Akikah: Dari Arab ke Indonesia

Meski bukan perkara wajib atau fardu, hampir semua anak umat Islam, untuk tidak mengatakan seluruhnya, melewati ritual satu ini: akikah. Naam, tetapi, yang pertama perlu kita digarisbawahi di sini: bahwa akikah sudah diserap dan menjadi kosakata resmi bahasa Indonesia. Olehnya, tidak perlu lagi ditulis aqiqahatau aqiqoh.

Karena sifat hukumnya yang tidak wajib, namun dilakukan oleh hampir seluruh orang tua muslim kepada anak mereka yang baru lahir, akikah menjadi sebuah fenomena yang tidak lazim. Mungkin, fenomena ini sama dengan salat Idul Fitri: tidak wajib, tetapi boleh jadi ada muslim yang merasa berdosa jika tidak menjalankannya. Dan, ini tidak sama dengan salat sunah tahajud yang, meski punya keistimewaan luar biasa, sangat jarang orang yang melakukannya.

Meski mayoritas pakar hukum Islam berpendapat bahwa akikah berstatus hukum sunah, berdasarkan keterangan Ibnu Rusyd dalam bukunya, Bidayat al-Mujathid wa Nihayat al-Muqtashid, mazhab al-Zhahiriyyah menganggap akikah wajib. Sedangkan Imam Abu Hanifah (mazhab Hanafi) berpendapat bahwa akikah bukan ritual wajib dan bukan pula sunah.

Kata akikah dalam bahasa Arab (al-‘aqiqah [العقيقة]) berasal dari kosakata ‘aqqa (عق) yang sinonim dengan kata qatha’a (قطع) yang berati memotong. Kata ini (‘aqqa) biasa digunakan dalam konteks pemotongan rambut bayi yang baru lahir. Oleh karena itu, rambut bayi yang sudah tumbuh sejak masih di dalam rahim ibunya disebut al-‘aqiqah(العقيقة). Dalam perkembangan berikutnya, karena setiap anak yang baru lahir disyukuri kehadirannya dengan penyembelihan hewan kurban, di mana yang paling umum adalah kambing, maka kambing tersebut, oleh orang Arab, juga disebut al-‘aqiqah. Demikian sekelumit derivasi kata ‘aqiqah di kalangan penutur asli Arab, sebelum diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan pengertian, seperti yang disebut dalam Kamus Bahasa Indonesia, yakni upacara (selamatan) memangkas rambut bayi dengan menyembelih hewan, seperti kambing atau lembu.

Mengingat akikah adalah ritual dalam syariat Islam, maka sudah sepatutnya pengertiannya tidak didasarkan pada Kamus Bahasa Indonesia. Nah, jika mengacu pada hadis Nabi Muhammad saw., pada prinsipnya, hanya ada tiga hal yang dilakukan dalam ritual akikah. Pertama, penyembelihan hewan kurban di hari ketujuh sejak kelahiran bayi;kedua, pemotongan rambut; dan ketiga, pemberian nama kepada bayi tersebut.

Bunyi lengkap hadis yang saya maksud, adalah:

الغلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه في اليوم السابع و يحلق رأسه و يسمي

Terjemahan transkerasi untuk teks hadis di atas: “Setiap anak tergadai. Pada hari ketujuh disembelihkan untuknya hewan kurban, dicukur rambutnya, lalu diberi ia nama.”

Dalam perkembangannya, khususnya di Indonesia, pelaksanaan akikah biasa dibarengi dengan mengundang kerabat dan tetangga untuk bersama-sama melagukan berzanji, mendengar cemarah ringkas dari ustad yang telah ditunjuk oleh keluarga pemilik hajat, dan ditutup dengan menikmati sajian aneka jenis masakan kambing akikah bersama seluruh peserta undangan.

Meski ritual akikah ala Indonesia itu tak diatur oleh Nabi saw., tidak perlu terburu-buru mengatainya sebagai bidah atau, bahkan, perilaku kaum kafir. Ada baiknya jika kita senantiasa mengedepankan prasangka baik pada setiap persoalan yang tidak diatur secara rinci oleh Nabi. Untuk pembacaan berzanji di upacara akikah, misalnya, akan elok jika hal ini dilihat sebagai bentuk harapan dari kedua orang tua agar anak yang baru lahir memiliki perangai baik dengan menjadikan Nabi saw. sebagai panutannya. Sedangkan undangan kepada tetangga dan kerabat sebaiknya dilihat sebagai suatu bentuk ajakan menikmati karunia Tuhan bersama-sama. Andai tak ingin melibatkan kerabat dan tetangga, Imam al-Syafi’i menganjurkan agar daging kambing hasil sembelihan dimasak lantas dibagikan kepada fakir miskin dengan disertai niat sedekah.

 

NB.

Tulisan ringkas ini saya susun berdasarkan bacaan pembahasan akikah di empat sumber berikut:

Muhammad bin Idris al-Syafi’i (150-204), al-Umm, Juz III.

Taqi al-Din b. Abu Bakr b. Muhammad al-Husayni, Kifayat al-Akhyar fi Hall Ghayat al-Ikhtishar.

Muhammad b. Ahmad Ibn Rusyd al-Andalusi, Syarh Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, Juz III.

Ibn Manzhur, Lisan al-‘Arab, Jilid VI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *