Menengok Hadis-Hadis Bermasalah

Buku-Hadis-Hadis_BermasalahSudah menjadi pengetahuan umum bahwa, di samping Alquran, umat Islam menyandarkan perilaku keagamaannya kepada hadis Nabi saw. Secara sederhana, yang dimaksud hadis adalah segala jenis laporan yang disandarkan (udhifa) kepada Nabi. Siapa yang menyandarkan laporan kepada Nabi? Ya, para Sahabat dan generasi sesudahnya bahkan hingga saat ini.

Ketika disebut “disandarkan”, maka kata ini meniscayakan adanya proses kepengarangan (authorship) berita tentang Nabi. Oleh sebab adanya proses kepengarangan, para ulama kemudian bersepakat: bahwa tidak semua hadis akurat dan sahih. Sebagai tindaklanjut dari kesepakatan ini, para ulama lantas menyusun Ulumul Hadis, yakni kompilasi metode-metode pengujian kualitas hadis, baik dari aspek rangkaian informan (sanad/isnad) atau dari aspek konten informasi tentang Nabi saw. (matan).

Tentu saja, tidak semua orang bertanggungjawab terhadap kualitas informasi yang disampaikannya. Bisa jadi, dengan dilandasi oleh keculasan hati, orang bisa bertindak tega: berdusta atas nama Nabi dengan sengaja mengarang cerita tentang beliau. Bisa jadi juga, ada orang yang, karena tidak tahu, menyebarkan informasi tentang Nabi, meski kualitas informasi tersebut ternyata palsu.

Hadis tentang anjuran menuntut ilmu hingga ke Cina, misalnya, setelah dilakukan uji sahih, ternyata tidak bersumber dari Nabi. Yang fatal, hadis ini justru telah menyebar dan sangat populer di kalangan umat Islam di Tanah Air. Kemarin (15/3/2013), di sela-sela ibadah salat Jumat, di Kota Palu, lagi-lagi, saya mendengar hadis ini dikutip oleh pengkhutbah.

Kiranya banyak sekali informasi populer yang disandarkan pada Nabi saw namun jauh dari akurat. Contoh lain yang bisa disebut di sini adalah hadis tentang anjuran bersikap sombong kepada orang yang sombong. Seperti yang disebut oleh Ali Mustafa Yaqub, hadis anjuran sombong ini sama sekali bukan hadis, melaikan sekedar ujaran populer yang, entah kapan dan oleh siapa, disandarkan kepada Nabi.

Demikianlah sekelumit contoh hadis-hadis palsu yang pupoler di tengah masyarakat. Karena hadis adalah informasi tentang Nabi, tentu akan lebih elok jika kita berhati-hati menyebarkan hadis. Kita bisa mengecek terlebih dahulu dengan bertanya kepada ahli hadis perihal kualitas suatu hadis sebelum didistribusikan. Ibarat makanan, hadis yang tidak memiliki kualitas sahih, bisa menjadi penyebab sakit di masyarakat. Di sinilah signifikansi buku tulisan Ali Mustafa Yaqub, Hadis-Hadis Bermasalah, menjadi baik untuk dibaca.

Dua contoh yang saya sebut di atas tadi hanyalah bagian kecil dari 32 hadis yang populer namun bermasalah, di mana semuanya dibahas di buku tersebut. Di sajikan dengan bahasa sederhana dengan sesekali berpijak pada kasus-kasus yang terjadi di tengah masyarakat muslim di Tanah Air, Yaqub menjelaskan kualitas hadis-hadis yang dibedahnya, baik dari aspek sanad maupun matannya. Dan, naam, walaupun masih menggunakan pola konvensional dalam tradisi kritik hadis, apa yang dilakukan oleh Ali Mustafa Yaqub di  buku ini pantas dijadikan bacaan yang dianjurkan bagi umat Islam pada umumnya, terutama bagi mereka yang gemar menyandarkan tindak-tanduk kesehariannya kepada apa yang dilakukan oleh Nabi saw, namun tidak memiliki kemampuan khusus dalam melakukan proses uji kesahihan hadis.

Walakhir, sebagai salah seorang ahli di bidang studi hadis di Indonesia, buku karya Ali Mustafa Yaqub di atas patut dinilai sebagai buku yang menyehatkan pembacanya. Ya, semua buku itu baik. Tetapi, tidak semua buku menyehatkan kita.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *