Berpikir Tertib dan Bang Haji Rhoma

Foto Rhoma IramaTidak seharusnya buku ini dijual murah di pameran buku berskala nasional yang saban tahun di gelar berkali-kali di Yogyakarta. Bukan karena nama besar penulisnya di jagat filsafat di Tanah Air, tetapi lebih karena isi buku ini yang baik dan menyehatkan. Tetapi, apa boleh buat, demikianlah faktanya. BukuBerfilsafat dari Konteks karya Franz Magnis-Suseno ini saya beli di pameran buku beberapa tahun lalu dengan harga murah.

Buku ini memang sudah lama terbit. Yang ada di tangan saya adalah terbitan tahun 1999. Dan, saya tidak tahu pasti apakah buku ini masih diterbitkan atau tidak oleh penerbitnya, PT. Gramedia Pustaka Utama. Walhasil, seperti yang saya sebut tadi, buku ini baik dan menyehatkan. Apakah filsafat bisa menyehatkan? Tentu saja. Karena filsafat, seperti yang disebut oleh Magniz, melatih setiap orang untuk berpikir tertib, sistematis, rasional, dan ilmiah. Di luar filsafat, data ilmiah menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh orang sakit seringkali disebabkan oleh pikirannya. Bila berpikir kita tertib dengan bekal pengetahuan filsafat yang baik, marilah berharap: semoga kita tak termasuk di antara orang-orang yang sakit karena pikiran.

Demikianlah fungsi filsafat menurut Magniz. Ia tidak sama dengan teologi agama. Jika teologi lebih didasarkan pada kebenaran yang didukung keberadaan wahyu, filsafat lebih menitikberatkan pada akal. Namun, mengingat teologi tidak menafi peran akal, maka filsafat pun bisa bergandengtangan dengan teologi di tingkat pengertian yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, tidak ada alasan mempertentangkan teologi dan filsafat, karena filsafat mengarahkan proses berpikir dengan metode dan pendekatan berlimpah agar tertib dalam merumuskan makna wahyu yang pas dengan problem umat beragama saat ini.

Naam, tidak semua problem kontemporer dibahas dalam Kitab Suci. Soal donor darah, misalnya, tidak ada pembahasan langsung perihal ini di dalam Kitab Suci. Meski begitu, ketiadaaan ini bukan berarti agama tidak mampu memberikan jawaban. Dalam bukunya,Di Bawah Bendera Revolusi, Sukarno sudah mencontohkan bagaimana etika universal dalam filsafat bisa menjadi pintu masuk bagi agamawan di Indonesia guna memberikan jawaban terhadap problem kontemporer tanpa merusak bangunan struktur wahyu Alquran.

Sayang sekali, tidak banyak ustad, kiai, pastor, pendeta, biksu, yang menyadari manfaat filsafat bagi diri mereka sendiri dalam berinteraksi dengan umat, khususnya dalam kapasitas mereka sebagai “juru bicara Tuhan”. Padahal, seperti yang disebut oleh Ibn Rusyd dalam bukunya, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, teks wahyu telah selesai sedangkan realitas terus berkembang. Bagaimana menghubungkan “yang telah selesai” dengan “yang terus berkembang”, di sinilah filsafat berperan.

Karena para agamawan di negeri ini tak dibekali pengetahuan filsafat yang cukup, kita, para umat yang membutuhkan petunjuk dari mereka, justru disuguhkan pemandangan rumit-njelimet di sekitar pernyataan dan perilaku agamawan Indonesia yang lucu luar biasa; suatu kelucuan yang didasari tindakan reaksioner terhadap fenomena sosial berkat pola berpikir yang tak tertib.

Yang terbaru, silakan tengok bagaimana reaksi para ulama terkait isu pencalonan Bang Haji Rhoma Irama sabagai Presiden RI di 2014 nanti. Para agamawan itu seolah tak belajar pada “tanda-tanda zaman” dari berbagai survei dan fakta sosial-politik di negeri ini, seperti kemenangan pasangan Jokowi-Ahok di Pemilukada DKI Jakarta beberapa waktu lalu, meski lawannya, pasangan Foke-Nara didukung kuat oleh para barisan ulama, ustad, dan kiai. Mereka, para agamawan itu, terbuai oleh tafsir imajiner mereka terhadap teks-teks wahyu di sekitar keniscayaan dukungan kepada pemimpin yang berasal dari keyakinan yang sama. Mereka alpa bertanya terlebih dahulu secara prinsipal-filosofis: pemimpin yang bagaimana sesungguhnya yang dimaksudkan oleh wahyu.

Andai agamawan itu mengajukan pertanyaan filosofis disertai dengan perenungan mendalam terhadap fakta sejarah di sekitar kepemimpinan Nabi Muhammad yang sangat tidak elitis atau tentang Khalifah Umar bin al-Khattab yang rela tidur di bawah pohon kurma, sebisanya menghindari fasilitas negara, dan membela hak minoritas Yahudi, pastilah agamawan kita akan mafhum bahwa anjuran wahyu untuk mendukung pemimpin seiman harus diberi catatan penjelasan tambahan.

Anjuran wahyu agar muslim memilih pemimpin yang seiman memang tidak bisa dihapus. Akan tetapi, sikap mendukung pemimpin yang tidak didasarkan pada pertimbangan nalar yang tertib, apalagi hanya berdasar pada jumlah penonton yang selalu membludak di setiap konser Soneta pimpinan Bang Haji Rhoma, jelas merupakan pilihan yang… TERLALU!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *