing-puing konflik Syiria adalah nama besar Imam al-Nawawi.

Imam al-Nawawi adalah salah seorang ulama Islam terkemuka yang memiliki kepakaran di berbagai bidang studi Islam dengan spesialisasi di bidang fikih mazhab al-Syafi’i dan hadis. Sebagai contoh, salah satu karyanya, al-Minhaj liSyarh Sahih Muslim (penjelasan hadis-hadis sahih dalam literatur karya Imam Muslim), dianggap oleh banyak ahli sebagai satu di antara sekian karya monumental di bidang hadis.

Al-Nawawi dilahirkan di kota Damaskus, Syiria, pada tanggal 10 Muharram 631 H. dengan nama asli Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husayn, atau lebih dikenal dengan sebutan Muhyiddin Abu Zakariya al-Nawawi.

Di masa kanak, ia tumbuh dan berkembang laiknya anak-anak pada umumnya: bersekolah (agama) dan bermain. Pengetahuan agamanya dimulai sejak dari rumah di bawah bimbingan ayahnya. Ini berjalan hingga di usia 19 tahun, di mana al-Nawawi kemudian kedaftarkan oleh ayahnya sebagai murid di Madrasah al-Rawahiyyah. Di madrasah ini, al-Nawawi berguru kepada banyak ahli dalam berbagai bidang kajian Islam, salah satunya adalah Taqi al-Din Ibn Salah, ulama yang sering dianggap sebagai yang pertama kali mensistematisasi ‘ulum al-hadis.

Di usia yang ke-20, bersama ayahnya, al-Nawawi melakukan perjalanan ke Makah guna melaksanakan ibadah haji. Ia sempat didera demam dalam perjalanan menuju Tanah Suci, namun kendala ini tidak menghalanginya untuk menyelesaikan semua ritual haji. Setelah melaksanakan ibadah haji, ia pun kembali ke Damaskus untuk mendalami ilmu-ilmu agama, mengajar, dan menulis buku-buku keagamaan. Menurut catatan, di masa hidupnya yang relatif singkat, al-Nawawi menulis 43 karya dari berbagai bidang kajian, seperti akidah, fikih, ilmu Alquran, hadis dan ilmu hadis, tasawuf, dan sejarah.

Hingga saat ini karya-karya al-Nawawi masih menjadi bacaan populer di kalangan muslim-sunni di berbagai negeri, termasuk di Indonesia. Di sejumlah pesantren di Tanah Air, karya al-Nawawi, seperti al-Minhaj fi Syarh Muslimal-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’anRiyad al-Salihinal-Azkaral-Arba’in al-Nawawiyyah, dan Minhaj al-Talibin, masih menjadi referensi wajib bagi tiap santri yang ingin menimba ilmu agama. Sekedar informasi tambahan, terjemahan Minhaj al-Talibin dalam bahasa Prancis dilakukan di Indonesia pada paruh terakhir abad ke-19 oleh salah seorang orientalis yang lama mukim di Indonesia, L.W.C. van den Berg.

Al-Nawawi wafat di kota kelahirannya pada 676 H. atau di usia 35 tahun, karena sakit. Sayang sekali, ia belum lagi sempat menikah.

 

Referensi:

Ahmad Hasan Jabir Rajab, al-Ta’rif bi al-Imam al-Nawawi, dalam ‘Ala’ al-Din bin al-‘Atar (peny.), Fatawa al-Imam al-Nawawi (Kairo: Hadiyah Majallah al-Azhar, 1411 H.), h. jim-sin.

L.W.C. van den Berg, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, terj. Rahayu Hidayat (Jakarta: INIS, 1989).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *