Problem Historiografi Islam di Sulawesi Tengah

Banyak ahli sejarah yang menekankan pentingnya penulisan sejarah atau historiografi. Rumusnya sederhana: sejarah harus ditulis agar dapat dibaca oleh generasi berikutnya, dan mereka bisa mengambil hikmah darinya. Kini, hampir semua tradisi di dunia memiliki catatan sejarahnya. Kadangkala sejarah tersebut mencakup keseluruhan aspek kebudayaan dan peradaban, namun adapula yang terfokus pada momentum tertentu.

Pada awalnya, sejarah memang ditransmisikan secara lisan (oral transmission). Akan tetapi, seiring bergulirnya waktu, para pelaku sejarah menyadari bahwa sejarah harus ditulis guna menghindari adanya distorsi informasi masa lampau yang dilakukan secara sengaja oleh pihak-pihak tertentu demi kepentingan pribadi maupun golongan.

Sejarah Nabi Muhammad, misalnya, pada mulanya ditransmisikan secara lisan berdasarkan ingatan para sahabatnya. Namun, mengingat cara ini memunculkan banyak kesalahpahaman dan maraknya peredaran hadis palsu, para juru dakwah Islam masa awal kemudian menuliskan sejarah nabi dalam beragam bentuk literatur, mulai dari shahifah, mushshannaf, musnad, hingga kitab-kitab shahih. Dari sini, khazanah Islam kemudian melahirkan para ahli sejarah kelas dunia, seperti Ibnu Hisyam, al-Thabari, dan Ibnu Khaldun. Tokoh terakhir ini, lewat karyanya, Muqaddimah, bahkan dianggap sebagai tokoh pencetus tradisi penulisan sejarah kritis dengan memanfaatkan ilmu-ilmu non-sejarah, seperti geografi, politik, ekonomi, etnologi, astronomi dan meteorologi, sosiologi, sastra, filsafat, dan agama; sesuatu yang pada masanya belum dikenal dalam tradisi penulisan sejarah di Barat. Uniknya, jika penulisan sejarah atau historiografi sudah dikenal sejak awal perkembangan Islam, masyarakat muslim di Sulawesi Tengah tampaknya belum menyadari betul akan arti penting historiografi.

Paling kurang terdapat dua faktor yang menyebabkan hal ini. Pertama, faktor budaya. Kebudayaan Sulawesi Tengah bisa jadi termasuk dalam pengecualian sejarah mengingat kebudayaannya yang relatif tidak bertumpu pada tulisan. Pengecualian ini, pada kelanjutannya, tampak mempengaruhi historiografi masuknya Islam di kawasan Sulawesi Tengah, sehingga kesadaran terhadap historiografi Islam di wilayah ini muncul sangat terlambat, yakni pada dekade terakhir kekuasaan rezim Orde Baru. Keterlambatan inilah yang selanjutnya memunculkan faktor kedua, yaitu diskontunuitas atau keterputusan sejarah.

Seperti yang lazim diketahui, meski kaidah sejarah tidak mengharamkan historiografi tentang suatu momen tertentu, sejarah menuntut adanya deskripsi fenomena yang terus-menerus, berkelanjutan, dan sesuai dengan urutan tahun. Dalam ilmu sejarah, hal ini biasa dikenal dengan istilah long-term structure. Hanya dengan ini, sejarah akan mampu menghadirkan pemahaman paripurna terhadap gejala masa lampau dan pengaruhnya terhadap gejala yang ada di masa kini. Sayangnya, long-term structure ini justru belum tampak dalam historiografi tentang Islam di Sulawesi Tengah.

Jika melihat pada sumber-sumber sejarah tentang Islam di Sulawesi Tengah, pada umumnya, laporan-laporan sejarah tentang perkembangan Islam hanya berkutat pada aktifitas dua juru dakwah, yaitu Datokarama dan Guru Tua. Celakanya, sumber sejarah yang ditulis tentang kedua tokoh ini ternyata tidak berbanding lurus. Tidak seperti Guru Tua, di mana telah banyak sumber dari beragam perspektif yang mengulas tentang sejarahnya, publikasi mengenai sejarah Datokarama tampak sangat minim sehingga wajar bila sangat sedikit di antara kita yang mengetahui bahwa Datokarama, yang nama aslinya adalah Abdullah Raqie, datang dari Minangkabau pada tahun yang nyaris bersamaan dengan kedatangan Datuk Ribandang di Sulawesi Selatan pada tahun 1603 M.

Problem diskontinuitas sejarah dalam historiografi Islam di Sulawesi Tengah semakin jelas terlihat khususnya jika kita memperhatikan selisih tahun kedatangan antara Datokarama dan Guru Tua yang terpaut lebih dari tiga abad. Dari selisih ini, dan mengingat tidak adanya sumber sejarah mendalam mengenai perkembangan Islam pada masa di antara kedua tokoh tersebut, muncul hipotesis di sekitar kita bahwa perkembangan Islam di Sulawesi Tengah mengalami kevakuman pasca Datokarama, di mana kevakuman ini baru berakhir saat kedatangan Guru Tua di tahun 1929.

Hipotesis terkait kevakuman sejarah di atas jelas tidak didasarkan pada argumentasi yang kuat. Kerajaan Sojol, misalnya, telah memeluk Islam sebelum kedatangan Guru Tua. Dalam bukunya, Sojol Melawan Belanda, Sofjan B. Kambay bahkan mencatat bahwa Raja Sojol, Ologian Kaleolangi, adalah seorang muslim yang taat, yang menjadikan syariat Islam sebagai undang-undang kerajaannya sekaligus media untuk mengobarkan semangat melawan imperialisme kolonial dalam peperangan di tahun 1903-1905. Dari mana Ologian Kaleolangi mengenal Islam? Tentu hal ini tidak datang dengan sendirinya. Ada mata rantai transmisi gagasan (chain of transmission) ajaran Islam yang belum terurai di sana.

Demikian juga dengan anak Ologian Kaleolangi, Singalam, merupakan juru dakwah yang aktif menyebarkan ajaran Islam di kawasan Tinombo dan sekitarnya. Konon, ia memperdalam ajaran Islam, khususnya tasawuf, dari Syaikh Ibrahmin di Sibolga, Sumatera Utara, ketika menjalani masa pengasingan selama 14 tahun. Tetapi, sejauh apa dampak dari pengaruh tasawuf ajaran Syaikh Ibrahim bagi masyarakat muslim di Kecamatan Sojol dan di tengah masyarakat suku Lauje di Tinombo, belum ada literatur yang mengetengahkan hal tersebut.

Jika memperhatikan realitas sosial, budaya, dan agama di sekitar, kita akan menemukan bahwa perkembang Islam di Sulawesi Tengah pada dasarnya sangat kompleks mengingat di tiap-tiap wilayah mempunyai figur juru dakwahnya masing-masing, seperti Kai Mosongko di Tomini, Datuk Mangaji di Parigi, Lasadindi di Toaya, serta Haji Asap di tengah komunitas suku Bugis di daerah Pantai Barat.

Di sini, kiranya kita patut menggarisbawahi bahwa hingga saat ini belum ada catatan sejarah mendalam terkait tokoh-tokoh di atas. Padahal, historiografi mengenai tokoh-tokoh di atas sangat penting bagi kita untuk menghadirkan wawasan sejarah Islam dalam skala global dan lokal secara paripurna (total history), yang objektif dan jauh dari mitos.

—————–

Catatan: tulisan ini merupakan opini saya yang dimuat di harian Radar Sulteng edisi Jumat, 12 Juni 2009. Ya, anggap saja ini sebagai upaya menambah entri “Sejarah Islam di Sulawesi Tengah” di mesin pencari Google.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *