Ibn Khaldun dan Almaany.com

Sampul Muqaddimah karya Ibn Khaldun dalam bahasa Inggirs (Foto: businessinsider.com)

Persentuhan saya dengan Muqaddimah karya Ibn Khaldun (1332-1406 M.) untuk pertama kali terjadi ketika saya duduk di bangku kuliah S1 di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kala itu, yang saya baca adalah edisi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Tidak banyak yang saya ingat dari bacaan saat itu kecuali kritik yang dilontarkan Ibn Khaldun kepada al-Thabari ketika menafsirkan ayat Irama dzat al-‘imad (Q.S. al-Fajr [89]: 7). Kini, ketika saya diminta untuk mengampu mata kuliah Kajian Kitab Klasik di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), IAIN Palu, saya kembali mendatangi Muqaddimah, karena satu alasan yang bisa kita perdebatkan: Ibn Khaldun adalah tokoh pencetus sosiologi, bukan Auguste Comte. Tidak seperti belasan tahun yang lalu, kali ini saya memilih Muqaddimah dalam bahasa Arab.

Membaca Muqaddimah dalam bahasa aslinya, bagi saya, bukan perkara mudah. Gaya bahasanya tidak identik dengan teks-teks Arab klasik yang ditulis dalam bahasa dan gaya narasi keilmuan Arab-Islam di era pembentukan tradisi kesarjaan Muslim antara abad k-2 hingga ke-5 Hijriah. Perbedaan gaya narasi ini boleh jadi disebabkan oleh dua hal: Pertama, latar belakang pendidikan Ibn Khaldun yang lahir dari tradisi kesarjanaan Muslim di Kordoba, Spanyol, dimana tradisi ini tidak lazim bagi pengkaji Islam di Tanah Air yang lebih sering berinteraksi dengan karya-karya kesarjanaan warisan era Dinasti ‘Abbasiyah di Timur Tengah.
Kedua, Ibn Khaldun, yang hidup pada era ambruknya tradisi kesarjaan Muslim di abad ke-14 Masehi, tampak masih mewarisi kecanggihan yang khas dari para sarjana terkemuka Islam sebelumnya yang menyandingkan nilai-nilai Islam dengan warisan kesarjanaan Barat (baca: Yunani) tanpa beban teologis. Berdasarkan pengalaman saya, membaca Muqaddimah sama rumitnya dengan mencerna narasi polemik di bidang filsafat karya Ibn Ruysd (1126-1198 M.), Tahafut al-Tahafut.
Oleh kesukarannya, saya menemukan bahwa kamus bahasa Arab-Indonesia, seperti Kamus Al-Munawwir, tidak banyak membantu untuk mengurai maksud dari sejumlah terminologi kunci yang diajukan oleh Khaldun di dalam Muqaddimah. Dua terminologi kunci, yakni al-badwi dan al-hadhar, yang menjadi dasar tesis Ibn Khaldun tentang proses pembentukan peradaban (al-‘umran), akan sulit diterjemahkan secara pas bila hanya mengandalkan kamus tersebut.
Alhamdulillah, berkat internet, saya terbantu oleh Almaany.com, kamus bahasa Arab daring berbasis situs dan aplikasi ponsel. Dengan aplikasi ini, kita cukup mengetikkan kosakata Arab yang membuat penasaran, lalu menentukan opsi terjemahan yang kita inginkan. Almaany.com memungkinkan kita untuk memilih hasil terjemahan dalam beberapa bahasa, seperti Inggris, Prancis, Portugis, Spanyol, Jerman, Turki, Persia, dan Indonesia. Dalam kasus penerjemahan al-badwi dan al-hadhar, saya memilih opsi terjemahan dari bahasa Arab ke Inggris. Hasilnya, al-badwi memiliki tiga arti: bedouin, nomad, dan nomadic. Tawaran terjemahan ini lebih baik ketimbang versi Kamus Al-Munawwir yang hanya menyantumkan satu arti untuk al-badwi, yakni “mengenai/seorang baduwi”.
Mengingat Muqaddimah adalah teks sosiologi yang coba saya perkenalkan kepada para mahasiswa Jurusan PMI, maka terjemahan yang kena untuk al-badwi adalah masyarakat nomad atau nomaden. Dari sini, saya merasa tidak perlu lagi mencari tahu arti yang pas untuk kata al-hadhar, karena konsep mukabalah dari nomaden dalam diskursus sosiologi adalah sedenter. Masyarakat, tulis Ibn Khaldun, nomaden pada awalnya. Karena membutuhkan makanan dalam jangka panjang, mereka berkumpul, membentuk komunitas. Perlahan, dari makanan, kebutuhan mereka berkembang hingga menjadi masyarakat sedenter yang membentuk peradaban.
Sampai pada kesimpulan tersebut, saya tak kuasa menghindari pesona intelektual Ibn Khaldun. Saya mafhum, sebagai follower Ibn Khaldun, saya tidak sendiri. Sebelum saya, ada Mark Zuckerberg yang mempropagandakan Muqaddimah sebagai karya penting untuk kita baca; sebelum saya, ada Robert Irwin dan Akbar Ahmed yang menulis artikel akademik terkait Ibn Khaldun; dan sebelum saya, ada Arnold Toynbee yang menyusun magnum opus-nya, A Study of History, berdasarkan kaidah yang digariskan oleh Ibn Khaldun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *