Jose Mourinho dan ‘Ali Radiallah ‘Anhu

Silakan sebut satu nama paling fenomenal sekaligus menyebalkan di jagat sepakbola saat ini. Sudah pasti, nama itu adalah: Jose Mourinho. Ya, pelatih klub Real Madrid berkebangsaan Portugal ini memang sarat kontroversi, seperti menunjuk dirinya sebagai seorang spesial. Ini membuatnya dinilai oleh banyak khalayak sebagai pribadi arogan, meski, di mata saya, itu tak lebih dari trik Mourinho untuk menyemangati dirinya sendiri.

Dengan mengaku diri sendiri sebagai seorang spesial, Mou, yang kala itu baru saja sukses mengantarkan FC Potro menjuarai Liga Champions, harus menuntut dirinya untuk bekerja keras, sekeras mungkin, untuk membuktikan: bahwa ia memang seorang yang spesial.

Dalam perjalanan karirnya, hingga saat ini, Mou berhasil lewat triknya itu. Tidak ada pelatih di muka bumi ini yang sesukses dirinya meraih juara di empat negara berbeda: Portugal, Inggris, Italia, dan Spanyol.

Belakangan, di samping sebagai pelatih, Mou dikenal sebagai motivator ulung. Tidak hanya kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada tiap pemain yang ada di tim asuhannya. Tidak ada satupun komentar miring dari setiap pemain yang pernah maupun yang sedang ia asuh. Semua menaruh respek padanya. Hingga beberapa waktu yang lalu, ketika Real Madrid akan menghadapi Ajax Amsterdam di ajang Liga Champions, sekali lagi, Mou membuktikan kepiawaiannya sebagai motivator handal. Kepada dirinya sendiri, dan setiap pemainnya, ia mempersiapkan segalanya seolah pertandingan yang akan ia lakoni adalah pertandingan terakhir dalam karirnya. Ia selalu melakukan itu. Dan, karena ia menganggap itu adalah pertandingan terakhir, ia berambisi untuk memenangkannya.

“I think there’s enough motivation and if you ask my players I’m sure they will all say they are looking forward to playing this match. I have the ambition to win – it has always been like that in my career and always will be. I will prepare as always – as if it is my last match,” tegas Mou, seperti yang dikutip situs UEFA.

Jelas saja, Mou bukan seorang muslim. Tak ada satupun indikasi yang memperlihatkan itu. Tetapi, dalam skala tertentu, apa yang dilakukan olehnya dengan melihat setiap pertandingan seolah pertandingan terakhir dalam karir kepelatihannya, sesungguhnya, memiliki kemiripan dengan salah satu aforisme motivasi versi Imam Ali radiallah anhu yang sudah lazim diikra oleh para ustad dan disimak oleh setiap umat muslim, yakni:

“Bekerjalah demi hal-hal di dunia seolah engkau akan hidup selamanya. Dan, bekerjalah untuk kepentingan kehidupanmu di akhirat seolah engkau akan wafat esok.”

Kemiripan antara aforisme Jose Mourinho dan Imam Ali terletak pada penggunaan kematian sebagai titik embarkasi alasan untuk berbuat sekuat tenaga. Perbedaannya: jika Imam Ali menggunakan kematian dalam kerangka kesalehan metafisik kehidupan manusia di akhirat, sedangkan Mourinho menggunakannya untuk sukses meraih mimpi di kehidupan dunia.

Jika memang Islam itu adalah agama yang memposisikan doktrinnya di wilayah moderat, yang menjaga keseimbangan orientasi dunia dan akhirat dengan sama baik, maka aforisme Mourinho dan Imam Ali tidak perlu dibenturkan. Sebaliknya, demi kepentingan hidup di dunia dan di akhirat, kedua versi di atas bisa digabung menjadi:
“Bekerjalah untuk kepentinganmu di dunia dan di akhirat seolah engkau akan mati besok.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *