Ideologi Wahhabi dan Terorisme Islam

Buku - WahhabismeBaru-baru ini, berita penangkapan sejumlah teroris oleh Densus 88 di berbagai kota di Indonesia memecah perhatian masyarakat terhadap perkembangan kasus korupsi daging sapi yang tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan, naam, sudah menjadi hal lazim di negeri ini, ketika kata teroris disebut, maka asosiasi pembaca serta-merta tertuju pada kelompok Islam tertentu.

Kelompok Islam yang lebih tepat, paling kurang menurut Khaled Abou El Fadl, disebut kelompok puritan ini memang eksis di tengah-tengah kita. Meski demikian, tidak cukup banyak di antara kita yang mengetahui asal-usul konstruksi pemikiran kelompok Islam yang satu ini. Ada dua tesis yang diajukan oleh para peneliti teroris Islam (saya lebih senang menyebut teroris Islam, karena ideologi teror, sesungguhnya, bisa eksis di setiap agama) terkait konstruksi berpikir kelompok ini dalam melaksanakan aksinya. Pertama, bahwa pemikiran teror berhubungan erat dengan pemikiran aktifis muslim Mesir, Sayyid Qutb, terutama yang tertuang dalam bukunya, Ma’alim fi al-Thariq. Pendapat ini diajukan oleh Lawrence Wright dalam bukunya yang diberi penghargaan Pulitzer, Sejarah Teror: Jalan Panjang Menuju 11/9.

Kedua, pendapat yang mengemukakan bahwa terorisme Islam sejatinya memiliki akar kuat pada ideologi Wahhabi yang didirikan oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab yang lahir di Najd, yakni suatu daerah di Jazirah Arab daerah yang, kebetulan, juga merupakan daerah asal dari nabi palsu dalam sejarah Islam, Musaylimah si Pendusta (al-kadzdzab). Pendapat yang terakhir ini dapat kita baca di buku yang berjudul Selamatkan Islam dari Muslim Puritan karya pakar hukum Islam kontemporer, Khaled Abou El Fadl, dan buku karya Hamid Algar, Wahhabisme: Sebuah Tinjauan Kritis.

Tidak seperti El Fadl yang lebih banyak mengkritisi model penetapan hukum Islam ala kelompok Wahhabi yang terlampau menyederhanakan bangunan metodologi jurisprudensi Islam yang, sejatinya, sangat kompleks, Hamid Algar menyoroti fenomena Wahhabi dari aspek sosial dan politik sejak awal berdirinya hingga saat ini.

Oleh Algar, buku Wahhabisme dibagi ke dalam tiga bab pembahasan, di luar pendahuluan, kesimpulan, dan lampiran-lampiran. Tentu saja, sebagai suatu ideologi, pembicaraan terkait Wahhabi tidak bisa dilepaskan dari pendirinya. Di bagian ini, Algar tidak menyajikan profil Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab (1703-1791) dengan sederhana. Kepada pembacanya, Algar menyuguhkan informasi ‘Abd al-Wahhab berikut keterpengaruhannya dari sejumlah tokoh, karya-karyanya yang jauh dari bermutu serta lebih mirip catatan seorang pelajar, serta orientasinya yang sejak awal memang mengarah pada tindakan radikal, yakni pilihannya tidak segan-segan untuk memerangi sesama umat Islam, khususnya yang berbeda ideologi dengannya.

Setelah memperkenalkan profil ‘Abd al-Wahhab, di bab berikutnya, Algar mendeskripsikan penjelasan dari tiga doktrin inti Wahhabi, yaitu tawhid al-rububiyyahal-asma’ wa al-shifat, dan tawhid al-‘ibadah. Ketiga doktrin inilah yang menjadi titik tekan Wahhabi yang sekaligus juga memisahkan mereka dengan komunitas muslim mayoritas di dunia. Dari sini, pembaca buku Algar akan mengerti mengapa kelompok Wahhabi sangat mudah menuduh muslim yang lain sebagai pelaku bidah dan kafir hingga layak diperangi. Menurut Algar, kelemahan dari doktrin Wahhabi adalah ketidakmampuan mereka untuk menalar secara jernih dengan membedakan antara sarana dan tujuan. Tentu saja, sarana dan tujuan tidak sama. Ibaratnya, gelas adalah sarana untuk menikmati kopi yang menjadi tujuan penikmat kopi. Oleh karenanya, adalah rancu menyamakan gelas dan kopi. Kita bisa meminum kopi, tetapi tidak gelasnya.

Oleh dukungan dana yang kuat dari Kerajaan Saudi dan kampanye masif, kini, Wahhabi telah bersalin rupa menjadi gerakan internasional. Dan, isu inilah yang diketengahkan oleh Algar pada satu bab sebelum Kesimpulan. Di bagian ini, Algar memetakan implikasi dari Wahhabi, seperti perbedaan antara gerakan Salafi dan Wahhabi serta bagaimana Ismail Raji al-Faruqi sukses menjadi juru bicara Wahhabi lewat cara menyadur ulang dan menyebarkannya dari Amerika Utara.

Membaca buku Wahhabisme karya Hamid Algar sangat bermanfaat, karena kemampuannya memperluas wawasan kita tentang Wahhabi serta hubungannya dengan gerakan terorisme Islam yang marak di Tanah Air dalam satu dasawarsa terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *